Kepala Badan Gizi Nasional Nanik S Deyang Mundur karena Stres Akut Kelola Anggaran Rp229 Triliun

- Rabu, 22 Juli 2026 | 02:25 WIB
Kepala Badan Gizi Nasional Nanik S Deyang Mundur karena Stres Akut Kelola Anggaran Rp229 Triliun

PARADAPOS.COM - Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Nanik S Deyang resmi mengundurkan diri dari jabatannya pada Rabu, 22 Juli 2026. Pengunduran diri ini disampaikan langsung kepada Presiden Prabowo Subianto dengan alasan utama kondisi kesehatan. Nanik mengaku didiagnosis menderita penyakit jantung koroner, yang menurut dokter diperparah oleh stres berat selama memimpin lembaga yang mengelola anggaran sebesar Rp229 triliun. Presiden Prabowo pun telah menerima pengunduran diri tersebut.

Keputusan ini diumumkan sehari setelah Nanik mencurahkan isi hatinya melalui akun Facebook pribadinya pada Selasa, 21 Juli 2026. Dalam unggahan itu, ia menceritakan secara gamblang pergulatan batinnya selama menjabat. Bukan sekadar soal tekanan target, melainkan beban moral yang menghimpit setiap hari.

Stres Akut dan Diagnosis Jantung Koroner

Nanik menjelaskan bahwa vonis penyakit jantung koroner yang dideritanya bukan semata-mata akibat kolesterol tinggi. Faktor stres yang akut menjadi pemicu utama. Ia mengaku tekanan itu muncul sejak pertama kali duduk sebagai Kepala BGN.

“Menurut dokter saya ada sumbatan di arteri jantung yang selain karena kolesterol tinggi, juga dipicu juga oleh stres yang luar biasa! Saya saat ini memimpin lembaga yang semua orang mencibir karena semua taulah... jadi bisa dibayangkan ancurnya,” kata Nanik.

Trauma Mengelola Anggaran Raksasa

Yang paling membebani pikirannya, menurut pengakuan Nanik, bukanlah soal teknis program makan bergizi gratis (MBG) semata. Justru, tanggung jawab mengelola uang negara sebesar Rp229 triliun yang membuatnya trauma akut. Ia merasa setiap rupiah yang dikeluarkan harus dipertanggungjawabkan dengan sempurna.

“Soal membereskan mungkin meski berat saya masih bisa atasi, tapi memegang anggaran besar itu yang membuat saya trauma akut. Saya sampai gak bisa tidur kalau ingat ini duit negara, duit rakyat harus benar dijalankan dan tidak boleh saya kecolongan,” bebernya.

Ketakutan ini begitu mendalam hingga memengaruhi kebiasaan kerjanya. Nanik mengaku tidak pernah berani mengambil keputusan sendiri, khususnya yang berkaitan dengan dokumen dan tanda tangan. Ia selalu meminta pendampingan dari dua wakilnya.

“Saking takutnya saya memegang anggaran besar, sampai tanda tangan apapun saya tidak mau sendiri harus dua Waka ikut paraf, baru saya mau tanda tangan,” jelasnya.

Fisik Ambruk di Tengah Tekanan

Suasana di ruang kerjanya pun digambarkan penuh kecemasan. Setiap kali sekretaris pribadinya (Sepri) datang membawa tumpukan dokumen, Nanik langsung merasa demam dan menggigil. Respons fisik ini, menurutnya, adalah akumulasi dari tekanan yang tak kunjung reda.

“Setiap kebijakan saya tanya berulang-ulang. Bahkan kalau Sepri saya bawa tumpukan dokumen saya sudah parno duluan dan badan panas-dingin, akibatnya saya ambrukkkk,” ungkapnya.

Ia mengibaratkan posisinya seperti berdiri di tepi tebing curam. Satu langkah salah, dan semuanya bisa runtuh seketika. Beban moral inilah yang pada akhirnya membuat fisiknya tidak mampu lagi bertahan.

Nanik pun menyerahkan estafet kepemimpinan kepada dua Wakil Kepala BGN, Agustina Arumsari dan Mayjen TNI Trenggono. Ia mengaku trauma dan enggan jika harus kembali dipercaya memegang posisi yang bersentuhan langsung dengan keuangan negara.

Editor: Wahyu Pradana

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Tags