PARADAPOS.COM - Menjelang peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, pedagang musiman mulai menjamur di sejumlah sudut Kota Banda Aceh. Momentum bulan Agustus menjadi sumber rezeki yang menjanjikan bagi para penjual Bendera Merah Putih dan atribut perlengkapan kemerdekaan. Salah satunya adalah Safura Yulinda, pedagang musiman yang telah menggeluti usaha ini selama sepuluh tahun terakhir. Lapaknya di kawasan Simpang Jam ramai dikunjungi pembeli dari berbagai kalangan, mulai dari warga perorangan hingga instansi pemerintah. Berjualan di Tengah Geliat Jelang 17 Agustus Udara pagi di Simpang Jam, Banda Aceh, terasa sedikit berbeda akhir-akhir ini. Di trotoar yang biasanya dipadati kendaraan, kini berdiri lapak-lapak dadakan yang menjual perlengkapan kemeriahan 17 Agustus. Bendera merah putih berbagai ukuran, umbul-umbul, hingga aksesoris dekorasi digantung rapi, menciptakan pemandangan khas yang hanya muncul setahun sekali. Safura Yulinda, yang sudah sepuluh tahun menekuni profesi musiman ini, mengaku selalu menantikan momen tersebut. Baginya, periode ini adalah waktu yang tepat untuk menambah penghasilan keluarga. "Setiap menjelang HUT RI, saya selalu menyiapkan stok lebih banyak karena permintaan pasti naik," ujarnya sambil merapikan dagangannya. Harga dan Puncak Permintaan Di lapak sederhana miliknya, Safura memajang dagangan dengan harga yang bervariasi. Bendera ukuran kecil dibanderol mulai dari Rp2 ribu, sementara untuk paket dekorasi lengkap bisa mencapai Rp400 ribu. Menurutnya, permintaan mulai terasa meningkat sejak awal Agustus. "Biasanya puncaknya seminggu sebelum 17 Agustus. Kalau sudah dekat hari H, banyak yang beli dadakan," jelasnya. Pembeli yang datang pun beragam, tidak hanya warga perorangan yang ingin memasang bendera di rumah, tetapi juga pelaku usaha hingga instansi pemerintah dan swasta yang membutuhkan atribut untuk upacara dan dekorasi kantor. Peluang Usaha yang Dinanti Setiap Tahun Bagi pedagang musiman seperti Safura, perayaan kemerdekaan bukan sekadar seremonial belaka. Ini adalah peluang usaha yang selalu dinanti dan dimanfaatkan sebaik mungkin. Meski waktu berjualan relatif singkat, omzet yang didapat cukup berarti. "Hasilnya lumayan, bisa membantu kebutuhan keluarga. Walaupun capek karena harus jaga lapak dari pagi sampai sore, tapi senang kalau dagangan laris," tuturnya. Ia berharap momen seperti ini bisa terus berlangsung setiap tahun, karena menjadi salah satu tumpuan ekonomi bagi warga yang mengandalkan usaha musiman. Di balik riuhnya persiapan kemerdekaan, kisah Safura adalah salah satu dari sekian banyak cerita pedagang yang menggantungkan harapan pada semarak bulan Agustus. Mereka menjadi bagian tak terpisahkan dari euforia nasional, sembari berharap rezeki selalu berpihak pada mereka yang mau berusaha.
Artikel Terkait
Polisi Tangkap Pria Pembunuh dan Pemerkosa Wanita Muda di Kontrakan Tangerang dalam 24 Jam
Roy Suryo Hadir dampingi Dokter Tifa di Sidang Perdana Praperadilan Kasus Ijazah Jokowi
BKPM: Baru 16 Juta UMKM Punya NIB, Kunci Naik Kelas dan Akses Pembiayaan
Sulingjar 2026 Paket 4 Resmi Bergulir, Ini Referensi Jawaban untuk Guru dan Kepala Sekolah