PLN Proyeksikan Kebutuhan Gas untuk Pembangkit Listrik Naik 4,5 Persen per Tahun Hingga 2034

- Rabu, 05 Agustus 2026 | 10:00 WIB
PLN Proyeksikan Kebutuhan Gas untuk Pembangkit Listrik Naik 4,5 Persen per Tahun Hingga 2034

PARADAPOS.COM - Bali, 5 Agustus 2026 — Ketidakpastian geopolitik global kembali menegaskan bahwa ketahanan energi (energy security) bukan lagi sekadar wacana, melainkan kebutuhan mendesak. Dalam konteks ini, gas alam cair (LNG) asal dalam negeri diposisikan sebagai energi fosil paling bersih yang menjadi penopang utama transisi energi dan keandalan sistem kelistrikan nasional. Hal ini mengemuka dalam gelaran The 5th IndoPACIFIC LNG Summit 2026 di Intercontinental Resort Jimbaran, Bali, di mana PT PLN (Persero) memaparkan proyeksi pertumbuhan kebutuhan gas yang signifikan seiring melonjaknya konsumsi listrik dari sektor industri, elektrifikasi transportasi, kawasan ekonomi baru, hingga pusat data (data center) yang diprediksi membutuhkan tambahan listrik sekitar 15 gigawatt dalam lima tahun ke depan. Gas: Penyeimbang di Tengah Dominasi EBT Direktur Perencanaan Korporat dan Pengembangan Bisnis PT PLN (Persero) sekaligus Pelaksana Harian Direktur Utama PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI), Rakhmad Dewanto, menegaskan bahwa pertumbuhan kebutuhan gas tidak bisa dilepaskan dari dinamika permintaan listrik nasional. Ia menyebut, kebutuhan energi primer nasional diproyeksikan naik sekitar 2 persen per tahun, sementara permintaan listrik tumbuh jauh lebih tinggi, yakni di kisaran 4,6 hingga 5,4 persen per tahun. "Permintaan listrik Indonesia akan terus meningkat. Karena itu kita membutuhkan pasokan energi yang aman, andal, dan fleksibel. Dalam konteks tersebut, gas tidak hanya berperan sebagai energi transisi, tetapi juga menjadi bagian penting dalam menjaga ketahanan sistem kelistrikan nasional," ujar Rakhmad saat menyampaikan paparannya dalam acara tersebut, Rabu, 5 Agustus 2026. Kondisi ini menuntut ketersediaan pasokan gas dan LNG yang semakin andal. Bukan hanya untuk menjaga fleksibilitas sistem tenaga listrik di tengah fluktuasi pembangkit surya maupun angin, tetapi juga untuk mendukung peningkatan pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT) secara masif. Lonjakan Kebutuhan dan Peran Strategis LNG Mengacu pada Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034, produksi listrik nasional diproyeksikan melonjak dari 304,4 TWh menjadi 584,3 TWh. Pada periode yang sama, porsi pembangkit berbasis batu bara akan turun ke angka sekitar 47 persen, sementara kontribusi EBT meningkat signifikan hingga 33 persen. Di sinilah peran LNG sebagai energi penyeimbang (balancing fuel) menjadi krusial, terutama ketika pasokan dari pembangkit berbasis surya dan angin mengalami penurunan akibat kondisi cuaca. PT PLN (Persero) memproyeksikan kebutuhan gas untuk pembangkit listrik nasional akan tumbuh rata-rata sekitar 4,5 persen per tahun. Angkanya diperkirakan meningkat dari 1.748 Billion British Thermal Unit per Day (BBTUD) pada 2026 menjadi hampir 2.490 BBTUD pada 2034. Seiring pertumbuhan tersebut, porsi Liquefied Natural Gas (LNG) dalam pasokan gas PLN diperkirakan meningkat dari 57 persen menjadi 67 persen. Hal ini mempertegas posisi LNG sebagai tulang punggung keandalan sistem kelistrikan sekaligus penopang transisi energi nasional. Mengamankan Pasokan dan Infrastruktur Masa Depan Untuk mengantisipasi lonjakan kebutuhan tersebut, PLN EPI tidak tinggal diam. Langkah pengamanan pasokan dilakukan melalui kontrak gas dan LNG jangka panjang bersama sejumlah mitra strategis, seperti West Natuna Exploration Limited (WNEL), Mubadala Energy, INPEX, dan South Hub. Kerja sama ini mencakup pasokan gas hingga 300 BBTUD dan kontrak LNG lebih dari 49 juta ton, memberikan kepastian pasokan energi primer bagi sistem kelistrikan nasional dalam jangka panjang. Di sisi lain, pembangunan infrastruktur LNG nasional juga dipercepat. PLN tengah mengembangkan Floating Storage and Regasification Unit (FSRU) di Jawa Barat, Jawa Timur, Bali, dan Cilegon. Selain itu, pembangunan klaster gasifikasi di Indonesia Timur serta peningkatan kapasitas penyimpanan LNG nasional menjadi sekitar 1,2 juta meter kubik dengan kapasitas regasifikasi mencapai 3.850 MMSCFD juga tengah digenjot. Infrastruktur ini dirancang untuk meningkatkan fleksibilitas distribusi LNG sekaligus memperkuat ketahanan rantai pasok energi di tengah dinamika geopolitik global yang tidak menentu. "Kita tetap mendorong peningkatan energi baru dan terbarukan. Namun sistem kelistrikan juga harus tetap andal. Di sinilah gas memiliki peran strategis untuk menjaga keseimbangan antara keamanan energi, keterjangkauan harga, dan keberlanjutan," kata Rakhmad. Dari paparan tersebut, jelas bahwa transisi energi bukanlah soal mengganti seluruh energi fosil secara instan, melainkan tentang membangun jembatan yang kokoh menuju masa depan yang lebih hijau. Gas, dengan segala keterbatasannya, masih menjadi mitra penting dalam perjalanan panjang tersebut.

Editor: Rico Ananda

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini