PARADAPOS.COM - Pengamat terorisme dan pegiat media sosial, Islah Bahrawi, membuka suara mengenai kekecewaannya terhadap Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi). Dalam sebuah pernyataan yang mengejutkan, ia mengaku pernah menempatkan Jokowi pada posisi yang sangat tinggi, bahkan layaknya "malaikat yang turun dari langit". Namun, pengakuan tersebut kini berubah menjadi penyesalan mendalam dan sebuah peringatan keras bagi publik tentang bahaya fanatisme politik.
Islah menyampaikan hal ini secara blak-blakan dalam sebuah siniar bertajuk Forum Keadilan. Ia tidak hanya merefleksikan perjalanan emosionalnya sendiri, tetapi juga mengajak masyarakat untuk merenungkan bagaimana kekaguman buta terhadap seorang figur politik bisa berujung pada kekecewaan yang pahit.
Pengakuan di Depan Publik
Dalam kesempatan tersebut, Islah dengan jujur mengakui kesalahannya di masa lalu. Ia menyebut dirinya pernah berada dalam zona "penyembahan" terhadap sosok Jokowi, sebuah sikap yang kini ia sesali.
"Saya tidak mau terperosok dua kali. Saya seperti 'penyembah berhala'. Saya dulu betul-betul menganggap Pak Jokowi seperti malaikat turun dari langit," tuturnya dalam wawancara tersebut.
Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa perubahan pandangannya tidak terjadi secara tiba-tiba. Ada momen-momen tertentu yang membuatnya merasa dikhianati, terutama ketika melihat kebijakan dan keputusan politik yang diambil.
"Itu karena dikhianati dengan ambisi-ambisi pribadi," ujarnya dengan nada getir.
Refleksi dan Peringatan untuk Publik
Di balik pengakuan pribadinya, Islah menyampaikan pesan yang lebih luas. Ia mengingatkan bahwa masyarakat seharusnya tidak menaruh penghormatan secara berlebihan kepada tokoh politik tanpa dibarengi sikap kritis. Menurutnya, fanatisme yang berlebihan justru menjadi bumerang.
Ia menilai bahwa fanatisme politik mampu mengaburkan nalar sehat. Ketika seseorang sudah terlalu mengagumi figur tertentu, objektivitas dalam menilai kebijakan dan tindakan pemimpin menjadi hilang. Hal ini, lanjutnya, sangat berbahaya bagi kesehatan demokrasi.
Pernyataan Islah ini hadir sebagai refleksi bahwa dukungan politik seharusnya berpijak pada gagasan, rekam jejak, dan kinerja nyata, bukan semata-mata pada kultus individu. Ia menegaskan bahwa menjaga nalar kritis adalah kewajiban bersama agar publik tidak mudah terjebak dalam pengagungan yang berpotensi mengesampingkan kepentingan umum.
Baginya, pengalaman pahit ini menjadi pelajaran berharga. Ia berharap publik dapat belajar dari kesalahannya dan tidak mengulangi hal yang sama. Masyarakat, kata dia, harus mampu memisahkan antara kekaguman pada sosok pemimpin dengan evaluasi kritis terhadap kebijakan yang diambilnya.
Editor: Dian Lestari
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Denny Indrayana Desak Gibran Mundur demi Cegah Krisis Politik Berkepanjangan
Jokowi Dinilai Sangat Perhitungkan Survei soal Peluang Gibran dan Kaesang di Pilpres 2029
Kabinet Bayangan Diduga Didanai Asing, Rumah Pancasila Minta PPATK Usut Aliran Dana
Damai Hari Lubis Sorot Potensi Perubahan Sikap dr Tifa di Kasus Ijazah Jokowi