AirNav Pastikan Layanan Navigasi Penerbangan di NTT Tetap Beroperasi Usai Gempa

- Minggu, 16 Agustus 2026 | 20:25 WIB
AirNav Pastikan Layanan Navigasi Penerbangan di NTT Tetap Beroperasi Usai Gempa

PARADAPOS.COM - Gempa bumi berkekuatan signifikan yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) pada akhir pekan lalu tidak melumpuhkan layanan navigasi penerbangan di wilayah tersebut. AirNav Indonesia memastikan operasional tetap berjalan meski sejumlah fasilitas tower dilaporkan mengalami keretakan dan kerusakan. Direktur Utama AirNav Indonesia, Capt. Avirianto Suratno, dalam keterangan resminya, Minggu, 16 Agustus 2026, mengonfirmasi bahwa dampak kerusakan tersebar di lima unit layanan, sementara beberapa lokasi lainnya dipastikan aman. Langkah kontingensi tengah dijalankan untuk memastikan keselamatan penerbangan dan mendukung kelancaran evakuasi serta distribusi bantuan kemanusiaan.

Guncangan yang menggunakan kekuatan besar itu ternyata menyisakan pekerjaan rumah yang tidak ringan bagi para teknisi di lapangan. Berdasarkan laporan yang dihimpun langsung dari pos-pos terdepan, kerusakan paling terlihat adalah pada elemen struktural bangunan tower di sejumlah titik strategis. Namun, di tengah situasi yang tidak menentu akibat gempa susulan, para personel tetap siaga.

Dampak di Lapangan dan Wilayah Terdampak

Verifikasi awal yang dilakukan tim teknis menunjukkan bahwa kerusakan terkonsentrasi di lima lokasi utama. Unit pelayanan di Bajawa, Ruteng, Cabang Pembantu Ende, Unit Maumere, dan Cabang Pembantu Labuan Bajo menjadi titik-titik yang paling merasakan dampak getaran. "Berdasarkan laporan terakhir yang kami himpun, dampak gempa terhadap fasilitas AirNav Indonesia antara lain terdapat di Unit Bajawa, Unit Ruteng, Cabang Pembantu Ende, Unit Maumere, serta Cabang Pembantu Labuan Bajo. Kerusakan yang teridentifikasi meliputi keretakan dan kerusakan pada sejumlah bagian bangunan tower," ujar Avirianto dalam keterangan resminya.

Di sisi lain, ada kabar baik dari wilayah lainnya. Hasil pemantauan sementara menunjukkan bahwa fasilitas di Kupang, Waingapu, Tambolaka, dan Denpasar berada dalam kondisi aman dan tidak mengalami gangguan berarti. Perbedaan kondisi ini menjadi dasar bagi manajemen untuk menyusun skala prioritas perbaikan dan pengaturan ulang beban kerja layanan.

Skema Kontingensi dan Prioritas Keselamatan

Menghadapi situasi darurat seperti ini, prosedur standar langsung diaktifkan. Avirianto menegaskan bahwa pihaknya tidak mau ambil risiko terkait keselamatan penerbangan. Asesmen menyeluruh terhadap kondisi fasilitas menjadi langkah pertama yang dilakukan. "Kami mengutamakan agar layanan navigasi penerbangan tetap dapat dijalankan secara optimal dengan tetap mengedepankan aspek keselamatan," ungkapnya.

Untuk memastikan layanan tidak terputus, manajemen mengambil keputusan taktis dengan menerapkan skema kontingensi. Pengaturan pelayanan dialihkan sementara dari lokasi yang dinilai aman. Hal ini dilakukan agar pergerakan pesawat, terutama yang membawa logistik dan personel bantuan, tetap terpantau dan terarah dengan baik.

Di tengah prioritas operasional, keselamatan para pegawai juga menjadi perhatian serius. "Seluruh personel AirNav Indonesia di wilayah terdampak dilaporkan dalam kondisi selamat. Secara internal, keamanan dan keselamatan pegawai juga menjadi salah satu prioritas manajemen," kata Avirianto menambahkan.

Koordinasi dan Pemantauan Berkelanjutan

Pemeriksaan menyeluruh terhadap bangunan, fasilitas komunikasi, dan peralatan navigasi masih terus berjalan secara bertahap. Tim di lapangan harus bekerja ekstra hati-hati mengingat ancaman gempa susulan masih mengintai. Setiap temuan baru di lokasi akan langsung dievaluasi untuk menentukan langkah selanjutnya.

"Ada contingency plan yang kami jalankan dalam situasi seperti ini. Sejalan dengan itu, perkembangan kondisi fasilitas dan pelayanan navigasi penerbangan akan terus dipantau dan disampaikan secara berkala kepada pemerintah, sesuai hasil verifikasi serta perkembangan situasi di lapangan," jelas Avirianto.

Koordinasi yang erat juga dijalin dengan pemangku kepentingan terkait. AirNav Indonesia berkomunikasi intensif dengan Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, Kementerian Perhubungan, dan berbagai pihak lain. Tujuannya jelas, menjaga kesiapan operasional dan memastikan standar keselamatan penerbangan tidak turun sedikit pun.

Layanan navigasi yang stabil ini menjadi tulang punggung konektivitas udara di masa krisis. Kelancaran operasional penerbangan sangat krusial, terutama untuk mempercepat proses evakuasi masyarakat, mobilisasi personel tanggap darurat, serta kelancaran distribusi bantuan kemanusiaan dari dan menuju wilayah yang terdampak bencana.

Editor: Yuli Astuti

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar