PARADAPOS.COM - Dolar Amerika Serikat (AS) melemah tipis pada perdagangan Selasa waktu setempat di tengah sikap hati-hati investor menjelang rilis data inflasi penting yang diperkirakan akan mempengaruhi ekspektasi suku bunga. Pelemahan ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik setelah Presiden AS Donald Trump bersumpah akan membalas serangan Iran yang menembak jatuh helikopter Amerika, menggagalkan harapan kesepakatan damai antara kedua negara. Indeks dolar, yang mengukur nilai greenback terhadap enam mata uang utama, tercatat turun 0,13 persen ke level 99,909.
Pergerakan Mata Uang Utama
Pada penutupan perdagangan di New York, euro berhasil menguat ke posisi USD1,1550 dari sebelumnya USD1,1528. Poundsterling Inggris juga mencatat kenaikan menjadi USD1,3388 dibandingkan USD1,3339 pada sesi sebelumnya. Sementara itu, dolar AS justru menguat terhadap yen Jepang, diperdagangkan di level 160,36 yen, naik dari 160,26 yen.
Mata uang Negeri Paman Sam ini juga menunjukkan pergerakan beragam terhadap mata uang lainnya. Dolar AS sedikit berubah terhadap franc Swiss di angka 0,7979 franc, sementara terhadap dolar Kanada melemah menjadi 1,3952 dari 1,3956. Di sisi lain, dolar AS menguat terhadap kronor Swedia menjadi 9,4603 dari 9,4401.
Ketegangan Menanti Data Inflasi AS
Para pelaku pasar mata uang saat ini berada dalam situasi tegang, menanti laporan indeks harga konsumen (CPI) AS periode Mei yang akan dirilis pada Rabu, serta laporan indeks harga produsen (PPI) pada Kamis. Data pasar tenaga kerja pekan lalu yang menunjukkan kekuatan, ditambah dengan potensi kenaikan inflasi akibat melonjaknya harga minyak karena konflik Iran, membuat investor yakin bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga tahun ini atau bahkan menaikkannya. Keyakinan ini turut memicu aksi jual obligasi dan melonjaknya imbal hasil Treasury.
Potensi data CPI untuk meredakan kekhawatiran pasar dinilai cukup rumit, karena angka yang sesuai dengan ekspektasi inflasi tetap akan terbilang tinggi.
"Memang, perkiraan median 4,2 persen akan menjadi angka tertinggi sejak April 2023, atau tertinggi dalam 37 bulan, meskipun perlambatan sewa dan kenaikan nilai properti yang lambat diperkirakan akan membuat angka inti tetap mendekati 3 persen di angka 2,9 persen, tertinggi sejak September lalu," ungkap José Torres, ekonom senior di Interactive Brokers.
Menurutnya, statistik inflasi yang tinggi ini membuat investor bertanya-tanya tentang langkah yang akan diambil Ketua Fed yang baru, Kevin Warsh, saat ia bersiap untuk pertemuan pertamanya sebagai pemimpin bank sentral minggu depan. Para pengamat pasar obligasi sangat memperhatikan mantan tokoh garis keras ini, mengingat kurva dana memiliki peluang 69 persen untuk naik setidaknya 25 basis poin tahun ini.
"Skenario dasar kenaikan suku bunga menawarkan 'dejavu' yang menarik seiring berjalannya 2026, di mana Presiden Trump menginginkan pemotongan daripada peningkatan, sementara calon yang ditunjuknya terikat oleh kompleks Departemen Keuangan yang menyerukan pengetatan, bukan pelonggaran," tambah dia.
ECB Jadi Sorotan, BI Kejutkan Pasar
Di sisi lain, euro sedikit menguat karena investor mulai mengalihkan perhatian ke pertemuan kebijakan Bank Sentral Eropa (ECB) yang dijadwalkan pada Kamis. Pasar memperkirakan kenaikan suku bunga seperempat poin, yang mencerminkan tekanan inflasi akibat perang Iran. Meskipun keputusan suku bunga itu sendiri sudah diperhitungkan dalam harga saham, investor akan mengamati dengan cermat panduan dari ECB untuk mendapatkan petunjuk tentang prospek kebijakan dan bagaimana para pembuat kebijakan menilai implikasi inflasi dari biaya energi yang lebih tinggi.
Di tempat lain, Bank Indonesia (BI) secara tak terduga menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada Selasa, sehingga suku bunga kebijakan menjadi 5,50 persen. Pergerakan di luar siklus ini menggarisbawahi upaya bank sentral untuk mendukung rupiah di tengah penurunan cadangan devisa dan permintaan investor yang lesu terhadap aset Indonesia. Rupiah pun menguat lebih dari satu persen terhadap dolar, menandai kenaikan harian terkuatnya dalam lebih dari setahun.
Sementara itu, yen Jepang justru melemah terhadap dolar, menembus angka 160—level kunci yang sebelumnya memicu tindakan intervensi mata uang oleh Tokyo.
Editor: Andri Setiawan
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
KM Labobar Kembali Berlayar, Hubungkan Jawa-Papua Mulai 11 Juni 2026
Rupiah Menguat di Awal Perdagangan, Analis Proyeksikan Pelemahan Jelang Penutupan
Polda Sumsel Musnahkan Barang Bukti Narkoba Senilai Rp2,29 Miliar, Selamatkan 34.252 Jiwa
Pertamina Naikkan Harga Pertamax dan Pertamax Green 95 per 10 Juni 2026