Seakan-akan rakyat tidak berhak mengetahui apakah pemimpinnya benar-benar memenuhi syarat dasar untuk memimpin negeri ini.
Ironi terbesar adalah bahwa kejujuran yang sederhana justru tampak begitu sulit bagi seorang yang telah lama terbiasa dengan kebohongan.
Jika benar ijazah itu ada, mengapa tak segera ditunjukkan?
Mengapa harus repot-repot menempuh jalur hukum untuk membungkam para penuduh?
Bukankah lebih mudah mengakhiri polemik ini dengan satu tindakan sederhana: membuktikan kebenaran?
Kepercayaan publik adalah aset utama seorang pemimpin. Tetapi, ketika kejujuran menjadi barang langka, yang tersisa hanyalah kebohongan yang semakin besar, semakin kompleks, dan semakin sulit ditutupi.
Sejarah mencatat bahwa kebohongan selalu memiliki umur pendek. Cepat atau lambat, kebenaran akan menemukan jalannya.
Dan bagi Jokowi, jika memang tak punya sesuatu untuk disembunyikan, tak ada alasan untuk terus bersembunyi di balik dalih politik dan hukum.
Bangsa ini tak butuh sandiwara. Bangsa ini hanya ingin satu hal yang seharusnya sangat sederhana: kejujuran.
Jika seorang presiden saja tidak mampu menunjukkan ijazahnya, lalu apa lagi yang bisa kita harapkan dari kepemimpinannya? ***
Sumber: FusilatNews
Artikel Terkait
Gatot Nurmantyo Kritik Kapolri Listyo Sigit: 3 Poin Kontroversial dan Ancaman Demokrasi
Fakta Tabung Whip Pink di Apartemen Lula Lahfah: Pengantar, Hasil Penyidikan & Klarifikasi ART
Denada Akui Ressa Anak Kandung, Pengacara Bongkar Gaya Hidup Mewah dan Fakta Penelantaran
Jokowi Bicara Soal Kasus Korupsi Haji: Tanggapan Lengkap dan Fakta Terbaru