Kebakaran Hutan dan Lahan Landa Tiga Kecamatan di Aceh Barat, Sembilan Hektare Hangus

- Selasa, 21 Juli 2026 | 16:25 WIB
Kebakaran Hutan dan Lahan Landa Tiga Kecamatan di Aceh Barat, Sembilan Hektare Hangus
PARADAPOS.COM - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda tiga kecamatan di Kabupaten Aceh Barat, dengan total luas lahan terbakar mencapai sembilan hektare. Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Barat, Teuku Ronald Nehdiansyah, mengungkapkan data ini kepada wartawan pada Selasa, 21 Juli 2026. Titik api terdeteksi di Kecamatan Meureubo, Samatiga, dan Johan Pahlawan, dan tim gabungan masih berjibaku melakukan pemadaman di tengah keterbatasan sumber air dan angin kencang.

Lokasi dan Luas Lahan Terdampak

Berdasarkan pendataan tim di lapangan, sebaran kebakaran cukup merata. Di Kecamatan Meureubo, tepatnya di Desa Gunong Kleng, lahan yang terbakar seluas 0,5 hektare. Sementara itu, Kecamatan Samatiga mencatatkan dua titik kebakaran: Desa Cot Seumeureng seluas 3 hektare dan Desa Paya Lumpat seluas 3 hektare. Di Kecamatan Johan Pahlawan, kobaran api melahap area seluas 2,5 hektare yang tersebar di Desa Lpang (0,5 hektare) dan Desa Leuhan (2 hektare). Data ini menunjukkan bahwa kebakaran tidak hanya meluas, tetapi juga tersebar di beberapa lokasi yang berjauhan.

Perkembangan Pemadaman di Lapangan

Teuku Ronald menjelaskan bahwa penanganan di Desa Gunong Kleng, Kecamatan Meureubo, telah berhasil mencapai 100 persen. Api di sana benar-benar padam. Namun, situasi berbeda masih terjadi di dua kecamatan lainnya. "Untuk lokasi Gampong Cot Seumeureng, Paya Lumpat, Lapang, dan Leuhan, saat ini proses pemadaman telah mencapai sekitar 35 persen. Mengenai penyebab pasti munculnya titik api, saat ini masih dalam proses penyelidikan," jelas dia. Tim gabungan masih melakukan pemadaman dan penyekatan secara intensif di Kecamatan Samatiga dan Johan Pahlawan. Progres di lapangan berjalan lambat karena berbagai kendala teknis.

Tantangan dan Dampak Kebakaran

Upaya pemadaman di lapangan menghadapi sejumlah tantangan berat. Ketersediaan sumber air yang sangat terbatas serta tiupan angin kencang di lokasi menjadi kendala utama tim gabungan dalam memadamkan kobaran api. Kondisi medan yang sulit dijangkau juga memperlambat pergerakan personel dan armada. Dampak dari kebakaran ini tidak hanya merusak vegetasi tanaman lokal, tetapi juga menghasilkan asap yang mulai mengganggu pernapasan warga sekitar serta para pengguna jalan. Beberapa warga dilaporkan mulai mengalami iritasi ringan pada saluran pernapasan akibat paparan asap pekat.

Armada dan Personel yang Dikerahkan

Untuk menanggulangi meluasnya api, BPBD Aceh Barat menurunkan berbagai armada dan sarana prasarana. Termasuk di dalamnya dua unit armada water supply (WS), armada damkar mako dan Pos Meureubo, unit armada D-Max, mesin pompa air, serta dukungan dua unit Armada Pemadam dari Batalyon Infanteri 116/Garda Samudra. "Aksi pemadaman ini melibatkan tim gabungan yang terdiri dari personil BPBD Aceh Barat, Damkar Pos Meureubo, TNI, Polri, Pusdalops, Regu III Damkar & Rescue, kelompok mahasiswa (UKM PK UTU), serta masyarakat setempat yang bahu-membahu menjinakkan si jago merah," pungkasnya. Kolaborasi lintas sektor ini menjadi kunci utama dalam upaya pengendalian kebakaran yang masih berlangsung hingga saat ini.

Editor: Joko Susilo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar