Gempa NTT: 51 Tewas, 64 Luka, Ribuan Bangunan Rusak

- Minggu, 16 Agustus 2026 | 10:00 WIB
Gempa NTT: 51 Tewas, 64 Luka, Ribuan Bangunan Rusak

PARADAPOS.COM - JAKARTA, Minggu (16/8/2026) – Duka mendalam menyelimuti Nusa Tenggara Timur. Data resmi terbaru yang dirilis hingga pukul 16.19 WIB mencatat korban jiwa akibat gempa bumi di wilayah tersebut bertambah menjadi 51 orang, sementara 64 lainnya mengalami luka-luka. Kabupaten Manggarai menjadi daerah dengan angka kematian tertinggi, yakni 24 orang, disusul Manggarai Timur dengan 20 korban jiwa. Jumlah ini masih bersifat sementara dan sangat mungkin berubah, mengingat proses pencarian serta evakuasi di sejumlah titik masih terus berlangsung hingga saat ini.

Bayu Suseno, Kasatgas Humas Ops Aman Nusa II Bencana Alam NTT, dalam keterangan resminya hari ini mengungkapkan prioritas utama yang sedang dikerjakan tim gabungan di lapangan. Ia menegaskan bahwa penyelamatan nyawa adalah hal yang tidak bisa ditawar lagi. "Fokus utama saat ini adalah penyelamatan dan evakuasi korban, pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat terdampak, serta memastikan akses komunikasi dan jalur distribusi bantuan tetap berjalan," kata Kombes Bayu Suseno di sela-sela kesibukannya mengoordinasikan bantuan.

Di balik angka korban jiwa, kerusakan infrastruktur publik juga menjadi pemandangan yang memprihatinkan. Sektor kesehatan menjadi salah satu yang paling terpukul. Tidak kurang dari 21 rumah sakit dilaporkan terdampak getaran. Dari jumlah tersebut, tiga di antaranya mengalami kerusakan berat dan enam unit lainnya rusak ringan. Kondisi serupa juga dialami fasilitas kesehatan tingkat pertama; dari 190 puskesmas yang tersebar, sebanyak 20 unit dipastikan rusak berat dan tidak dapat beroperasi sementara.

Jalur Vital dan Infrastruktur Terdampak

Getaran gempa tidak hanya merobohkan bangunan, tetapi juga memutus akses antarwilayah. Petugas di lapangan mencatat sedikitnya 33 titik longsor yang menutupi badan jalan, empat titik patahan jalan, dan empat jembatan yang rusak. Kondisi ini secara langsung mengganggu arus logistik dan mobilitas warga. Beberapa ruas jalan strategis ikut lumpuh, termasuk jalur yang menghubungkan Ende-Bajawa dan Ende-Maumere. Tidak hanya itu, akses menuju Pelabuhan Lorens Say Maumere serta fasilitas SPAM Lembor Selatan juga dilaporkan mengalami kerusakan, menambah daftar panjang pekerjaan rumah bagi pemerintah.

Situasi di Kabupaten Manggarai Barat tak kalah genting. Hingga Minggu dini hari, pendataan awal menunjukkan sebanyak 914 bangunan telah rusak dengan tingkat kerusakan bervariasi. Angka ini diperkirakan masih akan bertambah seiring dengan rampungnya verifikasi data oleh petugas di lapangan.

Mobilisasi Kekuatan Penuh dan Bantuan Logistik

Menghadapi skala bencana yang besar, Polri bersama TNI dan elemen lainnya bergerak cepat. Operasi pencarian dan pertolongan diperkuat dengan pengerahan personel tambahan. Total kekuatan yang dikerahkan mencapai 1.875 personel gabungan, terdiri dari unsur TNI, Polri, BPBD, serta relawan kemanusiaan. Mereka disebar ke titik-titik yang paling parah terdampak untuk mempercepat evakuasi korban yang mungkin masih tertimbun reruntuhan.

Dukungan udara juga disiapkan untuk menjangkau area yang sulit diakses. Satu armada helikopter telah disiagakan dan diterbangkan dari Bima menuju Labuan Bajo. Armada ini difungsikan untuk mendukung evakuasi medis darurat serta memperlancar distribusi bantuan melalui jalur udara dan laut. Sementara itu, di darat, Polri telah menyalurkan ratusan paket sembako kepada warga terdampak di wilayah Nangapanda, Kabupaten Ende.

Untuk memastikan koordinasi berjalan efektif, struktur komando penanganan bencana telah dibentuk. Pos Pendamping Nasional (Pospenas) didirikan di Labuan Bajo dan Maumere, berfungsi sebagai pusat kendali operasi lapangan. Di sisi lain, Posko Logistik Nasional ditempatkan di Halim Perdana Kusuma, Jakarta, sebagai pusat pengumpulan dan pengiriman bantuan dari pusat menuju daerah terdampak.

Menanggapi situasi yang dinamis ini, Bayu menjelaskan bahwa seluruh unsur terkait telah menyepakati prioritas kerja untuk tujuh hari pertama masa tanggap darurat. Fokus utama meliputi pencarian dan penyelamatan korban, pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat, pemulihan akses jalan dan komunikasi, serta penguatan koordinasi antarlembaga. Langkah ini diambil untuk memastikan tidak ada celah dalam penanganan bencana.

Di tengah hiruk-pikuk evakuasi, keterbukaan informasi menjadi salah satu kunci yang dijaga ketat. Bayu menambahkan bahwa fungsi kehumasan memegang peranan penting dalam situasi darurat seperti ini. "Fungsi kehumasan juga menjadi bagian penting dalam situasi bencana. Kami memastikan perkembangan penanganan dan langkah-langkah pemerintah dapat disampaikan secara cepat, akurat, dan berkesinambungan sehingga masyarakat mendapatkan informasi yang benar," ujarnya menegaskan komitmennya.

Operasi terpadu yang melibatkan Polri, TNI, pemerintah pusat dan daerah, serta seluruh pemangku kepentingan akan terus dilanjutkan. Selain fokus pada penyelamatan, tim juga mulai melakukan pendataan menyeluruh terhadap masyarakat yang terdampak. Data ini nantinya akan menjadi dasar penting dalam penyiapan Hunian Sementara (Huntara) bagi warga yang kehilangan tempat tinggal, memastikan mereka mendapatkan tempat berlindung yang layak selama masa pemulihan.

Editor: Bagus Kurnia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler