PARADAPOS.COM - PT Asuransi Ciputra Indonesia (Ciputra Life) mengakhiri tahun 2025 dengan torehan kinerja yang solid, membukukan laba bersih Rp99,3 miliar atau melesat 95 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Angka ini merupakan bagian dari laporan keuangan yang telah diaudit dan disusun berdasarkan standar akuntansi terbaru, PSAK 117. Pertumbuhan ini tidak berhenti di situ; perusahaan juga mencatatkan premi sebesar Rp387,6 miliar pada semester I-2026, menandakan momentum ekspansi bisnis masih berlanjut di tengah dinamika industri asuransi nasional.
Direktur Utama Ciputra Life, Hengky Djojosantoso, memaparkan bahwa pencapaian ini bukan sekadar angka di atas kertas. Dari sisi fundamental, posisi keuangan perusahaan juga menguat. Total aset mencapai Rp1,3 triliun dan total investasi menyentuh Rp1,1 triliun pada akhir tahun lalu. Adapun total ekuitas perusahaan berada di level Rp312,3 miliar, menunjukkan fondasi permodalan yang kokoh untuk mendukung ekspansi selanjutnya.
Ketahanan finansial ini juga tercermin dari rasio solvabilitas. Risk Based Capital (RBC) Ciputra Life berada di level 315 persen, jauh di atas ambang batas minimum yang ditetapkan regulator. Angka ini memberikan ruang gerak yang leluasa bagi perusahaan dalam mengelola risiko dan memanfaatkan peluang pertumbuhan di masa mendatang.
Keseimbangan Pertumbuhan dan Prudensialitas
Hengky menegaskan bahwa seluruh capaian tersebut merupakan hasil dari upaya menjaga keseimbangan antara agresivitas pertumbuhan bisnis dengan kehati-hatian dalam pengelolaan risiko. Ia menggarisbawahi bahwa kualitas pertumbuhan menjadi prioritas utama.
"Sepanjang 2025, Ciputra Life mencatatkan pertumbuhan laba, aset, investasi, dan ekuitas berdasarkan laporan keuangan yang telah diaudit. Kami akan terus menjaga kualitas pertumbuhan bisnis dengan tetap memperhatikan profitabilitas, kecukupan modal dan pengelolaan risiko secara prudent," ujarnya dalam keterangan tertulis, Sabtu, 22 Agustus 2026.
Memasuki tahun 2026, strategi tersebut tampaknya terus membuahkan hasil. Berdasarkan laporan publikasi berkala perusahaan, premi pada semester I-2026 mencapai Rp387,6 miliar. Capaian ini meningkat signifikan sebesar 53 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya sebesar Rp253,2 miliar.
"Memasuki 2026, kami terus meningkatkan kerja sama dengan mitra-mitra bisnis kami dan melakukan pengembangan bisnis. Pertumbuhan premi pada semester I-2026 menunjukkan hasil yang sangat positif dengan peningkatan sebesar 53 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Namun demikian, kami akan terus menjaga keseimbangan antara pertumbuhan, kualitas portofolio dan profitabilitas," jelas Hengky.
Dua Mesin Pertumbuhan Utama
Jika ditelisik lebih dalam, ada dua lini bisnis yang menjadi penopang utama pertumbuhan premi tersebut. Yang pertama dan paling dominan adalah Asuransi Jiwa Kredit (AJK). Portofolio AJK perusahaan ini cukup beragam, mencakup Kredit Pemilikan Rumah (KPR), Kredit Kendaraan Bermotor (KKB), Kredit UMKM, Kredit Multiguna (KMG), hingga Kredit Tanpa Agunan (KTA).
Pengembangan lini bisnis ini tidak dilakukan sendiri. Ciputra Life menggandeng lebih dari 50 mitra bisnis strategis, baik dari sektor perbankan maupun lembaga keuangan nonbank. Jaringan kemitraan yang luas ini menjadi saluran distribusi yang efektif dan efisien.
Selain AJK, lini Corporate Solution juga menunjukkan perkembangan yang menjanjikan. Segmen ini mencakup solusi asuransi kesehatan kumpulan yang mulai dikembangkan sejak pertengahan 2024. Kontribusinya kini mulai terasa dan menjadi pendorong diversifikasi pendapatan perusahaan.
Sejalan dengan meningkatnya skala bisnis, kewajiban perusahaan kepada nasabah juga turut bertumbuh. Pada semester I-2026, klaim dan manfaat yang dibayarkan mencapai Rp107,1 miliar, meningkat cukup tajam dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang sebesar Rp56,7 miliar. Angka ini mencerminkan komitmen perusahaan dalam memenuhi janji polis.
"Kepercayaan nasabah merupakan fondasi utama bagi keberlanjutan bisnis asuransi. Karena itu, selain menjaga kesehatan keuangan perusahaan, kami memastikan kewajiban kepada nasabah dipenuhi sesuai dengan ketentuan polis," tutur Hengky.
Transisi ke PSAK 117
Di tengah hiruk-pikuk pertumbuhan bisnis, tahun 2025 juga menjadi momen penting bagi industri asuransi Indonesia secara keseluruhan. Standar akuntansi baru, PSAK 117 mengenai Kontrak Asuransi yang merupakan adopsi dari IFRS 17, resmi berlaku sejak 1 Januari 2025.
Ciputra Life telah mengimplementasikan standar baru ini dalam penyusunan laporan keuangan 2025. Laporan tersebut telah diaudit dengan opini wajar tanpa modifikasian, disampaikan kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan dipublikasikan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Secara teknis, PSAK 117 membawa perubahan fundamental dalam cara perusahaan mengukur, mengakui, dan menyajikan kontrak asuransi. Salah satu perubahan yang paling signifikan adalah premi yang diterima tidak lagi langsung diakui sebagai pendapatan. Sebagai gantinya, pendapatan asuransi diakui secara bertahap seiring dengan berjalannya waktu dan pemberian jasa asuransi kepada nasabah.
Meskipun mengubah metode pengukuran dan waktu pengakuan laba, penerapan PSAK 117 tidak mengubah ekonomi dasar maupun arus kas bisnis perusahaan. Implementasi standar ini justru menjadi bagian dari upaya Ciputra Life untuk meningkatkan kualitas, transparansi, dan konsistensi pelaporan keuangan perusahaan di mata pemangku kepentingan.
Artikel Terkait
Calon Mahasiswa Unhan Mundur karena Tak Bersedia Melepas Hijab
Harga Emas Antam Naik Rp15 Ribu per Gram, Buyback Ikut Menguat
Bupati Gowa Bantah 15 Pejabat OPD Dinonaktifkan, Tegaskan Hanya Satu Inspektur yang Dibebaskan Sementara
Andre Rosiade-Pemko Padang Percepat Pembebasan Lahan SPAM Palukahan Rp400 Miliar