PARADAPOS.COM - Pemerintah Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, mulai menerapkan sistem pertanian modern untuk menggantikan pola tanam padi konvensional. Program bertajuk Pertanian Modern-Advance Agriculture System (PM-AAS) ini menggunakan skema tanam benih langsung atau Tabela, dengan uji coba perdana di lahan seluas 4.000 meter persegi milik Kelompok Tani Warudoyong I, Desa Sukabungah, Kecamatan Bojongmangu. Inisiatif ini digagas untuk meningkatkan produktivitas sekaligus efisiensi usaha tani, dan pada tahap awal menargetkan hasil panen minimal empat ton gabah dari varietas unggul Inpari 33. Langkah Awal Modernisasi Budidaya Padi di Bekasi Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bekasi, Abdillah Majid, mengungkapkan bahwa program ini merupakan inovasi yang dijalankan bersama para penyuluh dan kelompok tani. Tujuannya jelas, memperkenalkan metode budidaya yang lebih presisi dan terukur dibandingkan cara-cara lama. Para petani akan diajak memahami seluruh proses, mulai dari pengolahan lahan, pengecekan pH tanah, pemupukan sesuai dosis anjuran, hingga pengendalian gulma sebelum masa tanam dimulai. “Pada tahap awal, program ini menggunakan varietas padi Inpari 33 berkisar 15 kilogram benih dengan target menghasilkan sedikitnya empat ton gabah saat panen,” jelasnya di Cikarang, Minggu. Uji Tanah dan Aplikasi Dolomit di Lahan Percontohan Sebelum benih ditanam, ada serangkaian persiapan yang dilakukan secara cermat. Koordinator Penyuluh Pertanian Kecamatan Bojongmangu, Ubuh Buhori, menuturkan bahwa pihaknya bersama petani melakukan uji tingkat keasaman tanah. Hasilnya, pH tanah di lokasi tersebut berada di angka 5,5, yang dinilai perlu diperbaiki dengan aplikasi kapur dolomit sebanyak 500 hingga 1.000 kilogram per hektare. “Untuk lahan percontohan seluas 4.000 meter persegi, diaplikasikan sekitar 500 kilogram dolomit dalam dua tahap yakni saat pengolahan tanah pertama dan tiga hari sebelum tanam. Selain itu, sehari sebelum penanaman dilakukan penyemprotan herbisida untuk mengendalikan gulma,” ujarnya. Menariknya, sistem modern ini juga mengubah kebiasaan petani dalam mengelola air. Setelah benih ditebar, lahan tidak boleh digenangi selama lima hari pertama. Hal ini dilakukan agar benih tidak membusuk dan terhindar dari serangan penyakit. Setelah itu, pertumbuhan tanaman dipantau secara berkala, dan pemupukan pertama diberikan saat tanaman berumur sekitar 10 hari sesuai rekomendasi teknis. Target Produktivitas Hingga 10 Ton per Hektare Ubuh menambahkan, kebutuhan pupuk pada sistem PM-AAS ini memang lebih tinggi dibandingkan pola konvensional. Penyebabnya adalah penggunaan jarak tanam yang lebih rapat. Meski demikian, teknologi ini diyakini mampu mendongkrak produktivitas secara signifikan. Pihaknya optimistis target produktivitas padi bisa mencapai 10 ton per hektare, sebuah angka yang jauh di atas rata-rata hasil panen di wilayah tersebut yang saat ini masih berkisar lima ton per hektare. Lahan di Bojongmangu sengaja dirancang sebagai percontohan atau demonstration plot (demplot). Tujuannya agar para petani dapat melihat langsung perbedaan antara sistem budidaya tradisional dengan teknologi modern yang ditawarkan. “Harapannya setiap desa nanti memiliki minimal dua hektare lahan demonstrasi sehingga semakin banyak petani yang terdorong meninggalkan pola konvensional dan beralih ke sistem pertanian modern,” ungkapnya. Sambutan Positif dari Kelompok Tani Sementara itu, Ketua Kelompok Tani Warudoyong I, Yusup Saepuloh, menyambut baik program ini. Ia menilai langkah ini sebagai titik awal yang penting untuk mengubah cara bertani yang selama ini masih mengandalkan kebiasaan turun-temurun. Menurutnya, uji coba ini menjadi momen krusial yang hasilnya akan sangat dinantikan. “Kami berharap hasil uji coba ini bisa menjadi acuan sebelum diterapkan lebih luas kepada seluruh anggota kelompok tani. Melalui penerapan teknologi, semoga hasil panen meningkat signifikan,” tuturnya.