PARADAPOS.COM - Dunia semakin bising, dan kebisingan itu kini dimulai sejak pagi hari dari layar ponsel masing-masing. Notifikasi bersahutan: berita politik yang memicu emosi, video pendek yang mengundang tawa, siniar penuh perdebatan, gosip selebritas dan pejabat, promo toko daring, serta puluhan pesan dan komentar yang menanti balasan. Dari ruang privat, hiruk-pikuk ini merembet ke ruang publik—meja makan siang di warung, forum diskusi luring maupun daring—tanpa jeda, kadang tanpa makna, asal nyaring.
Negeri yang Tak Pernah Sepi
Indonesia, mungkin juga negara-negara lain, hari ini tampak seperti negeri yang tak pernah sepi. Level kebisingannya sudah akut. Belum selesai satu kegaduhan, datang kegaduhan berikutnya. Belum tuntas satu perkara dipahami, perkara lain sudah menuntut reaksi.
Seakan-akan hidup kini adalah perlombaan bereaksi. Semua orang berbicara, semua berkomentar. Siapa paling cepat berpendapat, dialah yang dianggap paling tahu. Yang paling kencang bersuara, dialah yang paling didengar. Yang viral, dialah yang dianggap punya nilai.
Kecepatan vs Kedalaman
Entahlah, apakah memang seperti itu karakter zaman digital? Kecepatan reaksi seolah menjadi segalanya. Pada akhirnya, yang tenang sering kalah oleh yang gaduh. Yang mendalam kerap tenggelam oleh yang sensasional. Yang membutuhkan pemikiran kalah cepat ketimbang yang memancing emosi. Keributan lebih mudah viral daripada kebijaksanaan.
Selama ini kita mengenal ungkapan filsuf Prancis, Rene Descartes: "cogito, ergo sum"—"aku berpikir maka aku ada." Sepertinya, rumus itu kini berubah. Bisa jadi menjadi "aku berisik maka aku ada" atau "aku viral maka aku ada."
Mengapa Manusia Makin Tenggelam?
Pertanyaannya, mengapa manusia pada era modern ini justru makin tenggelam dalam kebisingan? Salah satu penyebab yang kerap disebut adalah kian mudahnya informasi membanjiri kepala. Dulu, orang harus susah payah mencari informasi: membeli koran, menunggu siaran berita radio atau televisi, membaca buku dan literatur, juga mendatangi orang yang dianggap ahli atau setidaknya lebih tahu.
Hari ini situasinya berbalik. Informasi datang tanpa diundang. Ia muncul di layar setiap saat, bahkan ketika kita tidak mencarinya. Ditambah lagi dengan kehadiran kecerdasan buatan (AI), yang hanya dengan sedikit usaha mencari satu hal, kita langsung disodori informasi melimpah tentang segala hal.
Ilusi Pengetahuan dan Pakar Dadakan
Nah, celakanya, limpahan informasi itu tidak lantas membuat manusia semakin bijaksana. Malah sering kali melahirkan ilusi pengetahuan. Bahasa gaulnya, "sotoy" alias sok tahu. Kita seolah merasa tahu banyak hal hanya dengan melihat potongan fakta yang belum tentu benar. Kita merasa memahami persoalan cuma gara-gara membaca beberapa paragraf atau menonton video berdurasi satu menit.
Pada zaman ini, sekonyong-konyong semua orang bisa menjadi komentator, pakar dadakan, ahli politik dadakan, ahli hukum dadakan, dan macam-macam dadakan lainnya. Bahkan sekali waktu bisa menjadi hakim dadakan karena mereka dengan mudah menghakimi seseorang atau suatu kelompok hanya berdasarkan informasi sepotong.
Tom Nichols, pakar strategi politik dan hubungan internasional asal AS, pernah menulis buku berjudul "The Death of Expertise" atau Matinya Kepakaran. Buku itu dengan brilian memotret situasi ironis pada era digital saat ini, ketika akses informasi terbuka sangat lebar, tapi masyarakat justru semakin enggan untuk belajar secara mendalam.
Ilustrasi media sosial. Foto: dok. Medcom.
Kepakaran Palsu dan Hilangnya Kemampuan Mendengar
Kepakaran 'palsu' itu kian menemukan habitatnya pada masa kesempatan berbicara terbuka selebar-lebarnya, tapi kemampuan mendengar semakin hilang. Semua orang ingin didengar, tetapi hanya sedikit yang mau diam sejenak untuk mendengar. Kebisingan kian mendapat ruang, kesunyian semakin tak kebagian tempat.
Padahal, kalau kita mau belajar dari sejarah, banyak gagasan besar justru lahir dari ruang yang sunyi. Banyak penemuan penting muncul dari perenungan yang panjang. Banyak keputusan bijak diambil setelah seseorang memilih jeda dari hiruk-pikuk dunia untuk mendengarkan suara akal sehatnya sendiri.
Surplus Pembicara, Kekurangan Pendengar
Dunia, pun negeri ini, kiranya tidak lagi membutuhkan lebih banyak orang yang berbicara. Kita sudah kelebihan pasokan—surplus. Yang perlu kita cari ialah orang-orang yang mau mendengar, mau membaca sampai tuntas, berpikir sebelum bereaksi, dan berani diam ketika tidak memahami persoalan.
Kita tentu pernah mendengar nasihat bahwa manusia dikaruniai dua telinga dan satu mulut agar lebih banyak mendengar daripada berbicara. Nasihat yang terdengar sederhana itu terasa semakin relevan sebagai pengingat di zaman ini. Zaman suara berisik kian mendominasi lantaran setiap orang memiliki mikrofon sendiri.
Artikel Terkait
Polda Sumsel Musnahkan Barang Bukti Narkoba Senilai Rp2,29 Miliar, Selamatkan 34.252 Jiwa
Pertamina Naikkan Harga Pertamax dan Pertamax Green 95 per 10 Juni 2026
Dolar AS Melemah Tipis di Tengah Ketegangan Geopolitik dan Antisipasi Data Inflasi
Harga Minyak Melonjak Akibat Serangan AS-Iran di Dekat Selat Hormuz