Ahli Ingatkan Pentingnya Istirahat 30 Menit Setelah 4 Jam Mengemudi Saat Mudik

- Minggu, 15 Maret 2026 | 04:00 WIB
Ahli Ingatkan Pentingnya Istirahat 30 Menit Setelah 4 Jam Mengemudi Saat Mudik

PARADAPOS.COM - Menempuh perjalanan mudik dengan kendaraan pribadi membutuhkan persiapan fisik dan mental yang matang. Untuk memastikan keselamatan, pengemudi diwajibkan oleh undang-undang untuk beristirahat minimal 30 menit setelah mengemudi selama empat jam berturut-turut. Aturan ini bukan sekadar formalitas, melainkan langkah krusial untuk menjaga konsentrasi dan mencegah kelelahan yang berpotensi memicu kecelakaan di jalan raya.

Aturan Istirahat dalam Bingkai Hukum

Ketentuan mengenai waktu mengemudi dan istirahat ini secara tegas diatur dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Pasal 90 ayat (3) dalam undang-undang tersebut menyatakan kewajiban bagi pengemudi untuk beristirahat sekurang-kurangnya 30 menit setelah berkendara selama empat jam secara terus-menerus. Aturan ini menjadi panduan dasar yang melindungi baik pengemudi maupun penumpang.

Lebih lanjut, regulasi tersebut juga membatasi waktu kerja pengemudi maksimal delapan jam dalam sehari. Dalam situasi tertentu, durasi ini bisa diperpanjang hingga 12 jam, dengan catatan bahwa hak pengemudi untuk beristirahat tetap harus dipenuhi. Ini menegaskan bahwa keselamatan adalah prinsip utama yang tidak boleh dikorbankan.

Perspektif Praktisi Keselamatan Berkendara

Anjuran istirahat berkala ini mendapat penegasan dari para ahli di lapangan. Rifat Sungkar, seorang pembalap nasional yang juga dikenal sebagai praktisi safety driving, membenarkan pentingnya jeda dalam perjalanan jauh. Ia bahkan menyarankan untuk tidak menunggu hingga batas empat jam jika tubuh sudah memberi sinyal lelah.

"Kalau berkendara terus dan tidak berhenti, sebaiknya maksimal tiga jam," ujarnya.

Rifat menjelaskan bahwa daya tahan mengemudi sangat bergantung pada kondisi fisik individu. Tubuh yang bugar akan mendukung tingkat kewaspadaan yang lebih baik. Sebaliknya, kelelahan akan menggerogoti fokus dan refleks, yang merupakan faktor penentu dalam situasi darurat di jalan.

Ia menekankan perlunya perubahan pola pikir selama mudik. Perjalanan panjang seharusnya tidak dilihat sebagai balapan melawan waktu.

"Ketika melakukan perjalanan jauh dengan mobil jangan berpikir untuk cepat sampai. Itu salah, kita harus berpikir selamat, bukan cepat sampai. Sepanjang perjalanan harus bisa menikmati proses berkendaranya," terangnya.

Strategi Praktis untuk Perjalanan yang Aman

Menerapkan aturan istirahat bisa dilakukan dengan memanfaatkan fasilitas yang tersedia, seperti rest area di jalan tol atau posko mudik yang banyak berdiri di jalur-jalur utama. Fasilitas ini memberikan ruang bagi pengemudi untuk meregangkan badan, menghirup udara segar, dan sejenak melepas penat sebelum melanjutkan perjalanan.

Selain itu, untuk perjalanan jarak sangat jauh, sangat disarankan untuk membawa minimal dua orang yang mampu mengemudi. Sistem bergantian ini memastikan selalu ada pengemudi yang berada dalam kondisi prima. Saat satu orang mengambil alih kemudi, yang lain dapat memulihkan tenaga.

"Triknya, saat yang satu mengemudi terutama di siang hari maka yang satu lagi diusahakan tidur. Tidak usah lama-lama, cukup setengah jam sampai satu jam untuk restart body," pungkas Rifat.

Dengan mengutamakan keselamatan melalui istirahat yang cukup dan perencanaan yang matang, tradisi mudik pun bisa dilakukan dengan lebih tenang dan bertanggung jawab. Setibanya di kampung halaman dengan selamat adalah tujuan akhir yang jauh lebih berharga daripada sekadar mengejar kecepatan.

Editor: Paradapos.com

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar