PARADAPOS.COM - Serangan rudal Iran terhadap Pangkalan Udara Muwaffaq Salti di Yordania pada Jumat pekan lalu mengakibatkan tiga personel militer Amerika Serikat tewas dan puluhan lainnya terluka, menandai kegagalan signifikan sistem pertahanan udara AS dan sekutunya di Timur Tengah. Insiden ini memicu pernyataan kontroversial dari Presiden Donald Trump yang menyalahkan operator pihak ketiga, sementara analis militer menyoroti peningkatan kemampuan rudal Iran yang semakin canggih.
Korban dan Identifikasi
Dari tiga prajurit yang gugur, dua di antaranya telah berhasil diidentifikasi. Sementara itu, satu personel yang sempat dilaporkan hilang akhirnya dinyatakan tewas akibat hantaman rudal balistik tersebut. Empat orang lainnya dilaporkan mengalami luka-luka, namun sumber lain menyebutkan jumlah korban luka bisa mencapai puluhan orang.
Rudal Iran Lolos dari Pencegatan
Laporan dari lapangan mengindikasikan bahwa rudal yang digunakan Iran memiliki kemampuan yang lebih maju dibandingkan serangan-serangan sebelumnya. Hal ini menjadi masalah serius bagi militer AS yang selama ini mengandalkan superioritas teknologi pertahanan udaranya. Sistem pertahanan udara AS dan Yordania, yang seharusnya mampu mencegat ancaman, gagal mendeteksi dan menghancurkan rudal tersebut tepat waktu.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengonfirmasi kejadian ini dengan nada prihatin. "Sebuah rudal berhasil lolos. Kami menembak jatuh hampir semua rudal. Satu rudal luput, ini sangat menyedihkan," ujarnya.
Serangan Beruntun dalam 48 Jam
Insiden mematikan ini bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri. Menurut laporan, pangkalan militer yang sama telah menjadi sasaran serangan sebanyak dua kali dalam kurun waktu 48 jam. Serangan kedua inilah yang menyebabkan korban jiwa. Rudal berpemandu presisi buatan Iran disebut-sebut berulang kali mampu menembus pertahanan rudal Yordania dan AS.
Juru Bicara Komando Pusat AS (Centcom), Tim Hawkins, mengklaim bahwa pasukannya bersama sekutu telah berhasil mencegat puluhan rudal dan drone Iran yang diarahkan ke negara-negara Teluk sejak 17 Juli. Namun, ia pun mengakui bahwa tidak semua ancaman dapat dihentikan. "Kami berhasil mencegat sebagian besar, tetapi kenyataan di lapangan menunjukkan ada yang lolos," ungkapnya.
Kontroversi Pernyataan Trump
Presiden Donald Trump langsung angkat bicara mengenai insiden ini. Alih-alih menyalahkan kegagalan sistem, Trump justru melontarkan tuduhan adanya unsur sabotase atau kelalaian dari pihak lain. Ia menyebut ada "operator lain" di pangkalan udara yang membiarkan rudal tersebut lolos.
"Mereka (Iran) memang menyelundupkan sesuatu di Yordania, dan kita ada operator lain," ujarnya, menuduh adanya musuh dalam selimut.
Trump mengeklaim bahwa Amerika Serikat memiliki peralatan tempur terbaik di dunia yang mampu mencegat berbagai jenis rudal. Namun, ia menyesalkan bahwa peralatan canggih tersebut tidak dioperasikan oleh personel AS secara langsung. "Kita membiarkan orang lain melakukan tugas itu dan terkadang hasilnya tidak begitu baik," kata Trump, tanpa menyebut secara spesifik siapa operator yang dimaksud.
Korban Luka Capai Ratusan Personel
Departemen Pertahanan AS (Pentagon) mengonfirmasi bahwa hampir 100 personel militer AS mengalami luka-luka akibat serangan rudal Iran di berbagai lokasi di Timur Tengah sepanjang bulan ini. Angka tersebut belum termasuk korban luka dari serangan mematikan di Yordania yang baru saja terjadi.
Analisis Taktik Rudal Iran
Seorang pengamat militer Yordania dan mantan pejabat tinggi, Qasid Mahmoud, memberikan perspektif teknis mengenai efektivitas serangan tersebut. Menurutnya, Iran telah meningkatkan teknologi rudalnya secara signifikan.
"Iran memiliki teknologi rudal yang canggih," katanya, seraya menambahkan bahwa mereka menggabungkan rudal dan drone secara bersamaan untuk mengelabui pertahanan udara.
Mahmoud menjelaskan lebih lanjut taktik yang digunakan. Iran menggunakan rudal murah sebagai pengalih perhatian radar. Setelah radar pertahanan sibuk, mereka menembakkan rudal berkualitas lebih baik yang mampu mengubah target akhir dalam jarak 30 atau 40 km. Perubahan lintasan di menit-menit terakhir itulah yang membuat sistem pertahanan udara kewalahan dan sulit mencegatnya.
Editor: Laras Wulandari
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Serangan AS ke Iran Tewaskan 53 Orang, Gencatan Senjata Runtuh
Presiden Iran Deklarasikan Perang Skala Penuh Lawan AS, Harga Minyak Meroket Akibat Blokade Selat Hormuz
AS Keluarkan Peringatan Keamanan Global untuk Warganya di Luar Negeri Imbas Ketegangan dengan Iran
Tiga Rudal Iran Tembus Pertahanan Udara AS, Hantam Pangkalan Militer di Yordania