Belum ada konfirmasi resmi mengenai rencana Budi Arie Setiadi bergabung dengan Partai Gerindra. Namun, analis politik telah memperingatkan Presiden Prabowo Subianto untuk berhati-hati. Mereka mewaspadai potensi Budi Arie menjadi mata-mata untuk mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) jika benar-benar pindah partai.
Direktur Pusat Riset Politik, Hukum, dan Kebijakan Indonesia (PRPHKI), Saiful Anam, menilai langkah tersebut justru akan merugikan Partai Gerindra. Menurutnya, ada lebih banyak mudharat daripada manfaatnya.
Salah satu faktor yang dipertimbangkan adalah status Budi Arie yang masih tersangkut perkara judi online (judol). Rekam jejak ini dinilai dapat membawa dampak negatif bagi citra partai.
"Jika Gerindra menerima Budi Arie, maka terkesan pragmatis dan seakan partai hanya butuh suara semata tanpa mengedepankan aspek etika politik," kata Saiful.
Ia juga menegaskan bahwa kedekatan Budi Arie dengan Jokowi patut diwaspadai. Alih-alih menambah kekuatan, kehadirannya justru berpotensi menyebabkan degradasi partai karena dikhawatirkan menjadi mata-mata di internal Gerindra.
Peringatan ini semakin menguat mengingat Budi Arie sebelumnya telah didepak dari kabinet pemerintahan Prabowo. Keputusan akhir Partai Gerindra dalam menyikapi isu ini akan sangat menentukan persepsi publik terhadap integritas partai.
Terkini
Senin, 02 Februari 2026 | 08:00 WIB
Senin, 02 Februari 2026 | 07:50 WIB
Senin, 02 Februari 2026 | 07:25 WIB
Senin, 02 Februari 2026 | 05:50 WIB
Senin, 02 Februari 2026 | 05:25 WIB
Senin, 02 Februari 2026 | 05:00 WIB
Artikel Terkait
Pertemuan Prabowo dengan Abraham Samad & Tokoh Nasional: Istana Bukan Oposisi, Tapi Diskusi Bangsa
Said Didu Ungkap Prabowo Sepakat Rebut Kedaulatan dari Oligarki, Target Geng Solo
Strategi Politik Jokowi: Dukungan ke PSI Kaesang & Proyeksi Gibran di Pilpres 2029-2034
Dokter Tifa Kritik Jokowi di Rakernas PSI: Strategi Playing Victim atau Kondisi Kesehatan?