UAS Unggah Foto Bocah Menangis di Pemakaman Ayah yang Tewas Dikeroyok gegara Curi Ayam, Soroti Ironi Kemiskinan

- Senin, 27 Juli 2026 | 10:50 WIB
UAS Unggah Foto Bocah Menangis di Pemakaman Ayah yang Tewas Dikeroyok gegara Curi Ayam, Soroti Ironi Kemiskinan

PARADAPOS.COM - Unggahan Ustaz Abdul Somad (UAS) di media sosial memicu gelombang empati publik. Ia membagikan foto seorang gadis kecil bernama Keysa yang menangis histeris saat pemakaman ayahnya di Bali. Sang ayah dilaporkan tewas dikeroyok massa setelah kedapatan mencuri seekor ayam. Dalam caption-nya, UAS menyoroti ironi negeri yang kaya sumber daya alam namun masih menyisakan warga yang terpaksa mencuri untuk bertahan hidup. Postingan ini telah dikomentari puluhan ribu warganet dan memicu diskusi tentang keadilan sosial serta kondisi ekonomi masyarakat.

Unggahan yang Menggugah Empati Publik

Foto Keysa, bocah perempuan yang tampak tak kuasa menahan tangis di samping pusara ayahnya, pertama kali diunggah melalui akun Facebook dan Instagram resmi UAS. Dalam gambar itu, raut kesedihan yang mendalam terpancar jelas. Peristiwa tragis ini terjadi di Bali, di mana sang ayah menjadi korban amuk massa karena aksi pencurian ayam. Kasus ini sontak menjadi perbincangan hangat di berbagai platform media sosial.

Puluhan ribu komentar membanjiri kolom unggahan UAS. Bukan hanya sekadar ungkapan belasungkawa, banyak warganet yang melontarkan kritik pedas terhadap kondisi sosial dan ekonomi bangsa. Mereka mempertanyakan bagaimana mungkin seorang kepala keluarga sampai nekat mencuri seekor ayam, dan mengapa nyawa harus menjadi taruhannya.

Isi Caption yang Penuh Ironi

Dalam unggahannya, UAS menuliskan sebuah narasi puitis yang sarat makna. Ia menyebut Keysa sebagai "anak kita, keponakan kita, adik kita, diri kita." Kalimat ini seolah ingin meruntuhkan sekat antara korban dan masyarakat luas, mengajak setiap orang untuk merasakan duka yang sama.

Lebih lanjut, ia menulis, "Mencuri ayam tidak benar. Tapi ayam dibayar dengan nyawa tidak bisa dibenarkan." Pernyataan ini menjadi inti dari kegelisahan yang ia sampaikan. Ia kemudian melontarkan pertanyaan retoris, "Mengapa saudara kita mencuri?"

Caption itu ditutup dengan gambaran ironis tentang negeri yang gemah ripah loh jinawi. "Emas, nikel, minyak dan gas melimpah. Negeri penuh berkah. Tapi rakyat susah," tulisnya. Ia juga menyandingkan gambaran "nenek tua mengais beras" dan "pak tua mencuri sawit" dengan "emas batangan dalam simpanan." Potongan video UAS yang membacakan narasi ini juga turut ia bagikan di media sosialnya.

Lima Kebutuhan Pokok Masyarakat Versi UAS

Sebelum peristiwa ini mencuat, dalam sebuah kesempatan lain, UAS sempat menerima kunjungan Utusan Khusus Presiden, Muhammad Mardiono. Dalam pertemuan itu, ia menyampaikan pandangannya mengenai apa yang paling dibutuhkan masyarakat saat ini. Menurutnya, ada lima poin utama yang jika terpenuhi, akan menciptakan suasana yang adem ayem.

Lima kebutuhan tersebut meliputi infrastruktur jalan yang baik, sekolah gratis, lapangan pekerjaan yang mudah diakses, biaya berobat yang disubsidi besar, serta tempat ibadah yang nyaman. "Kemanapun dia pergi jalan bagus, biaya murah sekolah dan gratis, lapangan pekerjaan murah, biaya berobat subsidi besar, tempat ibadah sarana dan prasarana baik, kalau itu dipenuhi maka akan adem ayem," ujar UAS kala itu.

Sosok Ustaz Abdul Somad

Ustaz Abdul Somad Batubara, atau yang akrab disapa UAS, adalah salah satu ulama dan pendakwah paling populer di Indonesia. Pria kelahiran Asahan, Sumatera Utara, 18 Mei 1977 ini kini berbasis di Pekanbaru, Riau. Ia memiliki spesialisasi di bidang Ilmu Hadis, Fikih, dan Tafsir Al-Qur’an.

Pendidikannya tempuh dari Universitas Al-Azhar di Kairo, Mesir, hingga meraih gelar doktor di Universitas Islam Omdurman, Sudan. Sebelum fokus berdakwah, ia pernah menjadi dosen di UIN Sultan Syarif Kasim Riau. Gaya dakwahnya yang lugas, tegas, namun diselingi humor ringan, membuatnya mudah diterima berbagai kalangan. Ia juga dikenal sebagai pelopor dakwah digital, sehingga dijuluki "Ustadz Zaman Now."

Di balik popularitasnya, kiprah UAS juga tak lepas dari kontroversi. Pernyataannya terkait simbol agama lain dan boikot produk tertentu pernah memicu kritik dan laporan hukum. Beberapa negara seperti Singapura, Inggris, dan Jerman bahkan menolak izin masuknya. Namun, para pendukungnya menilai ia hanya lantang menyampaikan kebenaran agama tanpa kompromi.

Kekayaan Alam Riau yang Melimpah

Provinsi Riau, yang menjadi basis dakwah UAS, dikenal sebagai Bumi Lancang Kuning. Wilayah ini merupakan salah satu daerah terkaya sumber daya alam di Indonesia. Sektor pertambangan, perkebunan, kehutanan, hingga perikanan menjadi tulang punggung ekonomi daerah.

Di sektor pertambangan, Riau adalah penghasil minyak bumi dan gas alam terbesar nasional. Blok Rokan, misalnya, pada masa jayanya mampu memproduksi 1,2 juta barel per hari. Selain itu, terdapat cadangan batu bara, emas, bauksit, dan timah. Sektor perkebunan juga sangat dominan, dengan luas areal kelapa sawit mencapai 3,87 juta hektare yang menghasilkan hampir 20 persen CPO nasional.

Kekayaan hutan hujan tropisnya menopang industri pulp dan kertas. Sementara itu, wilayah pesisir dan sungai besarnya kaya akan ikan, udang, dan kepiting. Namun, tantangan seperti alih fungsi lahan, penurunan cadangan migas, dan kerusakan lingkungan masih menjadi pekerjaan rumah yang belum tuntas.

Editor: Clara Salsabila

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar