Sidang Korupsi Pengadaan Chromebook: Nadiem Hadirkan Tujuh Guru dari Aceh hingga Papua Bantah Dakwaan

- Kamis, 23 April 2026 | 17:00 WIB
Sidang Korupsi Pengadaan Chromebook: Nadiem Hadirkan Tujuh Guru dari Aceh hingga Papua Bantah Dakwaan
PARADAPOS.COM - Sidang kasus dugaan korupsi pengadaan Chromebook dengan terdakwa eks Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Makarim kembali digelar di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta. Dalam agenda persidangan tersebut, tim kuasa hukum Nadiem menghadirkan sejumlah ahli pendidikan dan tenaga pendidik dari berbagai daerah. Mereka dihadirkan untuk memberikan keterangan yang membantah narasi dakwaan jaksa penuntut umum terkait inefisiensi dan kerugian negara dalam program pengadaan perangkat tersebut. Menurut Nadiem, kesaksian yang disampaikan oleh para guru menjadi bukti nyata bahwa program digitalisasi pendidikan telah menyentuh langsung kebutuhan di akar rumput. Ia menegaskan, keterangan para saksi ini sekaligus mematahkan tudingan bahwa kebijakan yang diambilnya selama menjabat telah merugikan keuangan negara. Momen Emosional di Ruang Sidang Nadiem mengakui bahwa sidang kali ini terasa berbeda dan penuh emosi baginya. Ia menyaksikan langsung bagaimana para pendidik dari ujung barat hingga timur Indonesia memberikan kesaksian di hadapan majelis hakim. “Sidang yang paling emosional buat saya. Karena tujuh guru dari Aceh sampai Papua, semuanya terbang kesini untuk memberikan kesaksian mengenai bagaimana Chromebook mengubah pola belajar-mengajar di dalam ruang kelas mereka masing-masing,” kata Nadiem seperti dikutip Kamis (23/4/2026). Ia menambahkan, kesaksian tersebut membuktikan bahwa perangkat Chromebook memberikan manfaat nyata bagi proses belajar dan mengajar. Salah satu temuan penting yang diungkap adalah kemampuan perangkat tersebut untuk tetap berfungsi secara offline, sebuah fitur krusial di daerah dengan keterbatasan infrastruktur internet. Kesaksian dari Papua: Praktik Kimia Virtual Salah satu saksi yang dihadirkan adalah Denny Adelyta Tofani Novitasari, seorang guru di Kota Sorong, Papua Barat Daya. Ia memberikan gambaran konkret tentang penggunaan Chromebook di kelasnya. Denny menuturkan, biasanya ia mengajak siswa untuk melakukan praktik Kimia secara virtual. Aktivitas ini, lanjutnya, bisa dilakukan dengan baik menggunakan Chromebook. “Karena kami punya yang sudah touchscreen jadi itu lebih memudahkan anak-anak untuk memahami pembelajaran,” ujarnya. Ia juga membeberkan ketangguhan perangkat tersebut. “Chromebook ini masih berfungsi dengan baik bahkan setelah digunakan sekitar lima tahun. Perangkat ini dapat langsung menyala tanpa perlu menekan tombol power (mendemonstrasikan perangkat), serta tidak selalu membutuhkan koneksi internet karena tetap bisa digunakan secara offline untuk mengakses Google Docs, Sheets, Slides, hingga Google Drive,” jelas Denny. Integrasi Sistem dan Kemudahan Administrasi Senada dengan Denny, Arby William Mamangsa, Kepala Sekolah di Kota Sorong, Papua Barat Daya, memberikan perspektif dari sisi manajerial. Ia menyebutkan bahwa seluruh kebutuhan pembelajaran sudah terintegrasi dalam sistem Chromebook. “Termasuk data guru dan siswa yang otomatis tersinkronisasi ke akun masing-masing. Ini memudahkan akses, termasuk untuk input atau upload nilai,” ungkap Arby. Bertahan di Daerah 3T dengan Listrik Tenaga Surya Kesaksian menarik lainnya datang dari Muhamad Firman, mantan guru di Kecamatan Belimbing yang kini menjabat sebagai Staf Dinas Pendidikan dan Kebudayaan di Malawi, Kalimantan Barat. Ia mengaku bisa menjalankan laptop berbasis Chromebook di daerah 3T (Terdepan, Terpencil, Tertinggal) dengan koneksi internet yang sangat terbatas. “Saya mencoba memanfaatkan Chromebook ini di daerah 3T yang memang waktu itu kondisinya ada sinyal tapi sangat terbatas. Listriknya menggunakan tenaga surya,” tuturnya. Firman memberikan contoh konkret penggunaannya. “Jadi waktu itu saya menggunakan Chromebook ini untuk mengajar Matematika terutama di Google Slide untuk presentasi dan juga Google Spreadsheet untuk membuat grafik-grafik tabel pada pelajaran Matematika. Saya menggunakan itu secara offline,” akui dia.

Editor: Yoga Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar