PARADAPOS.COM - Presiden Iran Masoud Pezeshkian secara resmi mendeklarasikan bahwa negaranya kini berada dalam kondisi perang skala penuh melawan Amerika Serikat. Pernyataan ini disampaikan pada Senin (20/7/2026), sehari setelah militer AS melancarkan serangan udara besar-besaran yang menghantam sejumlah titik strategis di wilayah utara dan tengah Iran. Deklarasi ini sekaligus mengonfirmasi runtuhnya kesepakatan gencatan senjata yang sempat diraih kedua negara pada Juni lalu, dan langsung memicu gejolak di pasar energi global.
Suasana di Teheran dilaporkan tegang. Dalam pernyataan resmi yang dikutip dari media internasional, Pezeshkian tidak menahan nada kerasnya. "Kenyataannya adalah hari ini Republik Islam Iran tengah terlibat dalam perang skala penuh," tegasnya.
Selat Hormuz Terblokade, Harga Minyak Melonjak
Runtuhnya gencatan senjata ini langsung mengirim sinyal alarm ke pasar minyak dunia. Harga minyak mentah melonjak ke level tertinggi dalam sebulan terakhir. Penyebab utamanya adalah memanasnya kembali perebutan kendali di Selat Hormuz—jalur pelayaran yang memasok sekitar seperlima kebutuhan minyak mentah global.
Sebagai bentuk perlawanan, Teheran kembali menerapkan blokade penuh di Selat Hormuz. Langkah ini tidak tinggal diam: Washington langsung membalas dengan memblokade pelabuhan-pelabuhan utama milik Iran. Dua blokade yang saling berhadapan ini menciptakan titik api baru di kawasan yang sudah tidak stabil.
Sejak konflik bersenjata meletup pada akhir Februari lalu, Iran gencar menyasar pangkalan dan aset-aset strategis AS di Timur Tengah. Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) mengonfirmasi bahwa pasukannya telah meluncurkan serangan balasan ke sejumlah target Amerika yang tersebar di Bahrain, Yordania, hingga Suriah. Setiap serangan dibalas, dan siklus kekerasan ini seolah tak berujung.
Ancaman Houthi Memperluas Medan Perang
Eskalasi konflik diprediksi bakal semakin liar. Ancaman baru kini muncul dari kelompok pemberontak Houthi di Yaman, sekutu dekat Teheran. Meski belum mengirimkan pasukan secara langsung ke medan tempur Iran-AS, Houthi mengancam akan memblokade pelabuhan-pelabuhan milik Arab Saudi.
Ancaman ini sangat serius. Selama ini, Arab Saudi masih bisa mengalirkan jutaan barel minyak per hari menembus blokade Selat Hormuz melalui Pelabuhan Yanbu di pesisir Laut Merah. Jika Houthi benar-benar merealisasikan gertakannya untuk menyerang kapal-kapal di Laut Merah dan Teluk Aden, maka satu-satunya jalur pelarian ekspor minyak Riyadh akan terputus. Pasokan energi global dipastikan bakal semakin kritis.
Yang lebih mengkhawatirkan, situasi di kawasan semakin rumit setelah militer Arab Saudi dan kelompok Houthi dilaporkan terlibat aksi saling tembak untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir. Konflik yang tadinya mereda kini kembali membara. Risiko menyeret seluruh kawasan Timur Tengah ke dalam pusaran perang terbuka kini bukan lagi sekadar skenario terburuk—melainkan kenyataan yang perlahan terwujud di depan mata.
Artikel Terkait
AS Keluarkan Peringatan Keamanan Global untuk Warganya di Luar Negeri Imbas Ketegangan dengan Iran
Tiga Rudal Iran Tembus Pertahanan Udara AS, Hantam Pangkalan Militer di Yordania
Trump Dihujani Sorakan Saat Turun ke Lapangan Final Piala Dunia 2026
Serangan Iran ke Pangkalan AS di Yordania Tewaskan Dua Tentara, Konflik Meluas ke Enam Negara