Dama Kara Buktikan Kolaborasi dengan Penyandang Disabilitas Tembus Pasar Internasional

- Minggu, 09 Agustus 2026 | 13:00 WIB
Dama Kara Buktikan Kolaborasi dengan Penyandang Disabilitas Tembus Pasar Internasional

PARADAPOS.COM - Di tengah hiruk-pikuk industri mode nasional yang kerap kali eksklusif, hadir sebuah inisiatif yang mencoba merombak paradigma lama. Dama Kara, sebuah brand fesyen yang didirikan pada awal 2020, membuktikan bahwa kolaborasi dengan penyandang disabilitas bukan sekadar aksi sosial, melainkan sebuah lompatan bisnis yang menjanjikan. Data Kementerian Ketenagakerjaan mencatat, dari sekitar 17 juta difabel usia produktif, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) mereka hanya 20,14 persen pada 2025. Angka ini menjadi ironi di tengah potensi besar yang tersembunyi, dan Dama Kara hadir untuk menjembatani kesenjangan tersebut, bahkan hingga menembus pasar internasional.

Perjalanan ini berawal dari keresahan mendalam sang pendiri, Nurdini Prihastiti, yang akrab disapa Dini. Melalui Dama Kara, ia mengajak kawan-kawan difabel untuk tidak hanya berkarya, tetapi juga menghidupi diri mereka sendiri. Goresan imajinasi mereka disulap menjadi produk fesyen bernilai ekonomi tinggi, membuktikan bahwa keterbatasan fisik tidak pernah menjadi halangan untuk berkarya. Komitmen ini ia tegaskan dalam siaran persnya pada Minggu, 9 Agustus 2026.

"Saya berkomitmen membuat Dama Kara sebagai sebuah wadah penyandang disabilitas ini untuk bisa berkarya dan merangkul mereka. Kami percaya bahwa sejatinya berkarya itu tidak mengenal keterbatasan," tutur Dini, pendiri Dama Kara sekaligus CEO Dama Kara Foundation.

Musibah yang Menjadi Berkah

Lahirnya ekosistem inklusif ini ternyata tidak dimulai dari panggung yang gemerlap. Dini, lulusan Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat IPB University, awalnya menikmati karier korporat yang mentereng. Namun, ada kehampaan yang terus menghantuinya. Ia memutuskan untuk resign, pindah ke Bandung untuk mengambil S2 Administrasi Bisnis di ITB, dan merintis bisnis konveksi bersama suaminya. Keputusan ini diambilnya setelah melalui perenungan panjang tentang makna berkarya.

Ia mengungkapkan, "Saya merasa dengan berbisnis, manfaat yang bisa saya berikan sepertinya akan lebih banyak. Dalam artian, saya bisa menciptakan lapangan pekerjaan untuk orang-orang di sekitar saya ataupun membuat bisnis yang memiliki manfaat lebih banyak lagi."

Namun, ujian datang di saat bisnisnya mulai berjalan. Sebuah kapal yang mengangkut produk pesanan kliennya ludes terbakar di perairan Kalimantan. Kerugian mencapai ratusan juta rupiah, sebuah pukulan telak yang hampir meruntuhkan semangatnya. Justru di titik nadir itulah, perspektif Dini tentang hidup dan bisnis berubah total.

"Nah, di titik itu yang kemudian menyadarkan saya bahwa sebenarnya semua yang kita miliki ini titipan Tuhan. Akhirnya saya dan suami sepakat bahwa kita kayaknya kurang beramal. Kalau (pesanan) salah size atau kualitasnya kurang, kita bisa perbaiki. Tapi kalau barang terbakar di tengah laut, itu kan sesuatu yang di luar kuasa kami sebagai manusia," ucapnya dengan nada reflektif.

Momen spiritual inilah yang menjadi titik balik. Dama Kara lahir pada awal 2020, awalnya memberdayakan perajin perempuan di Jawa Barat dengan harapan mereka mendapatkan tambahan pendapatan. Namun, panggilan hati Dini membawanya lebih jauh, untuk merangkul kelompok yang jauh lebih rentan: penyandang disabilitas.

Menyulap Imajinasi Menjadi Karya Adibusana

Ide untuk memberdayakan penyandang disabilitas tidak datang secara instan. Dini terinspirasi oleh Iris Grace, seorang anak berkebutuhan khusus asal Inggris yang karya lukisnya mendunia. Dari situlah, ia meluncurkan Dama Kara Foundation pada 2024. Berkolaborasi dengan Our Dream Indonesia dan Art Therapy Center (ATC) Widyatama, Dini menggelar kelas gambar one-on-one gratis bagi para difabel.

"Kami mendampingi mereka supaya mereka bisa, dari sekadar suka menggambar sampai akhirnya bisa dan menemukan kekhasan dari karya-karya mereka. Kami percaya bahwa sesuatu itu enggak datang secara instan. Kami hanya memastikan bahwa mereka memang enjoy," ujarnya menjelaskan pendekatan yang digunakan.

