PARADAPOS.COM - Bank Indonesia (BI) memastikan akan terus mengawal pergerakan nilai tukar rupiah di pasar global meskipun pasar domestik libur dalam rangka Hari Suci Nyepi dan Idulfitri. Komitmen ini disampaikan langsung oleh pimpinan bank sentral, menyikapi tingginya ketidakpastian global yang dipicu oleh eskalasi konflik di Timur Tengah. Pengawasan dan kesiapan intervensi akan berjalan tanpa henti, mencakup pasar domestik dan luar negeri, untuk menjaga stabilitas mata uang nasional.
Kesiapan Penuh di Pasar Global
Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan bahwa lembaganya tidak akan absen dari pengawasan pasar, termasuk di tengah masa libur panjang. Fokus utama adalah menjaga stabilitas rupiah di pasar offshore, di mana perdagangan Non-Deliverable Forward (NDF) tetap berlangsung. Kantor perwakilan BI di New York akan memainkan peran kunci dalam pemantauan ini.
“Kita boleh libur Lebaran di sini, offshore Non-Deliverable Forward (NDF) terus berjalan dan BI New York juga akan terus mengawal rupiah di luar negeri,” jelas Perry Warjiyo dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur BI yang diselenggarakan secara daring dari Jakarta, Rabu (18 Maret 2026).
Pemantauan 24 Jam dan Opsi Intervensi
Di sisi lain, Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti memperkuat pernyataan tersebut. Ia memastikan bahwa mekanisme pemantauan pasar rupiah terhadap dolar AS melalui instrumen NDF dilakukan selama 24 jam. Koordinasi yang ketat dengan BI New York telah disiapkan, memberikan bank sentral kemampuan untuk bertindak cepat jika diperlukan.
“All effort akan kami lakukan, seperti disampaikan juga oleh Pak Gubernur, seperti yang biasa kita lakukan, intervensi di spot DNDF dan NDF untuk di pasar globalnya,” ungkap Destry Damayanti.
Selain intervensi di pasar valuta asing, BI juga mengoptimalkan instrumen operasi moneternya. Langkah ini bertujuan untuk menawarkan imbal hasil yang menarik, sehingga tetap mampu mendukung stabilitas di tengah meningkatnya risiko dan gejolak keuangan global yang dapat mempengaruhi arus modal.
Performa Rupiah di Tengah Tekanan Kawasan
Sebagai gambaran situasi, Destry memaparkan bahwa tekanan terhadap rupiah sepanjang Maret 2026 masih relatif lebih terkendali dibandingkan dengan beberapa negara se-kawasan. Depresiasi rupiah secara month to date (mtd) tercatat sebesar 1,29 persen, lebih rendah daripada depresiasi rupee India (1,52 persen) dan peso Filipina (3,71 persen).
“Artinya, kita di kawasan ini memang menghadapi permasalahan yang sama. Tapi di Bank Indonesia tentunya kami terus akan fokus untuk menjaga stabilitas tersebut,” tuturnya.
Dorongan Transaksi Mata Uang Lokal
Strategi jangka panjang BI untuk mengurangi ketergantungan pada dolar AS terus menunjukkan perkembangan positif. Destry mencatat, transaksi menggunakan Local Currency Transaction (LCT) atau pembayaran langsung dengan mata uang mitra dagang terus mengalami peningkatan. Pada Februari 2026, total transaksi LCT mencapai US$4,12 miliar, dengan transaksi terbesar dilakukan dengan Tiongkok sebesar US$3,026 miliar.
Tren ini mengindikasikan kebutuhan pasar yang semakin besar terhadap transaksi non-dolar. BI pun secara aktif mendorong pendalaman pasar keuangan untuk mata uang lokal, seperti yuan (CNH/CNY). Dengan demikian, pelaku usaha dapat melakukan konversi langsung tanpa harus melalui dolar AS terlebih dahulu, yang pada akhirnya dapat meredam tekanan permintaan terhadap mata uang Amerika Serikat di pasar domestik.
“Ini juga tentunya akan berpengaruh untuk mengurangi permintaan dolar di pasar domestik karena langsung permintaannya adalah ke mata uang mitra yang bersangkutan,” pungkas Destry Damayanti.
Artikel Terkait
Mantan Penasihat Kontraterorisme Trump, Joe Kent, Bertarung ke Kongres Usung Isu Anti Perang Abadi
Transaksi Digital BI Tembus 4,67 Miliar, QRIS Melonjak 133% pada Februari 2026
Kemenhaj Tetapkan Aturan Baru Pilihan Jenis Haji dan Mekanisme Pembayaran Dam
Gulkarmat Jakarta Timur Intensifkan Sosialisasi Pencegahan Kebakaran Jelang Mudik Lebaran