Gempa NTT Magnitudo 7,7 Tewaskan 51 Orang, Ratusan Fasilitas Kesehatan Rusak Berat

- Minggu, 16 Agustus 2026 | 09:25 WIB
Gempa NTT Magnitudo 7,7 Tewaskan 51 Orang, Ratusan Fasilitas Kesehatan Rusak Berat

PARADAPOS.COM - Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) pada pekan ini telah menewaskan sedikitnya 51 orang dan melukai 64 lainnya per Minggu, 16 Agustus 2026. Data resmi yang dirilis kepolisian menunjukkan Kabupaten Manggarai menjadi wilayah dengan korban jiwa terbanyak, disusul Manggarai Timur. Tim gabungan masih melakukan pencarian dan evakuasi, sehingga angka korban diperkirakan masih akan terus bertambah seiring berjalannya waktu.

Guncangan keras yang terjadi pada dini hari itu tidak hanya merenggut nyawa, tetapi juga meluluhlantakkan sejumlah infrastruktur vital dan fasilitas publik. Dari laporan sementara yang dihimpun dari lapangan, kerusakan tersebar di berbagai kabupaten, memaksa pemerintah untuk segera mengerahkan sumber daya secara besar-besaran dalam masa tanggap darurat.

Duka di Manggarai dan Manggarai Timur

Berdasarkan data yang disampaikan oleh Kasatgas Humas Ops Aman Nusa II Bencana Alam NTT, Kombes Bayu Suseno, distribusi korban jiwa terkonsentrasi di dua kabupaten. Kabupaten Manggarai mencatatkan 24 korban meninggal, sementara Kabupaten Manggarai Timur menyusul dengan 20 korban. Angka ini merupakan akumulasi dari laporan posko-posko lapangan yang terus diperbarui.

Proses evakuasi di kedua daerah tersebut masih berlangsung intensif. Tim penyelamat harus bekerja ekstra keras karena banyaknya titik longsor yang memutus akses jalan menuju lokasi terdampak. Kondisi medan yang sulit menjadi tantangan tersendiri bagi petugas di lapangan yang berusaha menjangkau korban yang mungkin masih tertimbun reruntuhan.

“Polri bersama TNI, pemerintah pusat dan daerah, serta seluruh stakeholder terus memperkuat sinergi dalam penanganan bencana. Fokus utama saat ini adalah penyelamatan dan evakuasi korban, pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat terdampak, serta memastikan akses komunikasi dan jalur distribusi bantuan tetap berjalan,” kata Bayu dalam keterangannya, Minggu (16/8/2026).

Dampak pada Fasilitas Kesehatan dan Infrastruktur

Getaran gempa yang kuat tidak hanya merobohkan rumah warga, tetapi juga melumpuhkan layanan kesehatan di wilayah terdampak. Data dari tim lapangan menyebutkan, sedikitnya 21 rumah sakit terdampak, dengan rincian tiga di antaranya mengalami kerusakan berat dan enam lainnya rusak ringan. Kondisi ini memaksa pasien untuk dirawat di tenda-tenda darurat yang didirikan di halaman rumah sakit.

Selain rumah sakit, layanan kesehatan primer juga menjadi sorotan. Dari total 190 puskesmas yang tersebar di wilayah terdampak, sebanyak 20 unit dilaporkan mengalami kerusakan berat. Kerusakan ini dipastikan akan mengganggu pelayanan kesehatan bagi ribuan pengungsi yang membutuhkan pertolongan medis.

Infrastruktur dasar seperti jalan dan jembatan juga tidak luput dari amukan gempa. Petugas di lapangan mencatat adanya 33 titik longsor yang menutup badan jalan, empat titik patahan jalan, dan empat jembatan yang rusak. Beberapa ruas jalan vital seperti Ende-Bajawa dan Ende-Maumere dilaporkan sempat terputus, menghambat distribusi logistik dan evakuasi warga.

Akses menuju Pelabuhan Lorens Say Maumere serta jaringan pipa SPAM Lembor Selatan turut mengalami kerusakan. Gangguan pada infrastruktur air bersih ini menambah daftar panjang kebutuhan mendesak yang harus segera dipenuhi oleh tim tanggap darurat. Sementara itu, di Kabupaten Manggarai Barat, pendataan awal hingga Minggu dini hari menunjukkan sebanyak 914 bangunan dilaporkan rusak dengan tingkat kerusakan bervariasi.

Mobilisasi Personel dan Logistik Bantuan

Menghadapi skala bencana yang besar, Polri bersama instansi terkait langsung memobilisasi kekuatan penuh. Sekitar 1.875 personel gabungan yang terdiri dari unsur TNI, Polri, BPBD, dan relawan dikerahkan ke lokasi bencana. Mereka dibagi dalam beberapa satuan tugas untuk mempercepat proses pencarian, pertolongan, dan evakuasi korban.

Untuk menjangkau daerah terpencil yang terisolasi, armada helikopter disiapkan dari Bima menuju Labuan Bajo. Kehadiran armada udara ini sangat krusial untuk mendukung evakuasi medis serta distribusi bantuan melalui jalur udara, mengingat banyaknya akses darat yang putus. Jalur laut juga dioptimalkan untuk mengirimkan logistik dalam jumlah besar.

Di tengah hiruk pikuk penanganan darurat, bantuan logistik mulai berdatangan. Polri telah menyalurkan ratusan paket sembako kepada warga terdampak di wilayah Nangapanda, Kabupaten Ende. Dukungan logistik juga diperkuat dengan pembentukan Pos Pendamping Nasional (Pospenas) di Labuan Bajo dan Maumere, yang berfungsi sebagai pusat koordinasi di lapangan. Sementara itu, Posko Logistik Nasional ditempatkan di Halim Perdana Kusuma untuk memastikan distribusi bantuan dari pusat ke wilayah terdampak berjalan lancar.

Fokus Tujuh Hari Tanggap Darurat

Bayu menegaskan, dalam tujuh hari pertama masa tanggap darurat, seluruh unsur terkait memiliki prioritas yang jelas. Fokus utama meliputi pencarian dan penyelamatan korban, pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat, pemulihan akses jalan dan komunikasi, serta penguatan koordinasi penanganan bencana. Langkah ini diambil untuk memastikan respons yang cepat dan tepat sasaran bagi para korban.

“Fungsi kehumasan juga menjadi bagian penting dalam situasi bencana. Kami memastikan perkembangan penanganan dan langkah-langkah pemerintah dapat disampaikan secara cepat, akurat, dan berkesinambungan sehingga masyarakat mendapatkan informasi yang benar,” ujar Bayu.

Operasi terpadu akan terus dilanjutkan di wilayah terdampak hingga kondisi dinyatakan kondusif. Selain fokus pada penyelamatan, pendataan masyarakat yang terdampak juga tengah dilakukan secara menyeluruh. Data ini nantinya akan dijadikan dasar untuk penyiapan Hunian Sementara (Huntara) bagi warga yang kehilangan tempat tinggal, sebagai langkah awal menuju pemulihan pasca bencana.

Editor: Clara Salsabila

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar