BMKG Bantah OMC Picu Cuaca Tidak Stabil, Tegaskan Teknologi Ini untuk Mitigasi Bencana

- Selasa, 23 Juni 2026 | 16:25 WIB
BMKG Bantah OMC Picu Cuaca Tidak Stabil, Tegaskan Teknologi Ini untuk Mitigasi Bencana

PARADAPOS.COM - Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) kembali menjadi perbincangan hangat di tengah masyarakat. Teknologi yang kerap digunakan pemerintah untuk mitigasi bencana, seperti mengurangi risiko banjir dan mengatasi kekeringan yang memicu kebakaran hutan, ini ternyata masih diselimuti kesalahpahaman. Sebagian kalangan menilai OMC justru membuat cuaca tidak stabil. Namun, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dengan tegas membantah anggapan tersebut. Dalam penjelasan resminya, BMKG menyatakan bahwa seluruh proses OMC semata-mata memanfaatkan fenomena alam tanpa ada intervensi buatan yang berbahaya. Klaim mengenai efek samping negatif dari teknologi ini, menurut BMKG, adalah kekeliruan sains yang perlu diluruskan.

Apa Itu Operasi Modifikasi Cuaca?

Secara sederhana, OMC adalah upaya untuk memengaruhi proses fisik di dalam awan. Tujuannya jelas: mengoptimalkan atau mengurangi curah hujan sesuai dengan kebutuhan. Di Indonesia, teknologi ini sudah menjadi andalan dalam langkah mitigasi bencana. Mulai dari mengurangi potensi banjir di musim hujan, memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), hingga menambah pasokan air di waduk saat kemarau tiba.

BMKG menekankan bahwa tujuan utama OMC murni untuk melindungi masyarakat. Bukan untuk "bermain-main" dengan alam atau memicu ketidakstabilan cuaca. "OMC bertujuan murni untuk mitigasi bencana dan melindungi masyarakat dengan menambah atau mengurangi cuaca sehingga bukan menjadi pemicu cuaca tidak stabil," demikian pernyataan resmi BMKG.

Bagaimana Cara Kerja Modifikasi Cuaca?

Proses OMC dilakukan melalui teknik yang dikenal dengan istilah cloud seeding atau penyemaian awan. Langkah pertama, petugas di lapangan akan memantau kondisi atmosfer secara saksama. Mereka mencari awan-awan yang dinilai berpotensi menghasilkan hujan.

Setelah awan yang sesuai ditemukan, pesawat khusus akan diterbangkan untuk menyebarkan bahan semai. Bahan yang digunakan pun alami, seperti garam (natrium klorida/NaCl) atau kalsium oksida (CaO). Bahan-bahan ini disemai ke dalam awan untuk mempercepat proses kondensasi, sehingga butir-butir air terbentuk lebih cepat dan hujan pun turun.

Menjawab kekhawatiran publik soal pemindahan hujan ke wilayah tetangga yang justru bisa memicu banjir, BMKG memberikan penjelasan teknis. Ada dua metode utama yang digunakan dalam OMC.

  1. Jumping process method: Metode ini menyemai awan hujan yang bergerak dari laut menuju daratan. Tujuannya agar hujan turun lebih awal di atas perairan atau area yang dianggap lebih aman. Dengan begitu, curah hujan yang mencapai kawasan rawan banjir di daratan bisa berkurang drastis.
  2. Competition method: Penyemaian dilakukan sejak fase awal pertumbuhan awan. Tujuannya untuk "mengganggu" potensi awan tersebut berkembang menjadi awan cumulonimbus raksasa yang bisa memicu hujan ekstrem. "Dengan ini, OMC dilakukan bukan sebagai pemindahan hujan ke pemukiman lain," tegas BMKG.

OMC Picu Fenomena Cold Pool?

Belakangan, muncul anggapan bahwa OMC bisa memicu cuaca tidak stabil, bahkan menyebabkan fenomena cold pool yang berbahaya. BMKG kembali meluruskan anggapan ini.

Cold pool sejatinya adalah fenomena alam yang wajar. Ini terjadi ketika udara di bawah awan hujan menjadi lebih dingin akibat penguapan air hujan. Fenomena ini bisa muncul pada hujan alami maupun hujan yang terjadi setelah proses OMC. "OMC bukan penyebab utama munculnya cold pool maupun ketidakstabilan cuaca," ujar perwakilan BMKG. Teknologi ini, lanjutnya, hanya mempercepat proses yang secara alami sudah berlangsung di dalam awan. (Eunike Michelle Gultom)

Editor: Laras Wulandari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar