PARADAPOS.COM - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat jumlah korban meninggal dunia akibat gempa bumi Magnitudo (M) 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) terus bertambah menjadi 75 orang hingga Kamis (20/8/2026) pukul 16.00 WIB. Selain itu, data resmi terbaru menunjukkan 907 orang mengalami luka-luka dan sebanyak 92.735 warga terpaksa mengungsi akibat dampak gempa yang diikuti ratusan gempa susulan tersebut.
Angka ini merupakan akumulasi terbaru yang dirilis langsung oleh BNPB dalam konferensi pers yang digelar pada Kamis sore. Sebelumnya, pada hari Rabu, data resmi mencatat 71 korban meninggal. Namun, proses evakuasi dan pendataan di lapangan yang terus berjalan menemukan tambahan korban di sejumlah kabupaten yang paling parah terdampak.
Penambahan Korban dan Pendataan di Lapangan
Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton Suar Pelita Panjaitan, memaparkan secara rinci penambahan korban jiwa tersebut. Ia menyebutkan bahwa dari total 75 jiwa yang dilaporkan, terdapat tambahan empat korban meninggal dibandingkan data sebelumnya.
“Hingga saat ini mencapai 75 jiwa. Di mana kemarin kami memberitakan 71 jiwa, hari ini bertambah 4 jiwa, dengan rincian di Kabupaten Sikka bertambah 2, Kabupaten Manggarai bertambah 1, Nagekeo bertambah 1,” kata Berton dalam konferensi pers, Kamis (20/8/2026).
Ia menambahkan, pihaknya juga mencatat adanya penambahan jumlah korban luka. Data terbaru menunjukkan angka 907 orang, bertambah sembilan orang dari catatan sebelumnya yang mencapai 898 orang. Seluruh tambahan korban luka tersebut dilaporkan berasal dari Kabupaten Ngada.
“Demikian juga korban yang luka sebanyak 907 jiwa, yang semula 898 jiwa. Untuk hari ini kami mendapatkan data tambahan 9 jiwa, yaitu berasal dari Kabupaten Ngada,” tuturnya.
Duka Mendalam dan Gelombang Pengungsian
Dalam kesempatan tersebut, Berton juga menyampaikan rasa belasungkawa yang mendalam atas jatuhnya korban dalam bencana alam ini. Ia secara khusus mengarahkan ungkapan duka tersebut kepada keluarga dan kerabat yang ditinggalkan.
“Kami sekali lagi menyampaikan rasa duka yang sedalam-dalamnya teruntuk untuk keluarga, handai tolan, tetangga, dan seluruh kenalan serta seluruh masyarakat Indonesia,” ujarnya.
Di sisi lain, jumlah warga yang mengungsi mengalami lonjakan signifikan. Hal ini dipicu oleh masih terjadinya gempa susulan dengan kekuatan yang tergolong besar, yang membuat banyak warga enggan kembali ke rumah mereka. BNPB mencatat sebanyak 92.735 orang kini mengungsi di berbagai titik.
Jumlah tersebut meningkat drastis sebanyak 33.088 orang dibandingkan data sebelumnya yang berada di angka 59.647 orang. Penambahan pengungsi terbesar terjadi di Kabupaten Nagekeo dengan 21.883 orang, disusul Kabupaten Manggarai sebanyak 9.649 orang, dan Kabupaten Manggarai Barat sebanyak 1.556 orang.
Kerusakan Rumah dan Akurasi Data
Selain menangani korban jiwa dan pengungsian, BNPB juga terus memperbarui data kerusakan fisik. Hingga saat ini, tercatat sebanyak 36.163 unit rumah mengalami kerusakan akibat guncangan gempa. Angka ini bertambah 7.187 unit dari catatan sebelumnya.
Berton menjelaskan, penambahan jumlah rumah rusak tersebut tidak semata-mata karena adanya kerusakan baru, melainkan juga dipengaruhi oleh proses pendataan di lapangan yang semakin akurat dan menjangkau daerah-daerah terpencil.
“Adapun rumah yang rusak, menurut data kami menjadi 36.163 unit. Bertambah di catatan kami karena pendataan yang semakin akurat, ada 7.187 unit,” ucap Berton.
Artikel Terkait
Pengamat: Pemilu 2029 Jadi Penentu Keberlanjutan Pengaruh Politik Keluarga Jokowi
Kejaksaan Agung Bantah Dalil Praperadilan Febrie Adriansyah, Sebut Penahanan Sudah Sesuai Prosedur
Gatot Nurmantyo: TNI Dipimpin yang Tak Punya Pengalaman Tempur, Bisanya Cuma Berperang Mulut
Danantara Dorong Merger PT PP Tuntas demi Percepat Transformasi BUMN Karya