PARADAPOS.COM - Anggaran pengadaan sepatu sekolah sebesar Rp27,5 miliar yang digulirkan Kementerian Sosial dalam program Sekolah Rakyat menuai sorotan tajam. Dengan total 39.345 pasang sepatu yang direncanakan, harga per pasang mencapai Rp700 ribu—angka yang dinilai jomplang jika dibandingkan harga pasar. Publik pun mempertanyakan soal transparansi, kewajaran harga, serta spesifikasi teknis yang minim dalam dokumen pengadaan.
Di lapangan, harga sepatu sekolah standar biasanya berkisar antara Rp100 ribu hingga Rp200 ribu per pasang. Selisih yang mencolok ini memunculkan tanda tanya besar: faktor apa yang membuat harga dalam program ini melambung hingga berkali-kali lipat? Bukan hanya soal nominalnya, tetapi juga soal bagaimana proses pengadaan itu sendiri dijalankan.
Spesifikasi Tak Jelas, Publik Gelisah
Selain persoalan harga, dokumen pengadaan yang beredar dinilai tidak mencantumkan spesifikasi teknis secara rinci. Informasi seperti jenis bahan, standar kualitas, hingga ketahanan produk tidak tersaji dengan jelas. Kondisi ini memicu kekhawatiran publik mengenai kualitas barang yang nantinya diterima oleh para siswa.
Tanpa adanya kejelasan spesifikasi, proses penentuan vendor pun ikut dipertanyakan. Apakah pengawasan dilakukan secara ketat? Apakah ada audit harga yang memadai? Semua itu masih menjadi tanda tanya. Masyarakat menuntut penjelasan yang lebih terbuka dari pihak terkait, bukan sekadar klaim bahwa anggaran sudah digunakan untuk kepentingan siswa.
Tanggapan Menteri Sosial
Menteri Sosial RI, Saifullah Yusuf atau yang akrab disapa Gus Ipul, akhirnya buka suara di tengah riuhnya sorotan publik. Ia menegaskan bahwa seluruh anggaran dalam program Sekolah Rakyat memang difokuskan untuk memenuhi kebutuhan peserta didik.
“Untuk penganggaran nanti detailnya bisa dikonfirmasi lebih lanjut ya. Tapi pada dasarnya penganggaran kita semua untuk siswa. Semua untuk siswa,” ujar Gus Ipul di Kantor Kemenko Bidang Pemberdayaan Masyarakat RI, Jakarta Pusat, Rabu 29 April 2026.
Menurutnya, kebutuhan siswa dalam program ini tidak hanya terbatas pada sepatu. Pemerintah juga mengalokasikan anggaran untuk berbagai kebutuhan dasar lainnya seperti makan, minum, seragam, dan perlengkapan penunjang belajar.
“Intinya, penganggaran di Sekolah Rakyat itu semua adalah untuk kebutuhan siswa, di samping untuk kebutuhan operasional. Kebutuhan siswa apa saja? Untuk makan, untuk minum, untuk seragam, ya termasuk sepatu, dan lain sebagainya,” katanya.
Meski demikian, penjelasan tersebut belum sepenuhnya meredakan kegelisahan publik. Tanpa keterbukaan data yang lebih rinci, kepercayaan masyarakat terhadap program yang menyasar kelompok rentan ini berpotensi terus terkikis. Program yang seharusnya membawa manfaat maksimal justru menyisakan ruang untuk kecurigaan.
Artikel Terkait
200 Ribu Buruh dari Enam Provinsi Siap Padati Monas pada May Day 2026, Polri Siapkan Rekayasa Lalu Lintas
Anggota TNI AL Gebrak Ambulans yang Hendak Jemput Pasien Kritis di Surabaya, Minta Maaf Usai Viral
Mitsubishi Xforce Hadirkan Lima Fitur Praktis, dari TPMS hingga Konsol Berpendingin
Remaja 18 Tahun di Semarang Tega Bunuh Kakak Kandung Saat Mabuk, Tersinggung Ucapan Korban