PARADAPOS.COM - Pemerintah meluncurkan program pelatihan kerajinan anyaman eceng gondok di kawasan Borobudur, Magelang, sebagai upaya strategis menciptakan lapangan kerja dan memberdayakan ekonomi masyarakat setempat. Inisiatif yang digagas Kementerian Sosial bersama pemerintah daerah dan pelaku usaha ini diharapkan dapat menjadi solusi praktis mengatasi kemiskinan dengan memanfaatkan sumber daya lokal.
Pelatihan Anyaman Eceng Gondok Diharapkan Tingkatkan Pendapatan Warga
Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono secara langsung meninjau pelaksanaan pelatihan di Balai Ekonomi Desa (Balkondes) Bumiharjo, Kamis (12/2/2026). Kunjungan ini menegaskan komitmen pemerintah untuk mendorong kemandirian masyarakat melalui pengembangan keterampilan yang berorientasi pada pasar.
Dalam sambutannya, Agus Jabo mendorong para peserta untuk bersungguh-sungguh. Ia menekankan bahwa pelatihan ini merupakan pintu awal untuk mengubah kondisi ekonomi.
"Dengan kita latihan ini, kita ingin berhijrah. Berhijrah dari kemarin-kemarin yang belum punya pendapatan, mudah-mudahan nanti dengan kita membikin anyaman yang kemudian menjadi tempat sampah, kemudian menjadi tali dan lain-lain, itu akan menjadikan kita punya penghasilan," ucapnya di hadapan para peserta.
Mewujudkan Visi Presiden untuk Kemandirian Rakyat
Agus Jabo lebih lanjut menjelaskan bahwa program ini selaras dengan arahan Presiden Prabowo Subianto yang menginginkan seluruh rakyat Indonesia berdaya dan mandiri secara ekonomi. Kemandirian, menurutnya, adalah fondasi bagi kesejahteraan yang menyeluruh.
"Apa mandiri itu? Seluruh rakyatnya bisa punya penghasilan sendiri, punya pendapatan sendiri. Supaya apa? Supaya iso (bisa) tersenyum, iso gemuyu (bisa tertawa), iso seneng uripe (bisa senang hidupnya), rumah tanggane rukun, anake iso sekolah (anaknya bisa sekolah), yen wis wafat munggah suwargo (yang sudah wafat naik ke surga)," jelasnya.
Ia pun kembali mengajak seluruh peserta untuk menangkap peluang ini dengan serius, mengingat besarnya harapan yang disematkan pada program percontohan ini.
"Jadi Pak Presiden tidak ingin rakyatnya susah. Pak Presiden ingin rakyatnya bisa gemuyu, Pak Presiden ingin supaya rakyatnya bisa hidup makmur, hidup sejahtera, bahagia lahir dan batin. Saya mohon panjenengan (bapak-ibu) serius," ungkap Agus Jabo. "Ini baru awal-awal. Mudah-mudahan nanti bisa berkembang dan bisa melibatkan saudara-saudara kita yang lain," tambahnya.
Dukungan Pemerintah Daerah dan Potensi Pasar Ekspor
Antusiasme terhadap program ini juga disampaikan oleh Camat Borobudur, Subiyanto. Ia melihat pelatihan ini sebagai langkah taktis yang dapat memantik geliat ekonomi di wilayahnya.
"Semoga ini menjadi langkah taktis dan strategis dalam mengentaskan kemiskinan warga kami. Besar harapan kami, pelatihan ini menjadi pemantik, menggeliat dan berkembangnya pemberdayaan masyarakat, pertumbuhan ekonomi masyarakat di wilayah kami," kata Subiyanto.
Dukungan juga datang dari sektor swasta. Arung Lusika, Direktur Operasional PT Out of Asia, mengungkapkan bahwa pasar untuk produk anyaman eceng gondok terbuka lebar, bahkan hingga ke luar negeri. Ia menilai semangat peserta di Borobudur sangat tinggi.
"Monggo, diseriusi. Kalau diperlukan, saya akan support wilayah Borobudur. Resourcenya sudah ada, kemampuannya sudah ada, tinggal kita berpikir bagaimana melahirkan produk yang bisa diserap di pasar ekspor internasional," ujar Arung. "Dan kita masuk ke Borobudur, kalau melihat situasinya ini, semangatnya melebihi dari pelatihan-pelatihan sebelumnya," ungkap dia.
Kunjungan ke Sentra Usaha Lain sebagai Bentuk Dukungan Nyata
Tak hanya meninjau pelatihan anyaman, Agus Jabo juga mengunjungi rumah produksi sablon 'Karyaku' di Desa Karanganyar yang mendapat bantuan mesin dari Kemensos. Di sana, ia menerima kaos hasil karya warga, salah satunya bergambar Pangeran Diponegoro, yang langsung ia kenakan.
Kunjungan ini menutup agenda dengan gambaran nyata tentang bagaimana dukungan peralatan dan pelatihan dapat melahirkan usaha kreatif yang menjanjikan. Program pemberdayaan di Borobudur pun tampak dirancang untuk menyentuh berbagai potensi ekonomi kerakyatan yang ada.
Artikel Terkait
XL Axiata Catat Kerugian Rp4,42 Triliun di 2025 Didorong Lonjakan Beban Operasional
IHSG Anjlok Lebih dari 1% di Awal Perdagangan, Tekanan Jual Masih Kuat
Presiden Prabowo Resmikan Pembangunan Dapur Gizi Gratis Polri di Palmerah
Garuda Indonesia Berlakukan Diskon Tiket Mudik Lebaran hingga 18%