Dini sangat memahami bahwa akses pendidikan formal bagi difabel seringkali terbatas, mayoritas hanya sampai bangku SMA/SMK. "Setelah itu enggak ada ruang lagi untuk mereka berkontribusi. Akhirnya kami mencoba merangkul tidak ada batasan usia maksimum," katanya menegaskan inklusivitas program tersebut.

Yang menarik, program ini sepenuhnya gratis. Dama Kara menerapkan sistem subsidi silang dari keuntungan bisnisnya. "Mereka tidak dipungut biaya sepeser pun. Dari proses seleksi sampai mereka berkarya, dari art fasilitator sampai alat-alat gambar, semuanya disediakan Dama Kara. Dari tiap koleksi di Dama Kara (yang terjual), kami sisihkan sebagian untuk men-support kelas teman-teman berkebutuhan khusus," ungkap Dini.

Perjuangan Hidup dan Efek Bola Salju Kebaikan

Jiwa sociopreneur Dini tidak terbentuk dalam semalam. Sejak ditinggal sang ayah di kelas 2 SMP, ia sudah terbiasa mandiri. Demi membantu ekonomi keluarga, Dini kecil mulai berjualan di lingkungan sekolahnya.

"Kalau siang saya duduk di madrasah atau sekolah agama ada yang jajan, saya ngelihat, 'wah, ini peluang untuk jualan'. Akhirnya saya minta modal ke bapak Rp5 ribu untuk saya belikan jajanan yang kemudian saya jual," kenang Dini tentang masa kecilnya.

Semangat hustling ini terus terbawa hingga ia kuliah di IPB. "Jualan mungkin lebih ke hobi ya. Saya suka bertemu dan berinteraksi dengan orang. Toh, waktu itu akhirnya bisa menabung untuk membayar biaya kos. Selain hobi, ternyata bisa mengurangi pengeluaran," katanya seraya tergelak mengenang masa itu.

Kepekaan terhadap masalah sosial juga ia asah selama masa kuliah. Kegiatan lapangan yang kerap mengharuskannya turun ke masyarakat memberinya pelajaran berharga. "Kita menggali problem di masyarakat, kemudian membuat analisis dan mengusulkan program yang cocok. Kita coba melihat keseharian dan menemukan masalah utama yang sering kali berbeda dari yang mereka sampaikan," ungkapnya.

Sadar akan kondisi finansial keluarganya, Dini juga aktif menjadi scholarship hunter. "Hampir setiap minggu saya melihat majalah dinding kampus yang menempel informasi tentang beasiswa," ujarnya. Perjuangannya membuahkan hasil saat ia menjadi awardee Tanoto Foundation, sebuah momen yang me-recharge empati sosialnya.

"Beasiswa Tanoto Foundation waktu itu sangat membantu. Bukan hanya memberikan SPP dan uang saku, tapi juga mengadakan kegiatan kepemimpinan yang dihadiri oleh banyak mahasiswa dari kampus-kampus lain," tuturnya.

"Banyak yang terbantu oleh Tanoto Foundation. Bukan hanya saya, tapi ratusan bahkan ribuan teman-teman lain. Ketika kita dikumpulkan dan mendengarkan kisah-kisah penuh perjuangan, terlintas juga kapan saya bisa mulai berbagi kalau tidak dari sekarang," ungkap Dini mengenang masa-masa tersebut.

Kini, kerja keras Dini dan timnya tidak sia-sia. Karya kolaborasi Dama Kara dengan kawan-kawan difabel telah menembus pasar internasional. Produk fesyen mereka dipakai oleh para influencer dan diekspor ke Singapura, Malaysia, Taiwan, dan Korea Selatan. Bahkan, koleksi wastra Nusantara berhias karya disabilitas ini sukses tampil di Indonesia International Modest Fashion Festival (IN2MF) di Perancis dan Handarty Korea di Korea Selatan.

Di tengah kesuksesan tersebut, Dini tetap membumi. Baginya, bisnis sejati adalah tentang seberapa besar dampak yang bisa dirasakan oleh orang lain.

"Sebuah bisnis akan terus ada selama dampaknya bisa dirasakan secara langsung oleh orang lain. Dama Kara saat ini terus berkembang dan bertumbuh karena teman-teman penyandang disabilitas juga membantu kita," tandas Dini.

Bagi generasi muda yang ingin memulai bisnis atau gerakan sosial, Dini berpesan agar tidak perlu menunggu segalanya sempurna. "Jadi, coba untuk melihat sekeliling dan memberikan dampak dari hal-hal terkecil. Tidak perlu menunggu nanti, tidak perlu menunggu beberapa tahun lagi, tapi kita bisa memulainya sekarang. Start small and do your best," pungkasnya.

Editor: Andri Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar