BRIN Dorong Teknologi untuk Tekan Angka Sampah Pangan Nasional

- Rabu, 10 Juni 2026 | 07:25 WIB
BRIN Dorong Teknologi untuk Tekan Angka Sampah Pangan Nasional
PARADAPOS.COM - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong penerapan teknologi untuk menekan angka sampah pangan di Indonesia. Langkah ini dinilai mampu mengurangi kehilangan pangan sekaligus meningkatkan produktivitas sektor pertanian. Kepala BRIN Arif Satria menyampaikan hal tersebut saat menjadi panelis dalam Economic Conference di Grand Ballroom Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta, pada Rabu, 10 Juni 2026.

Angka Food Waste dan Food Loss yang Mengkhawatirkan

Dalam paparannya, Arif mengungkapkan bahwa angka food waste masyarakat dan food loss di Indonesia berkisar antara 115 hingga 184 kilogram per kapita. Jumlah tersebut setara dengan sepertiga dari total pasokan pangan dunia yang terbuang sia-sia. Kondisi ini menjadi perhatian serius, mengingat dampaknya terhadap ketahanan pangan nasional. “Karena untuk meningkatkan produktivitas, itu tidak semata-mata meningkatkan ketersediaan pangan, tapi dengan menekan food loss dan food waste juga bisa,” ujar Arif.

Potensi Pangan Hilang saat Panen

BRIN juga mencatat sekitar 11 persen potensi pangan hilang saat masa panen. Penyebab utamanya, mayoritas petani masih menggunakan metode perontokan tradisional. Akibatnya, sejumlah hasil panen tidak terselamatkan dan berujung pada pemborosan sumber daya.

Dampak Positif Penyelamatan Sisa Pangan

Penyelamatan sisa pangan secara langsung, menurut BRIN, mampu menjawab masalah ketimpangan gizi. Pasokan pangan yang berhasil diselamatkan dapat memenuhi kebutuhan konsumsi harian bagi ratusan juta masyarakat. “Kita bisa memberi makan 61 sampai 125 juta orang. Kita bisa menekan emisi, kita bisa mengatasi kerugian Rp200 sampai Rp500 triliun,” kata Arif.

Inovasi Teknologi untuk Pertanian

Untuk menjawab tantangan tersebut, BRIN mulai menciptakan varietas Padi Super hingga mengembangkan mesin pengawet. Lembaga ini juga menjalin kerja sama dengan Perum Bulog guna menjaga stabilitas stok beras nasional. Arif menambahkan, sektor agraria Indonesia optimistis mampu memitigasi dampak perubahan iklim global demi mengawal target pertumbuhan ekonomi nasional. “Pertanian kita hanya bisa survive kalau kita punya inovasi-inovasi yang baik,” tutur mantan Rektor IPB tersebut.

Editor: Reza Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar