Antrean BBM di Sulsel Belum Teratasi, SPBU Sepi karena Stok Habis Sementara Lain Mengular

- Senin, 15 Juni 2026 | 10:50 WIB
Antrean BBM di Sulsel Belum Teratasi, SPBU Sepi karena Stok Habis Sementara Lain Mengular
PARADAPOS.COM - Antrean panjang kendaraan masih terlihat di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Sulawesi Selatan, sementara SPBU lainnya justru tampak sepi karena kehabisan stok. Kondisi ini terjadi pada Senin (15/6/2026) di Kota Makassar dan sekitarnya, mulai dari kendaraan pribadi, bus antarkota, hingga truk kontainer ikut mengular. Pertamina memastikan pasokan BBM aman dan bahkan telah menambah distribusi, namun kenyataan di lapangan belum sepenuhnya menunjukkan perbaikan.

Antrean Mengular di Beberapa Titik, SPBU Lain Sepi

Pemandangan kontras terlihat di jalanan Makassar. Di SPBU Jalan Gunung Bawakaraeng dan Jalan AP Pettarani, kendaraan mengantre cukup panjang sejak pagi. Namun, di sisi lain, SPBU di Jalan Tentara Pelajar justru kosong tanpa aktivitas—papan pengumuman bertuliskan "Stok Habis" terpampang di pintu masuk. Ironisnya, kendaraan tetap berjejer di sepanjang sisi jalan, menunggu mobil tangki datang. Fenomena ini bukan hanya terjadi di Makassar. Sepanjang pekan lalu, antrean serupa terlihat dari Kota Makassar hingga Kabupaten Enrekang. Jika tidak ada antrean, hampir bisa dipastikan SPBU tersebut kehabisan BBM. Hendra Cipto (50), warga Makassar yang hendak bepergian ke Kabupaten Bone, menceritakan pengalamannya. “Tadi malam saya antre di SPBU Jalan Perintis sampai satu jam. Di banyak SPBU yang saya lewati juga terjadi antrean. Kalau ada yang tidak antre, biasanya karena SPBU-nya kosong,” ujarnya saat ditemui di perjalanan, Senin (15/6/2026).

Dampak ke Sektor Pertanian dan Transportasi

Kelangkaan ini mulai berdampak ke sektor produktif. Bus antarkota antarprovinsi, truk, hingga kendaraan kontainer yang biasanya mengisi BBM di SPBU pinggiran kota atau sekitar Pelabuhan Makassar, kini ikut mengantre di dalam kota. Para sopir mengaku terpaksa mencari SPBU alternatif karena stok di lokasi biasa sudah habis. Di sektor pertanian, keluhan serupa juga terdengar. Usman Pada (68), petani di Kecamatan Anggeraja, Kabupaten Enrekang, mengaku bersyukur karena lahannya sudah menggunakan pompa listrik. “Untung saya sudah pakai listrik untuk pengairan kebun. Kalau belum, entah bagaimana. Solar lagi sulit. Di mana-mana antre. Kalaupun ada di pengecer, harganya lebih mahal,” katanya, Rabu (10/6/2026).

Penjelasan Pertamina: Permintaan Meningkat, Armada Terbatas

Menanggapi situasi ini, Sales Branch Manager Sulselbar I Fuel Pertamina Regional Sulawesi, Muhammad Yoga Prabowo, memberikan penjelasan. Menurutnya, antrean dipicu oleh peningkatan kebutuhan Biosolar bersubsidi pada Juni 2026. Tingginya permintaan dari berbagai wilayah yang bergantung pada Terminal Makassar membuat intensitas distribusi mobil tangki meningkat drastis. “Pertamina memastikan stok Biosolar bersubsidi untuk wilayah Sulawesi Selatan, khususnya Kota Makassar dan jalur lintas Sulawesi, dalam kondisi aman dan tersedia untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Kami terus melakukan berbagai upaya agar penyaluran dapat berjalan optimal di tengah peningkatan konsumsi yang terjadi,” jelas Yoga. Ia menambahkan, situasi diperparah oleh sejumlah armada mobil tangki yang sedang menjalani pemeliharaan berkala. Akibatnya, pola pengiriman ke sejumlah lembaga penyalur harus disesuaikan.

Langkah Antisipasi: Tambahan Pasokan 10-15 Persen

Sebagai langkah konkret, Pertamina mengklaim telah menambah penyaluran Biosolar bersubsidi di Kota Makassar sebesar 10 hingga 15 persen dibandingkan rata-rata penyaluran normal pada Juni 2026. Selain itu, koordinasi dengan Elnusa dipercepat untuk memperkuat distribusi ke SPBU, termasuk melalui penambahan armada spot charter. Namun, hingga berita ini diturunkan, antrean masih terlihat di sejumlah titik. Warga berharap penambahan pasokan segera terasa hingga ke SPBU terpencil, bukan hanya di pusat kota.

Editor: Dian Lestari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar