"Karena dia, menurut keyakinan saya, menjalankan strategi playing victim. Merasa jadi korban karena terus ‘dianiaya’ oleh RRT," ujarnya, merujuk pada Roy Suryo, Rismon Sianipar, dan dirinya sendiri.
Pidato dan Pengulangan Kata "Saya Masih Sanggup"
Dokter Tifa juga menyoroti pidato Jokowi yang diucapkan dengan suara parau. Ia mencatat pengulangan frasa kunci tertentu yang dianggapnya bermakna psikologis.
"Perhatikan kata-katanya yang diulang-ulang: ‘Saya masih sanggup, saya masih sanggup, saya masih sanggup’," tulisnya. Pengulangan ini ditafsirkan sebagai upaya meyakinkan diri sendiri dan publik di tengah kondisi yang sebenarnya rentan.
Kesehatan sebagai Komoditas Politik?
Dalam kritik penutupnya, Dokter Tifa menyatakan bahwa kondisi sakit Jokowi telah dijadikan bagian dari komoditas politik. Kehadirannya di panggung PSI dinilai bukan semata untuk mendukung partai, melainkan untuk membangun citra sebagai figur yang tabah meski sedang sakit.
"Dunia baginya seakan tak pernah cukup, dan yang membatasi tampaknya hanya mati," pungkas Dokter Tifa secara reflektif.
Kehadiran Jokowi di Rakernas PSI ini terus memicu berbagai tanggapan dan analisis dari pengamat politik dan publik.
Artikel Terkait
Prabowo Subianto Temui Siti Zuhro & Susno: Pertemuan Malam Hari di Kertanegara Diungkap
Gatot Nurmantyo Kritik Kapolri: Analisis Hukum Dampaknya bagi Institusi Polri
Kritik Jokowi: Ingkar Janji Pulang Kampung, Pilih Dukung PSI Mati-Matian
Prabowo Subianto Gelar Pertemuan Malam dengan Tokoh Oposisi, Bahas Kebocoran Anggaran Negara