PSI: Sambutan Hangat untuk Jokowi di NTT adalah Pengakuan atas Warisan Pembangunan

- Sabtu, 01 Agustus 2026 | 13:00 WIB
PSI: Sambutan Hangat untuk Jokowi di NTT adalah Pengakuan atas Warisan Pembangunan

PARADAPOS.COM - Sambutan hangat masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) terhadap Presiden ke-7 RI, Joko Widodo, dinilai bukan sekadar euforia politik. Ketua Harian DPP Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Ahmad Ali, menegaskan bahwa apresiasi tersebut merupakan bentuk pengakuan publik atas rekam jejak pembangunan yang nyata selama satu dekade terakhir. Menurutnya, kedatangan Jokowi ke NTT kali ini bukan hanya kunjungan seorang mantan presiden, melainkan sebuah pertemuan dengan pemimpin yang karya-karyanya masih dirasakan manfaatnya hingga hari ini. Ahmad Ali menyampaikan pandangan tersebut di tengah riuhnya antusiasme warga yang menyambut Jokowi dalam agenda Car Free Day (CFD) di Kupang. Suasana keakraban tampak jelas ketika pria yang akrab disapa Pak Jokowi itu berbaur dengan warga, sebuah momen yang menurut pengamat politik menjadi cermin kedekatan emosional antara pemimpin dan rakyatnya.

Membangun dari Pinggiran: Warisan Pembangunan di Bumi Flobamora

Ahmad Ali menjelaskan bahwa di bawah kepemimpinan Joko Widodo, NTT menjadi salah satu prioritas utama dalam agenda pembangunan yang berperspektif Indonesia-sentris. Kebijakan ini secara fundamental mengubah arah pembangunan yang sebelumnya cenderung Jawa-sentris. “Rakyat selalu memiliki cara untuk menghargai pemimpin yang bekerja dengan sungguh-sungguh. Mereka tidak hanya mengingat pidato, tetapi juga mengingat hasil kerja yang mereka rasakan dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Ahmad Ali. Salah satu bukti nyata yang disebutkannya adalah pembangunan infrastruktur strategis. Beberapa bendungan besar seperti Raknamo, Rotiklot, Napun Gete, dan Temef kini berdiri megah, menjawab persoalan ketersediaan air dan menjadi tulang punggung ketahanan pangan daerah. Selain itu, peningkatan kualitas jalan, pelabuhan, bandara, hingga kawasan perbatasan terus digenjot untuk membuka akses dan kesempatan ekonomi yang lebih merata bagi masyarakat di wilayah timur Indonesia.

Labuan Bajo: Dari Daerah Tertinggal Menuju Ikon Pariwisata Dunia

Menurut Ahmad Ali, salah satu warisan terbesar pemerintahan Joko Widodo di NTT adalah transformasi Labuan Bajo. Kawasan yang dulunya kurang dikenal ini kini telah bertransformasi menjadi destinasi pariwisata kelas dunia. Penataan kawasan yang terpadu, pengembangan Bandara Komodo, serta peningkatan infrastruktur pendukung lainnya berhasil menarik investasi dan mengangkat nama Labuan Bajo ke kancah internasional. “Selama bertahun-tahun, NTT sering dipandang sebagai daerah yang tertinggal. Pak Jokowi mengubah cara pandang itu dengan menghadirkan pembangunan yang nyata dan menempatkan Indonesia Timur sebagai bagian penting dari masa depan bangsa. Itulah mengapa kedatangannya hari ini bukan sekadar kunjungan seorang mantan Presiden, tetapi kunjungan seorang pemimpin yang pernah meninggalkan jejak pembangunan yang masih dirasakan masyarakat,” lanjutnya.

Kedewasaan Demokrasi dan Objektivitas Publik

Lebih jauh, Ahmad Ali menekankan bahwa dalam sebuah demokrasi, perbedaan pilihan politik adalah hal yang lumrah. Namun, ia mengingatkan bahwa menghargai kontribusi nyata seorang pemimpin adalah wujud kedewasaan berdemokrasi. Masyarakat, menurutnya, mampu membedakan antara sikap politik dan apresiasi atas kinerja. “Kita boleh berbeda pilihan politik, tetapi kita juga harus objektif melihat fakta. Ketika bendungan berdiri, jalan terbangun, akses ekonomi terbuka, pariwisata berkembang, dan masyarakat merasakan manfaatnya, maka itu adalah karya yang akan selalu diingat. Jabatan bisa berakhir, tetapi pengabdian yang dirasakan rakyat akan selalu hidup dalam ingatan mereka,” ujar Ahmad Ali. Ahmad Ali berharap kunjungan Joko Widodo ke NTT dapat menjadi momentum untuk mempererat silaturahmi dengan masyarakat. Lebih dari itu, momen ini diharapkan menjadi pengingat bahwa pembangunan yang berkelanjutan hanya dapat diwujudkan melalui kerja nyata yang berpihak kepada kepentingan rakyat banyak.

Editor: Annisa Rachmad

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar