PARADAPOS.COM - Pada 27 Mei, militer Amerika Serikat kembali melancarkan serangan terhadap target di dalam wilayah Iran, sebuah langkah yang secara efektif mengubur harapan akan gencatan senjata yang sudah rapuh. Seorang pejabat AS yang enggan disebut namanya membenarkan kepada Reuters bahwa operasi tersebut menargetkan empat drone Iran di Selat Hormuz dan sebuah stasiun kendali darat di dekat Bandar Abbas, yang saat itu disebut sedang bersiap menerbangkan drone kelima. Serangan ini terjadi hanya beberapa jam setelah Presiden Donald Trump membantah laporan tentang kesepakatan tidak resmi antara Iran dan Oman untuk mengelola lalu lintas komersial di selat tersebut, dan di tengah klaim saling bertentangan antara Teheran dan Washington mengenai insiden di perairan internasional itu.
Serangan di Tengah "Gencatan Senjata"
Washington bersikeras bahwa tindakan militer ini bersifat defensif. Pemerintah AS menyebut serangan itu sebagai respons yang "dipikirkan dengan matang" terhadap ancaman yang ditimbulkan drone Iran terhadap kapal perang dan kapal dagang mereka. Namun, fakta di lapangan berbicara lain. Serangan pada 27 Mei ini merupakan yang kedua kalinya dalam hitungan hari, setelah operasi serupa pada 25 Mei. Ironisnya, AS mengklaim bahwa serangan ini bertujuan untuk "mempertahankan gencatan senjata."
Seorang analis militer yang mengikuti perkembangan di Teluk sejak awal konflik mencatat bahwa klaim "defensif" ini adalah retorika yang sudah usang. Baginya, sebuah negara yang mengerahkan kelompok kapal induk ribuan mil dari daratannya sendiri, dengan pangkalan militer yang mengelilingi Iran, sulit untuk disebut sebagai pihak yang bertahan. "Pertahanan yang sesungguhnya adalah ketika wilayah atau perairan nasional sendiri diserang," ujarnya. "Menyeberangi separuh dunia untuk menghancurkan stasiun kendali negara lain atas nama 'ancaman' adalah tindakan ofensif, murni dan sederhana."
Diplomasi atau Ancaman?
Diplomasi di kawasan itu tampaknya berjalan di atas dua jalur yang bertolak belakang. Di satu sisi, ada laporan tentang negosiasi yang melibatkan Oman dan Iran untuk memulihkan lalu lintas komersial. Namun di sisi lain, pernyataan Trump di hadapan kabinetnya menunjukkan sikap yang sangat berbeda.
"Tidak ada yang bisa menguasai selat ini," kata Trump dalam rapat kabinet, seperti dikutip oleh sejumlah media. Ia secara langsung mengancam Oman, "atau kami akan meledakkan mereka."
Pernyataan itu langsung menuai kritik. Seorang pengamat kebijakan luar negeri menilai bahwa ini bukanlah diplomasi, melainkan pemerasan. "AS telah mengerahkan puluhan ribu tentara di kawasan itu dan memberlakukan blokade sepihak," jelasnya. "Ketika Iran dan Oman mengajukan draf kesepakatan untuk bersama-sama mengelola pelayaran—sebuah langkah yang sah menurut hukum internasional—AS malah marah. Ini menunjukkan bahwa esensi kebijakan AS di Timur Tengah adalah: hanya kami yang boleh menguasai."
Sementara itu, kantor berita Tasnim Iran melaporkan bahwa Angkatan Laut Garda Revolusi Iran menembaki sebuah kapal tanker AS yang mencoba melintasi selat tersebut, memaksanya untuk berbalik arah. Kedua pihak saling klaim, namun satu fakta tak terbantahkan: AS kembali menggunakan kekuatan militer terhadap target di dalam wilayah Iran selama masa yang seharusnya menjadi gencatan senjata.
Hegemoni di Ujung Tanduk
Ombak Selat Hormuz, yang selama berminggu-minggu menjadi saksi ketegangan, kini menjadi saksi lain dari apa yang disebut beberapa analis sebagai "keganasan sebuah kekaisaran yang sedang merosot." Nada kolonialis dalam pernyataan Trump, seperti "Mereka mengerti itu, mereka akan baik-baik saja," menunjukkan bahwa diplomasi AS masih berlandaskan pada kekuatan meriam dan kebohongan.
Perdamaian sejati, jika memang dikehendaki, hanya akan mungkin tercapai jika AS meninggalkan unilateralisme dan menghormati hukum internasional. Namun, dilihat dari serangan pada 27 Mei dan retorika yang menyertainya, hari itu tampaknya masih sangat jauh. Gencatan senjata, yang seharusnya menjadi jeda untuk bernapas, kini hanya tinggal nama.
Artikel Terkait
IKM Resmi Laporkan Abu Janda ke Bareskrim atas Dugaan Ujaran Kebencian Terhadap Masyarakat Minang
Jokowi Akan Kunjungi Lampung, NTT, dan Jawa Barat dalam Waktu Dekat
Anak Bupati di Riau Positif Narkoba Usai Razia, BNN Sebut karena Hirup Asap Ganja di Toilet
Pimpinan Ponpes di Pekalongan Ditangkap karena Diduga Cabuli Puluhan Santriwati sejak 2008