PARADAPOS.COM - Texas Precious Metals, perusahaan dealer logam mulia yang berbasis di New York, menyatakan sikap optimisnya terhadap prospek emas dan perak dalam jangka panjang meskipun harga kedua komoditas tersebut sedang mengalami pelemahan. Perusahaan menilai koreksi harga yang terjadi saat ini justru membuka peluang akumulasi bagi investor, ditopang oleh pembelian agresif bank sentral dan meningkatnya permintaan ritel. Proyeksi tren kenaikan disebut akan bertahan selama dua hingga tiga tahun ke depan, kendati perak baru saja merosot tajam dari level tertingginya. Adapun perusahaan menegaskan fokusnya pada posisi jangka panjang, bukan pada upaya mengatur waktu pergerakan pasar dalam beberapa bulan ke depan.
Komentar tersebut muncul di tengah aksi jual yang membebani pasar logam mulia dalam beberapa pekan terakhir. Meski demikian, harga emas dan perak masih berada di dekat level tertinggi secara historis berkat reli multi-tahun yang dipicu oleh pembelian bank sentral, ketidakpastian geopolitik, serta permintaan investor yang konsisten terhadap aset safe-haven. Para pelaku pasar kini mencermati apakah pembelian sektor resmi dan arus masuk dana ETF mampu menopang harga setelah volatilitas yang terjadi belakangan ini.
Bank Sentral dan Permintaan Ritel Jadi Motor Penggerak
CEO Texas Precious Metals, Tarek Saab, mengungkapkan bahwa pembelian oleh bank sentral telah menjadi pendorong utama reli logam mulia dan diperkirakan akan berlanjut. Sementara itu, minat investor ritel juga menguat sejak pandemi Covid-19, terlihat dari peningkatan arus masuk dana yang diperdagangkan di bursa (ETF).
Saab menghubungkan lonjakan permintaan sektor resmi dengan pergeseran geopolitik pasca penghapusan Rusia dari sistem pembayaran internasional SWIFT pada tahun 2022. Langkah tersebut, tuturnya, mendorong banyak bank sentral untuk menambah kepemilikan emas sebagai bagian dari upaya diversifikasi cadangan yang lebih luas. Ia menegaskan bahwa pembelian tersebut bersifat luas dan tidak terbatas pada Tiongkok.
"Pembelian oleh bank sentral telah menjadi pendorong utama reli logam mulia baru-baru ini dan kemungkinan akan berlanjut," ujar Saab.
Di sisi ritel, Saab menyebut kepemilikan logam mulia di Amerika Serikat masih rendah, sekitar 0,5 hingga satu persen dari populasi. Angka itu jauh di bawah tingkat yang terlihat di pasar seperti India dan Tiongkok, sehingga masih ada ruang untuk adopsi lebih lanjut dari waktu ke waktu.
Ekspansi ETF dan Penyimpanan Fisik di AS
Texas Precious Metals juga tengah memperluas bisnis ETF-nya dengan fokus pada penyimpanan logam fisik di Amerika Serikat. Perusahaan menyebut sekitar 85 persen logam yang mendukung ETF saat ini disimpan di luar negeri, terutama di London. Saab mengonfirmasi bahwa dua ETF pertama perusahaan dirancang untuk memenuhi permintaan penyimpanan berbasis di AS, dan produk tambahan sedang direncanakan.
"Kepemilikan logam mulia di Amerika Serikat masih rendah, sekitar 0,5 hingga satu persen dari populasi," jelasnya.
Perusahaan ini akan menutup perdagangan di Nasdaq pada Jumat, 31 Juli 2026, dan menjadi penerbit ETF ke-10 yang menutup perdagangan di bursa tersebut tahun ini. Meskipun terjadi penurunan harga baru-baru ini, perusahaan tetap berpegang pada pandangan bahwa tren naik jangka panjang akan tetap utuh, dengan fundamental pasar yang masih mendukung.
Editor: Yuli Astuti
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Telur Ayam Ras Tembus Rp29.650 per Kilogram, Bawang Merah Sentuh Rp40.450
Kapolri Tegaskan Semangat Hoegeng Jadi Pedoman Perkuat Integritas dan Kepercayaan Publik
Putra Mahkota Saudi Desak Trump Batalkan Rencana Serangan ke Iran
SIM Keliling Polda Metro Jaya Kembali Beroperasi Hari Ini di Duren Sawit dan Kebon Jeruk, Ini Syarat dan Biayanya