Kepala BGN Bermain Golf di Tengah Bencana, Publik Soroti Empati dan Kinerja
Publik tengah ramai memperbincangkan video yang memperlihatkan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, sedang bermain golf. Aktivitas ini dilakukan saat sejumlah wilayah di Sumatera dilanda bencana alam, sehingga menuai kritik keras karena dinilai tidak menunjukkan empati kepada para korban.
Klaim Penggalangan Dana Dipertanyakan
Direktur Rumah Politik Indonesia, Fernando Emas, meragukan klaim bahwa kegiatan golf tersebut bertujuan untuk penggalangan dana bagi korban bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
“Saya tidak yakin atas apa yang disampaikan Dadan bahwa kegiatan tersebut dilakukan untuk menggalang dana bagi korban bencana,” ujar Fernando. Ia mempertanyakan pilihan cara penggalangan dana yang dinilai kurang pantas dan tidak mencerminkan empati terhadap penderitaan masyarakat.
Sorotan Kinerja dan Program Makan Bergizi Gratis
Kritik terhadap Dadan Hindayana semakin menguat seiring dengan laporan kepada Presiden terkait program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang belakangan juga menuai kritik publik. Program MBG dinilai tidak berjalan sesuai harapan, dengan masyarakat mengeluhkan kualitas pelaksanaannya.
Fernando mempertanyakan sensitivitas Presiden terhadap kinerja para pembantunya dan menilai ada pejabat yang tidak optimal dalam menjalankan tugas.
Desakan untuk Mundur dari Jabatan
“Atas dasar itu, sebaiknya Dadan mundur dari posisinya sebagai Kepala BGN. Sejak awal terlihat tidak mampu menjalankan tugas, dan aktivitas bermain golf di tengah bencana menunjukkan minimnya empati,” tegas Fernando. Ia menegaskan bahwa rakyat akan terus mengawasi dan menilai kinerja para pejabat negara.
Pembelaan dari Kepala BGN
Di sisi lain, Dadan Hindayana membenarkan dirinya bermain golf. Ia menjelaskan bahwa kegiatan tersebut adalah turnamen rutin akhir tahun Persatuan Golf Alumni (PGA) IPB untuk menjaga silaturahmi.
“Tahun 2025 ini turnamen sekalian menggalang dana beasiswa dan bantuan bencana Sumatera,” ujar Dadan. Ia menegaskan kehadirannya sebagai Ketua Dewan Pembina PGA IPB adalah untuk memberikan dukungan kepada para alumni yang peduli terhadap korban bencana di Sumatra.
Kasus ini menyoroti pentingnya sensitivitas dan akuntabilitas pejabat publik, terutama dalam merespons situasi darurat dan menjalankan program strategis pemerintah.
Artikel Terkait
Dokumen Bocor Ungkap Alokasi Dana Soros Rp28 Triliun untuk Program Demokrasi di Indonesia
Pengamat Pertanyakan Implikasi Restorative Justice Rismon Sianipar terhadap Kasus Ijazah Palsu
BGN Bekukan Dua Dapur Makan Bergizi Gratis di Ponorogo Diduga Manipulasi Anggaran
MK Beri Tenggat Dua Tahun untuk Revisi UU Tunjangan Pensiun Pejabat Negara