Situasi semakin memanas setelah dua kandidat oposisi didiskualifikasi, membuat Hassan hanya menghadapi 16 kandidat dari partai kecil dengan kampanye terbatas. Kondisi ini memicu kemarahan publik yang menilai pemilu tidak berlangsung bebas dan adil.
Respons Pemerintah dan Kecaman Internasional
Aparat keamanan Tanzania mengerahkan polisi dan militer untuk membubarkan massa demonstran. Pemerintah juga menerapkan berbagai pembatasan termasuk jam malam, pembatasan akses media sosial, dan pemblokiran internet.
Direktur Regional Amnesty International untuk Afrika Timur dan Selatan, Tigere Chagutah, mengecam keras tindakan represif aparat terhadap pengunjuk rasa. "Risiko eskalasi lebih lanjut sangat tinggi. Kami mendesak polisi untuk menahan diri dan tidak menggunakan kekerasan yang tidak perlu dan berlebihan terhadap para pengunjuk rasa," tegasnya.
Kondisi keamanan di Tanzania terus dipantau komunitas internasional menyusul laporan korban jiwa dalam demonstrasi pemilu 2025 yang mencapai ratusan orang tersebut.
Artikel Terkait
Militer AS Siap Serang Iran: Pentagon Laporkan Kesiapan Penuh ke Trump, Iran Perkuat Armada Drone
Iran Ancam Serang Jantung Tel Aviv: Ancaman Balasan Jika AS Agresi Militer
Ledakan di Teheran: Fakta Uji Coba Militer Iran & Ancaman AS yang Memanas
Latihan Militer Iran di Selat Hormuz: Respons Ancaman AS & Analisis Dampaknya