Iran Terima Pembayaran Tol Pelayaran dari Kapal yang Melintasi Selat Hormuz di Tengah Kebuntuan Negosiasi dengan AS

- Sabtu, 25 April 2026 | 02:25 WIB
Iran Terima Pembayaran Tol Pelayaran dari Kapal yang Melintasi Selat Hormuz di Tengah Kebuntuan Negosiasi dengan AS

PARADAPOS.COM - Situasi di Teluk Persia kian meruncing meskipun saluran diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran secara resmi masih terbuka. Presiden AS Donald Trump telah mengumumkan perpanjangan gencatan senjata pada pertengahan pekan ini, namun pembicaraan kedua negara justru mengalami kebuntuan. Hingga saat ini, belum ada jadwal baru untuk putaran negosiasi berikutnya. Beberapa pertemuan yang sempat direncanakan tertunda, bahkan nasib kelanjutannya tidak lagi jelas. Di tengah ketidakpastian ini, Iran justru mengambil langkah berani dengan mengumumkan bahwa mereka telah menerima pembayaran bea pelayaran dari kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz—sebuah jalur strategis yang sebelumnya mereka blokir.

Negosiasi yang Mandek di Tengah Ketegangan

Kantor berita nasional Iran, Tasnim, melaporkan bahwa Teheran belum memiliki rencana untuk ikut serta dalam pembicaraan damai dengan AS. Padahal, media-media Amerika sebelumnya memberitakan bahwa putaran baru negosiasi kemungkinan akan digelar pada Jumat, 24 April lalu. Selain isu utama yang menjadi prioritas Trump—penghentian program nuklir Iran—para pengamat memperkirakan bahwa topik sensitif lainnya, seperti masa depan penggunaan Selat Hormuz, juga akan turut dibahas.

Pada Kamis, 23 April, rezim di Teheran secara resmi menyatakan telah menerima pembayaran biaya tol pelayaran melalui selat yang sebelumnya mereka blokir. "Biaya tol pertama telah disetorkan ke rekening Bank Sentral Iran," kata Tasnim mengutip wakil ketua parlemen Iran. Langkah ini menandai perubahan taktik yang cukup signifikan di tengah kebuntuan diplomatik.

"Permainan Kesabaran Taktis"

Menurut sejumlah pakar, apa yang saat ini terjadi di kawasan Teluk Persia lebih menyerupai pertarungan strategi, waktu, pengaruh, dan ketahanan, ketimbang pertukaran serangan militer secara langsung. Kedua pihak seolah sedang mengukur kesabaran satu sama lain.

"Saat ini, kedua belah pihak seperti sedang dalam permainan kesabaran taktis," ujar Hanna Voß, pakar Timur Tengah dari Friedrich-Ebert-Stiftung. Ia menjelaskan bahwa Iran bertindak sangat hati-hati dalam merespons kemungkinan pembicaraan dengan AS. "Di Teheran, ada kekhawatiran besar bahwa ini adalah tipu daya—negosiasi tetapi di saat yang sama militer tetap siap sedia," tuturnya.

Kewaspadaan ini, menurut para analis, sejalan dengan perhitungan strategis yang matang. Pauline Raabe, analis politik dari think tank Berlin Middle East Minds, dalam wawancaranya mengatakan, "Bagi Iran, taruhannya jauh lebih besar karena ini menyangkut wilayahnya sendiri." Ia menambahkan bahwa Teheran menggunakan instrumennya dengan bijaksana. "Berkaitan dengan Selat Hormuz, Iran tidak diragukan lagi berada dalam posisi yang kuat—saat ini Hormuz adalah instrumen penting," ungkapnya.

Center for Strategic and International Studies (CSIS) mencatat bahwa posisi Iran tidak hanya efektif secara militer, tetapi terutama secara ekonomi. Dengan memanfaatkan letak geografisnya, Iran mampu memberikan tekanan terhadap perekonomian global melalui kendali atas lalu lintas di Selat Hormuz. Energi menjadi isu utama dalam konstelasi ini. Washington Institute juga menekankan bahwa minyak dan gas menjadi faktor penentu yang memiliki konsekuensi jangka panjang, baik bagi pasar regional maupun global.

Selat Hormuz sebagai 'Kartu As' Iran

Voß menjelaskan bahwa Hormuz adalah instrumen yang mudah digunakan. "Tidak perlu banyak usaha untuk memblokir jalur ini secara efektif," katanya. Ancaman saja sudah cukup untuk memicu dampak ekonomi yang besar. Perusahaan pelayaran mulai mundur, perusahaan asuransi menarik diri, sementara senjata nirawak dan ranjau terus mengancam jalur laut tersebut. "Dengan kata lain: Secara taktis, Iran saat ini memegang kendali yang lebih kuat dan justru dari situlah muncul keunggulan strategis," ujarnya.

Raabe menambahkan dimensi militer ke dalam analisisnya. "Tampaknya Iran kerap diremehkan, tetapi negara itu terbukti masih mampu meluncurkan rudal secara rutin," jelasnya. Hal ini, menurutnya, bertentangan dengan anggapan bahwa negara tersebut telah melemah secara signifikan. Sebaliknya, Iran justru secara terarah meningkatkan kemampuan militernya dalam beberapa tahun terakhir.

Aktor Ideologis di Panggung Global

Pada saat yang sama, konflik ini ternyata melampaui ranah militer semata. Washington Institute menggambarkan Iran sebagai aktor yang tidak hanya bertindak sebagai negara, tetapi juga sebagai aktor ideologis. Kesepakatan-kesepakatan yang dibuat mungkin bersifat praktis, namun sikap dasar Iran tidak berubah.

Karakteristik struktural ini juga tercermin dalam dinamika dalam negeri Iran. "Pimpinan Iran siap menuntut banyak hal dari rakyatnya sendiri," kata Voß. Ia menambahkan, "Tingkat penderitaan di dalam negeri selama puluhan tahun jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan masyarakat Barat."

Raabe turut menyoroti aspek sosial dari konflik ini. "Ketika masyarakat dalam negeri menyaksikan negaranya diserang dari luar, hal itu dapat mempererat hubungan mereka," ujarnya. Namun, ia mengingatkan bahwa hal itu tidak secara otomatis berarti dukungan terhadap rezim yang berkuasa, melainkan lebih merupakan reaksi terhadap tekanan eksternal.

Sementara Iran mengandalkan strategi untuk bertahan dalam jangka waktu panjang, tekanan politik dalam negeri di AS justru semakin meningkat. "Seiring berjalannya waktu, dampak ekonomi semakin terasa," kata Raabe. Kenaikan harga energi dan ketidakpastian di pasar berdampak langsung pada opini publik Amerika. Namun, dalam jangka pendek, konflik ini justru menstabilkan sistem Iran. "Hal ini mengarah pada konsolidasi internal," ujar Voß. Perang ini, menurutnya, sesuai dengan logika ideologis yang telah dipersiapkan rezim.

Konsesi dan Imbalan

Dinamika diplomatik pun mengalami pergeseran. Surat kabar pan-Arab Al-Quds al-Arabi melihat adanya tekanan yang semakin besar terhadap Washington untuk meredam konflik ini secara politis. Di saat yang sama, Teheran tampil semakin percaya diri dan menuntut imbalan konkret untuk setiap konsesi yang diberikannya, seperti pelonggaran sanksi atau pencairan aset Iran yang dibekukan.

Keberhasilan strategi ini juga terkait dengan perang asimetris yang dijalankan Iran. Menurut CSIS, meskipun Teheran mengalami kekalahan militer, mereka masih mampu memberi pengaruh signifikan lewat serangan siber, sabotase, dan tekanan ekonomi. Washington Institute memperkirakan beberapa skenario hasil dari konflik ini. Skenario pertama adalah "kekalahan tersembunyi" AS, di mana gencatan senjata tercapai namun Iran tetap mempertahankan pengaruhnya. Skenario lainnya adalah "kekalahan terbuka" AS, di mana Teheran bertahan hingga AS tidak lagi mampu membendung tekanan yang begitu besar.

Pada akhirnya, konflik ini menyempit menjadi satu pertanyaan mendasar: Siapa yang dapat bertahan lebih lama—secara ekonomi, politik, dan sosial? Raabe berpendapat, "Waktu yang ada saat ini cenderung tidak berpihak pada AS." Sementara Voß menambahkan dengan keyakinan, "Waktu sedang berpihak pada Iran."

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Jerman

Diadaptasi oleh Sorta Caroline

Editor: Ayu Purwaningsih

Editor: Joko Susilo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar