Sri Mulyani Ungkap Pembatalan Cair Gaji PNS hingga Pensiunan 1 Januari 2024 Lantaran Fokus Penyelesaian PP

- Minggu, 07 Januari 2024 | 01:20 WIB
Sri Mulyani Ungkap Pembatalan Cair Gaji PNS hingga Pensiunan 1 Januari 2024 Lantaran Fokus Penyelesaian PP


paradapos.com - Sri Mulyani sebagai Menteri Keuangan RI menyampaikan tentang pembatalan pembayaran kenaikan gaji Aparatur Sipil Negara (ASN), mulai dari Pegawai Negeri Sipil (PNS) sampai pensiunan di 1 Januari 2024.

Seperti yang diketahui, Sri Mulyani sudah menjanjikan kenaikan gaji tersebut yang sudah disepakati oleh Presiden Jokowi yang akan diterima tanggal 1 Januari 2024.

Ia juga memastikan mengenai adanya kenaikan gaji ASN seperti PNS yang mencapai 8 persen, pensiunan 12 persen.

Baca Juga: Sri Mulyani Tidak Hanya Menetapkan Gaji Pokok, Tapi Juga Besaran Tambahan Penghasilan Bagi Pegawai Honorer

“Tetap dibayarkan, kenaikannya sesuai dengan yang disampikan Bapak Presiden, kenaikan 8 persen untuk ASN, TNI, dan Polri, dan untuk pensiunan 12 persen,” ucap Sri Mulyani pada konferensi pers.

Terdapat alasan tentang pembatalan pencairan gaji ASN, Sri Mulyani mengklaim bahwa pihaknya masih fokus untuk merampungkan Peraturan Pemerintah (PP) yang berkenaan dengan gaji itu.

Sri Mulyani menjelaskan bahwa PP sedang dalam proses penyelesaian yang dilakukan dengan ngebut, sehingga masih dikerjakan.

Baca Juga: Gebrakan Baru: Penetapan Besaran Uang Makan ASN 2024 oleh Sri Mulyani Terhadap PNS Jadi Sorotan!

Meskipun demikian, kenaikan gaji ASN akan tetap cair dan dibayarkan komplit berlaku dari Januari 2024 yang akan tetap dipastikan oleh Kemenkeu.

“Tapi jangan khawatir, tetap kita bayarkan januari ini komplit untuk 12 bulan,” ujar Sri Mulyani.

Yustinus Prastowo selaku Jubir Kemenkeu RI mengklarifikasi mengenai tertundanya pembayaran kenaikan gaji ASN melalui akun X pribadinya.

Baca Juga: Nasib Honorer 2024 dijamin aman: Ini kata Sri Mulyani

Ia juga mengatakan bahwa penundaan tersebut memang dikarenakan masih focus terhadap PP dan Perpres tentang kenaikan gaji terbaru.

“Saat ini pemerintah sedang merampungkan serangkaian aturan yang cukup banyak terdiri: PP untuk: gaji PNS, gaji TNI, gaji Polri, Pensiunan PNS, pensiunan TNI, pensiunan Polri, tunjanan veteran dan Perpres untuk gaji PPPK,” tulis Yustinus Prastowo pada akun X @prastow.

Sri Mulyani dan pihaknya mengklaim bahwa hak ASN yakni gaji pokok telah dibayarkan per 1 Januari 2024, mulai dari PNS hingga pensiunan.

Artikel ini telah lebih dulu tayang di: unews.id

Editor: Rico Ananda

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Artikel Terkait

Rekomendasi

JOKO Widodo alias Jokowi sudah lengser. Tak lagi punya kekuasaan. Presiden bukan, ketua partai juga bukan. Di PDIP, Jokowi pun dipecat. Jokowi dipecat bersama anak dan menantunya, yaitu Gibran Rakabuming Raka dan Bobbby Nasution. Satu paket. Anak bungsu Jokowi punya partai, tapi partainya kecil. Yaitu Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Partai gurem ini tidak punya anggota di DPR RI. Di Pemilu 2024, partai yang dipimpin Kaesang ini memperoleh suara kurang dari empat persen. Pada posisi seperti ini, apakah Jokowi lemah? Jangan buru-buru menilai bahwa Jokowi lemah. Lalu anda yakin bisa penjarakan Jokowi? Sabar! Semua ada penjelasan ilmiahnya. Semua ada hitung-hitungan politiknya. Manusia satu ini unik. Lain dari yang lain. Langkah politiknya selalu misterius. Tak mudah ditebak. Publik selalu terkecoh dengan manuvernya. Anda tak pernah menyangka Gibran jadi walikota, lalu jadi wakil presiden sebelum tugasnya sebagai walikota selesai. Anda tak pernah menyangka Kaesang jadi ketum PSI. Prosesnya begitu cepat. Tak ada yang prediksi Airlangga Hartarto mundur mendadak dari ketum Golkar. Anda juga tak pernah menyangka suara PDIP dan Ganjar Pranowo dibuat seragam yaitu 16 persen di Pemilu 2024. Persis sesuai yang diinginkan Jokowi. Anda nggak pernah sangka UU KPK direvisi. UU Minerba diubah. Desentralisasi izin tambang diganti jadi sentralisasi lagi. Omnibus Law lahir. IKN dibangun. PIK 2 jadi PSN. Bahkan rektor universitas dipilih oleh menteri. Ini out of the box. Nggak pernah ada di pikiran rakyat. Tapi, semua dengan begitu mudah dibuat. Mungkin anda nggak pernah berpikir mobil Esemka itu bodong. Anda juga nggak pernah menyangka ketua FPI dikejar dan akan dieksekusi oleh aparat di jalanan. Juga nggak pernah terlintas di pikiran ada Panglima TNI dicopot di tengah jalan. Ini semua adalah langkah out of the box. Tak pernah terlintas di kepala anda. Di kepala siapa pun. Ketika anda berpikir Jokowi melemah pasca lengser, ternyata orang-orang Jokowi masuk kabinet. Jumlahnya masih cukup banyak dan signifikan. Ketua KPK, Jaksa Agung dan Kapolri sekarang adalah orang-orang yang dipilih di era Jokowi. Ketika anda tulis Adili Jokowi di berbagai tempat, Kaesang, anak Jokowi justru pakai kaos putih bertuliskan Adili Jokowi. Pernahkah Anda menyangka ini akan terjadi? Teriakan Adili Jokowi kalah kuat gaungnya dengan teriakan Hidup Jokowi. Ini tanda apa? Jelas: Jokowi masih kuat dan masih punya kesaktian. Semoga pemimpin zalim seperti Jokowi Allah hancurkan. inilah doa sejumlah ustaz yang seringkali kita dengar. Apakah Jokowi hancur? Tidak! Setidaknya hingga saat ini. Esok? Nggak ada yang tahu. Dan kita bukan juru ramal yang pandai menebak masa depan nasib orang. Kalau cuma 1.000 sampai 2.000 massa yang turun ke jalan untuk adili Jokowi, nggak ngaruh. Ngaruh secara moral, tapi gak ngaruh secara politik. Beda kalau satu-dua juta mahasiswa duduki KPK, itu baru berimbang. Emang, selain 1998, pernah ada satu-dua juta mahasiswa turun ke jalan? Belum pernah! Massa mahasiswa, buruh dan aktivis saat ini belum menemukan isu bersama. Isu Adili Jokowi tidak terlalu kuat untuk mampu menghadirkan satu-dua juta massa. Kecuali ada isu lain yang menjadi triggernya. Contoh? Gibran ngebet jadi presiden dan bermanuver untuk menggantikan Prabowo di tengah jalan, misalnya. Ini bisa memantik kemarahan massa untuk terkonsentrasi kembali pada satu isu. Contoh lain: ditemukan bukti yang secara meyakinkan mengungkap kejahatan dan korupsi Jokowi, misalnya. Ini bisa jadi trigger isu. Ini baru out of the box vs out of the box. Tagar Adili Jokowi bisa leading. Kalau cuma omon-omon, ya cukup dihadapi oleh Kaesang yang pakai kaos Adili Jokowi. Demo Adili Jokowi lawannya cukup Kaesang saja. Jokowi terlalu tinggi untuk ikut turun dan menghadapinya. Sampai detik ini, Jokowi masih terlalu perkasa untuk dihadapi oleh 1.000-2.000 massa yang menuntutnya diadili. rmol.id *Penulis adalah Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa

Terkini