Belum ada konfirmasi resmi mengenai rencana Budi Arie Setiadi bergabung dengan Partai Gerindra. Namun, analis politik telah memperingatkan Presiden Prabowo Subianto untuk berhati-hati. Mereka mewaspadai potensi Budi Arie menjadi mata-mata untuk mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) jika benar-benar pindah partai.
Direktur Pusat Riset Politik, Hukum, dan Kebijakan Indonesia (PRPHKI), Saiful Anam, menilai langkah tersebut justru akan merugikan Partai Gerindra. Menurutnya, ada lebih banyak mudharat daripada manfaatnya.
Salah satu faktor yang dipertimbangkan adalah status Budi Arie yang masih tersangkut perkara judi online (judol). Rekam jejak ini dinilai dapat membawa dampak negatif bagi citra partai.
"Jika Gerindra menerima Budi Arie, maka terkesan pragmatis dan seakan partai hanya butuh suara semata tanpa mengedepankan aspek etika politik," kata Saiful.
Ia juga menegaskan bahwa kedekatan Budi Arie dengan Jokowi patut diwaspadai. Alih-alih menambah kekuatan, kehadirannya justru berpotensi menyebabkan degradasi partai karena dikhawatirkan menjadi mata-mata di internal Gerindra.
Peringatan ini semakin menguat mengingat Budi Arie sebelumnya telah didepak dari kabinet pemerintahan Prabowo. Keputusan akhir Partai Gerindra dalam menyikapi isu ini akan sangat menentukan persepsi publik terhadap integritas partai.
Editor: Yoga Santoso
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Kepala Bakom Muhammad Qodari Serukan Gaya Komunikasi Pemerintah Lebih Agresif
Presiden Prabowo Reshuffle Kabinet Kelima Kali, Pengamat: ‘I Tu Si’, Hanya Satu Wajah Baru
Gubernur Sumsel Buka Suara soal Pagu Rp3 Miliar Pakaian Dinas: Bukan Angka Final
Harta Kekayaan Hasan Nasbi Capai Rp40,43 Miliar, Didominasi Properti dan Kas