PARADAPOS.COM - Pencarian korban gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,1 yang mengguncang Jepang resmi dihentikan otoritas setempat pada Sabtu (1/8/2026). Operasi yang berlangsung selama berhari-hari itu memusatkan perhatian pada puing-puing Mal Aeon Kashima di Prefektur Kumamoto, bangunan yang dilaporkan meledak dan runtuh akibat kebocoran gas pasca-gempa. Dengan dihentikannya pencarian, angka korban tewas kini mencapai 36 orang dan tidak ada lagi laporan warga yang hilang.
Keputusan ini diambil setelah tim penyelamat melakukan penyisiran menyeluruh selama dua hari terakhir. Suasana di lokasi kejadian masih mencekam, dengan alat berat yang mulai diturunkan untuk membersihkan puing-puing bangunan yang hancur. Di sela-sela reruntuhan, petugas kepolisian dan tim SAR tampak berjaga ketat memastikan tidak ada lagi korban yang tertinggal.
Operasi SAR di Mal Aeon Kashima
Kantor badan penanggulangan bencana Kumamoto mengonfirmasi bahwa petugas SAR berhasil mengevakuasi 12 orang dari lokasi Mal Aeon Kashima. Dari jumlah tersebut, tujuh orang ditemukan dalam keadaan tidak bernyawa. Proses evakuasi sendiri berlangsung dramatis mengingat struktur bangunan yang rapuh dan masih menyisakan potensi bahaya.
“Kami melakukan pencarian menyeluruh selama 2 hari terakhir bekerja sama dengan dinas pemadam kebakaran, Pasukan Bela Diri, dan unit kepolisian wilayah lainnya. Kami tidak menemukan orang yang hilang," kata seorang pejabat kepolisian Kumamoto, seperti dikutip dari AFP, Minggu (2/8/2026).
Pernyataan tersebut sekaligus mengakhiri spekulasi mengenai kemungkinan adanya korban yang masih tertimbun di bawah reruntuhan mal. Pihak berwenang memastikan bahwa proses verifikasi data warga yang sempat dilaporkan hilang telah dilakukan secara berlapis dan akurat.
Korban Jiwa dan Kerugian Materi
Seorang juru bicara Aeon, perusahaan pengelola mal, membenarkan bahwa tujuh orang yang tewas di lokasi tersebut merupakan pegawai gerai yang menyewa tempat di bangunan mal itu. Mereka diduga sedang berada di dalam toko saat ledakan terjadi, menyusul kebocoran gas yang dipicu oleh getaran gempa susulan.
Sebelumnya atau pada Jumat (31/7/2026), petugas juga menghentikan pencarian korban di pabrik kertas yang cerobong asapnya ambruk. Lokasi ini menjadi titik pencarian terbesar kedua setelah Mal Aeon Kashima. Di lokasi itu petugas menemukan sembilan jenazah, dan dua orang yang berhasil dievakuasi dalam kondisi selamat.
Dampak gempa kali ini terbilang luas. Berdasarkan data hingga 1 Agustus, lebih dari 9.000 warga terpaksa mengungsi di berbagai tempat penampungan. Sebagian besar dari mereka adalah warga lanjut usia yang membutuhkan perhatian medis dan logistik ekstra. Kondisi ini menjadi pekerjaan rumah tersendiri bagi pemerintah daerah setempat dalam beberapa pekan ke depan.
Sejarah Gempa di Kumamoto
Peristiwa ini menjadi pengingat pahit bagi warga Kumamoto yang masih menyimpan trauma lama. Pada 2016 lalu, wilayah yang sama dilanda dua gempa bumi dahsyat secara beruntun. Bencana tersebut menewaskan 273 orang dan melukai lebih dari 2.800 lainnya. Banyak bangunan yang baru selesai direkonstruksi kini kembali rusak akibat guncangan terbaru.
Masyarakat setempat pun diimbau untuk tetap waspada terhadap potensi gempa susulan yang masih mungkin terjadi. Meski operasi pencarian telah resmi diakhiri, fokus pemerintah kini beralih pada percepatan rehabilitasi infrastruktur dan pemulihan psikologis para penyintas.
Artikel Terkait
Iran Klaim Hancurkan Tiga Jet F-35 AS di Pangkalan Udara Yordania
100 Tentara Israel Tinggalkan Pangkalan Militer Akibat Hukuman Komandan atas Insiden Papan Tanda
YouTuber Thailand Hlun Solo Ditemukan Meninggal di Hotel Tbilisi, Polisi Georgia Selidiki Penyebab Kematian
Arab Saudi Rancang Koalisi Internasional Amankan Laut Merah dari Serangan Houthi