FPCI Gelar Indonesia Net-Zero Summit 2026, Sorot Kesenjangan Antara Target Iklim dan Implementasi

- Rabu, 29 Juli 2026 | 23:25 WIB
FPCI Gelar Indonesia Net-Zero Summit 2026, Sorot Kesenjangan Antara Target Iklim dan Implementasi
PARADAPOS.COM - Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) akan menggelar Indonesia Net-Zero Summit (INZS) 2026 pada Sabtu, 1 Agustus 2026, di Balai Kartini, Jakarta. Mengusung tema “It’s Time to Deliver,” konferensi tahunan ini menyoroti urgensi implementasi aksi iklim di tengah tekanan geopolitik dan dinamika ekonomi global yang kian kompleks. Acara ini dijadwalkan menghadirkan lebih dari 50 pembicara dari berbagai sektor, termasuk menteri koordinator, utusan khusus PBB, dan pakar industri, untuk membahas transisi energi, pembiayaan hijau, serta diplomasi iklim.

Fokus pada Implementasi, Bukan Sekadar Target

Pendiri dan Ketua FPCI, Dino Patti Djalal, menegaskan bahwa tema tahun ini lahir dari keprihatinan terhadap kesenjangan antara komitmen iklim yang diumumkan dan realisasi di lapangan. Dalam sebuah jumpa pers di Jakarta pada Rabu, 29 Juli 2026, ia menyampaikan pandangannya dengan nada tegas. “Yang kita inginkan bukan hanya target yang ambisius, tetapi implementasi. Banyak program bagus di atas kertas, targetnya bagus, tetapi akhirnya tidak berjalan karena implementasinya tidak didorong dengan serius,” tuturnya. Dino menyambut positif komitmen pemerintah, termasuk target ambisius pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt. Namun, ia segera mengingatkan bahwa ukuran keberhasilan bukan terletak pada angka di atas kertas, melainkan pada eksekusi di dunia nyata. “Kami menyambut baik target itu, tetapi pertanyaannya sekarang adalah bagaimana kita mewujudkannya. Let’s deliver,” ujarnya.

Geopolitik dan Peluang Ekonomi dalam Transisi Energi

Selain soal implementasi teknis, INZS 2026 juga akan mengupas isu-isu strategis yang saling terkait, mulai dari keamanan energi, diplomasi iklim, perdagangan dan pembiayaan, solusi berbasis alam, hingga ketahanan masyarakat menghadapi perubahan iklim. Dino menilai situasi geopolitik global saat ini menjadi faktor yang tak bisa diabaikan. Meningkatnya belanja pertahanan di berbagai negara, menurutnya, berpotensi mengalihkan perhatian dan sumber daya yang sebelumnya dialokasikan untuk aksi iklim. Karena itu, ia mendorong negara-negara middle power, termasuk Indonesia, untuk mengambil peran lebih besar dalam menjaga kerja sama global di bidang perubahan iklim. “Climate diplomacy terbuka lebar bagi Indonesia. Kami melihat Indonesia perlu lebih aktif mengambil peran bersama negara-negara middle power lainnya dalam menjaga agenda iklim global,” katanya. Managing Director Energy Shift Institute, Putra Adhiguna, menambahkan perspektif lain. Menurutnya, transisi energi saat ini tidak lagi bisa dipandang semata-mata sebagai upaya mengurangi emisi. Ia melihatnya sebagai peluang ekonomi yang perlu dimanfaatkan secara serius. “Investasi global sudah bergeser ke energi bersih. Indonesia sekarang berada di persimpangan, apakah hanya melihat perubahan iklim sebagai risiko atau juga sebagai peluang pembangunan ekonomi dan industrialisasi hijau,” jelasnya.

Lebih dari 50 Pembicara dari Berbagai Sektor

INZS 2026 akan menghadirkan diskusi yang melibatkan lebih dari 50 pembicara. Mereka berasal dari kalangan pemerintah, organisasi internasional, akademisi, dunia usaha, hingga lembaga riset. Beberapa nama yang dijadwalkan hadir antara lain Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Utusan Khusus Sekretaris Jenderal PBB untuk Isu Air Retno Marsudi, Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat, serta Utusan Khusus Perubahan Iklim Republik Rakyat Tiongkok Liu Zhenmin. Konferensi ini akan menjadi wadah diskusi mendalam mengenai berbagai topik krusial. Mulai dari target pembangunan 100 gigawatt energi surya, pembiayaan transisi energi, industrialisasi hijau, kerja sama Indonesia-Tiongkok di bidang iklim dan energi, aksi iklim perkotaan, hingga elektrifikasi sebagai bagian dari upaya mencapai target net-zero Indonesia. Suasana di Balai Kartini nanti diperkirakan akan dipenuhi dengan dialog lintas sektor yang mencari terobosan nyata, bukan sekadar seremonial belaka.

Editor: Clara Salsabila

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar