BMKG Genjot Operasi Modifikasi Cuaca untuk Isi 240 Bendungan Kering Akibat El Niño

- Selasa, 04 Agustus 2026 | 06:25 WIB
BMKG Genjot Operasi Modifikasi Cuaca untuk Isi 240 Bendungan Kering Akibat El Niño

PARADAPOS.COM - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menggencarkan operasi modifikasi cuaca (OMC) untuk mengantisipasi dampak El Niño yang memicu kemarau panjang. Langkah ini difokuskan untuk mengisi 240 bendungan yang mengalami kekeringan parah, guna menjaga pasokan air baku, irigasi, dan pembangkit listrik. Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menyatakan bahwa koordinasi lintas kementerian telah berjalan sejak prediksi kemarau yang bertepatan dengan El Niño muncul pada Maret lalu.

Faisal menegaskan bahwa kesiapan menghadapi fenomena iklim ini tidak bisa ditawar lagi. Menurutnya, antisipasi dini jauh lebih efektif ketimbang menunggu dampak meluas. Berbagai langkah pun telah disiapkan, mulai dari apel siaga hingga koordinasi teknis dengan kementerian terkait untuk menjaga ketahanan air dan pangan nasional.

Koordinasi Lintas Sektor untuk Mitigasi Kekeringan

Dalam Dialog Nasional bertajuk "Memperkuat Respons Lintas Sektor Dalam Menghadapi Dampak El Niño Kuat" yang digelar Selasa (4/8/2026), Faisal memaparkan sejumlah langkah konkret yang telah diambil. Ia menyebutkan bahwa pihaknya telah melaksanakan apel siaga di beberapa wilayah rawan, termasuk Riau dan Kalimantan Barat, serta Kalimantan Tengah pada pekan sebelumnya. Langkah ini merupakan bagian dari persiapan menghadapi potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kerap menyertai musim kemarau.

“Kita perlu mempersiapkan diri, sehingga kita telah melaksanakan beberapa kali apel siaga di Riau, di Kalimantan Barat, lalu minggu lalu di Kalimantan Tengah kemarin lusa, mempersiapkan menghadapi kebakaran hutan dan lahan. Juga dengan Kementerian PUPR, kita telah berkoordinasi dalam rangka mengisi bendungan-bendungan yang saat ini mengalami kekeringan,” kata Faisal dalam kesempatan tersebut.

Ia menambahkan, dampak El Niño tidak hanya berhenti pada sektor pertanian. Ancaman terhadap ketersediaan sumber daya air menjadi perhatian serius, terutama bagi wilayah-wilayah yang bergantung pada pasokan dari bendungan. Oleh karena itu, BMKG bersama Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) bergerak cepat melakukan operasi modifikasi cuaca untuk meningkatkan cadangan air di bendungan yang mulai kritis.

Mengapa Tindakan Segera Diperlukan?

Faisal menjelaskan bahwa karakteristik El Niño tahun ini membuat musim kemarau berpotensi lebih panjang dari biasanya. Musim hujan diperkirakan mundur, sementara curah hujan cenderung menurun dan suhu udara meningkat. Kondisi ini diperparah dengan respons Bumi yang lebih lambat terhadap perubahan tersebut, sehingga suhu diperkirakan masih akan terus naik dalam beberapa waktu ke depan.

“Pertanyaannya, mengapa kita harus bertindak sekarang? El Niño ini menyebabkan musim kemarau menjadi lebih panjang, musim hujan datangnya lebih lambat, curah hujannya menurun, serta suhu udara meningkat. Suhu udaranya masih akan meningkat karena Bumi merespons dengan lebih lambat, ya,” tuturnya.

Dampak dari kemarau panjang ini cukup beragam. Di sektor pangan, risiko penurunan produksi dan gangguan kalender tanam menjadi ancaman nyata. Sementara di sektor sumber daya air, ketersediaan air baku bisa menurun drastis, kapasitas waduk berkurang, dan sistem irigasi untuk lahan pertanian ikut terganggu.

Fokus Pengisian Waduk di Jawa

Salah satu prioritas operasi modifikasi cuaca saat ini adalah pengisian waduk-waduk di Pulau Jawa. Faisal mengungkapkan bahwa koordinasi teknis telah berjalan antara Deputi Modifikasi Cuaca dengan Dirjen Sumber Daya Air untuk menargetkan 240 bendungan yang mengalami kekeringan terparah.

“Ini kita sedang melakukan OMC untuk pengisian waduk-waduk di Jawa. Koordinasi antara deputi modifikasi cuaca. Ini Pak Doktor Seto, yang sudah langsung berkoordinasi dengan Dirjen Sumber Daya Air untuk mengisi 240 bendungan. Bukan semuanya, tapi yang mengalami kekeringan terparah,” ujarnya.

Strategi ini dinilai penting untuk menjaga keberlanjutan pasokan air, baik untuk kebutuhan domestik maupun untuk mendukung aktivitas pembangkit listrik. Dengan cadangan air yang cukup, diharapkan roda perekonomian dan kehidupan masyarakat tidak terganggu meski musim kemarau berkepanjangan.

Paradigma Preventif dalam Penanganan Karhutla

Selain untuk menjaga ketersediaan air, operasi modifikasi cuaca juga dimanfaatkan sebagai bagian dari strategi mitigasi kebakaran hutan dan lahan. Faisal menekankan bahwa pendekatan penanganan karhutla kini lebih mengedepankan langkah preventif dibandingkan sekadar pemadaman setelah kebakaran terjadi. Sejak 2015, BMKG telah menerapkan paradigma preventif ini.

“Kalau dulu kami hanya menunggu terbakar, kemudian kita padamkan. Sekarang kami coba sebelum terbakar. Kementerian Lingkungan Hidup memiliki data fluktuasi muka air di gambut. Kurang dari 1 meter, BMKG bekerja sama dengan BNPB itu melakukan operasi modifikasi cuaca untuk menaikkan muka air, menjenuhkan tanah sehingga lebih sulit untuk terbakar,” jelasnya.

Dengan menjenuhkan tanah gambut, risiko kebakaran dapat ditekan secara signifikan. Langkah ini dinilai jauh lebih efisien dan berdampak lebih kecil dibandingkan harus memadamkan api yang sudah membesar. Operasi modifikasi cuaca pun menjadi instrumen kunci dalam menjaga ketahanan sumber daya air sekaligus mendukung upaya penanggulangan karhutla secara menyeluruh.

Editor: Reza Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini