Wakil Ketua MPR: Mendidik Bukan Sekadar Transfer Ilmu, Melainkan Tindakan Optimisme

- Kamis, 23 Juli 2026 | 10:25 WIB
Wakil Ketua MPR: Mendidik Bukan Sekadar Transfer Ilmu, Melainkan Tindakan Optimisme
PARADAPOS.COM - Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat menegaskan bahwa mendidik bukan sekadar transfer ilmu, melainkan tindakan optimisme yang lahir dari keyakinan akan masa depan anak bangsa. Pernyataan itu disampaikan dalam sambutannya pada peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-20 Yayasan Sukma Bangsa yang dipusatkan di Sekolah Sukma Bangsa Lhokseumawe, Aceh, Kamis (23/7/2026). Lestari, yang juga menjabat sebagai Ketua Yayasan Sukma, menyebut sekolah yang didirikan oleh Surya Paloh itu sebagai "sekolah kehidupan" yang telah melahirkan generasi berdaya saing hingga berperan dalam diplomasi kemanusiaan.

Mendidik sebagai Tindakan Optimisme

Di hadapan para guru, siswa, dan alumni, Lestari memaparkan filosofi pendidikan yang ia yakini. Menurutnya, mendidik adalah proses menanamkan keberanian dan cita-cita masa depan, meskipun hasilnya belum tentu dinikmati oleh para pengajar itu sendiri. "Mendidik sesungguhnya adalah menanamkan keberanian, menanamkan cita-cita masa depan, meskipun hasilnya belum tentu kita nikmati sendiri. Dia lahir dari keyakinan bahwa setiap anak memiliki kemungkinan untuk menjadi lebih baik," ujarnya. Suasana di lokasi acara tampak khidmat. Para tamu undangan duduk rapi di bawah tenda putih yang melindungi mereka dari terik matahari Lhokseumawe. Bendera Yayasan Sukma Bangsa berkibar pelan tertiup angin, seolah menjadi saksi perjalanan dua dekade lembaga pendidikan tersebut.

Dari Sekolah Kehidupan hingga Diplomasi Kemanusiaan

Lestari menjelaskan bahwa Sukma Bangsa bukanlah institusi pendidikan biasa. Sekolah ini, katanya, lahir dari inisiasi Surya Paloh dengan semangat optimisme yang kini telah membuahkan hasil nyata. "Ini adalah sekolah kehidupan," tegasnya. Ia mengungkapkan bahwa angkatan pertama siswa Sukma Bangsa kini tersebar di tujuh penjuru dunia. Mereka ada yang menjadi pengajar di universitas ternama, hingga pemimpin yang membawa misi "Aceh tidak boleh mati." Yang menarik, Lestari juga menyinggung peran strategis Sukma Bangsa dalam diplomasi kemanusiaan. Guru dan sektor pendidikan kala itu tidak hanya melahirkan generasi berdaya saing, tetapi juga berperan dalam proses negosiasi pembebasan sandera di Mindanao, Filipina. Imbalannya? Pendidikan gratis bagi anak-anak dari sana.

Istiqomah di Tengah Disrupsi

Memasuki usia 20 tahun, Sukma Bangsa tetap berpegang pada nilai-nilai fundamental. Lestari memaknai istiqomah bukan sebagai penolakan terhadap perubahan, melainkan komitmen untuk setia pada kejujuran, belas kasih, keadilan, dan penghormatan terhadap kemanusiaan. Di era disrupsi saat ini, ia menegaskan bahwa nilai-nilai kemanusiaan adalah kompas yang tidak boleh tergerus dalam upaya mewujudkan cita-cita bangsa. Tantangan zaman memang berbeda. Teknologi mempercepat pengetahuan, tetapi ada satu hal yang tidak bisa dihadirkan oleh teknologi. "Tantangan hari ini sudah berbeda, teknologi mempercepat pengetahuan, tapi teknologi tidak dapat menghadirkan kasih sayang," tutupnya. Peringatan HUT ke-20 ini menjadi momentum refleksi bagi Yayasan Sukma Bangsa. Dari Lhokseumawe, pesan tentang pendidikan sebagai tindakan optimisme menggema, mengingatkan bahwa di balik setiap anak didik, ada keyakinan akan masa depan yang lebih baik.

Editor: Joko Susilo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar