Komet 3I/Atlas Bukan Pesawat Alien, BRIN Ungkap Fakta Menariknya
Komet 3I/Atlas menjadi viral di media sosial setelah disebut-sebut sebagai "kapal induk alien". Klaim ini muncul karena komet tersebut sempat memancarkan sinyal tidak biasa saat pertama kali terdeteksi.
Penjelasan BRIN: Tidak Ada Dasar Ilmiah
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Profesor Thomas Djamaluddin menepis spekulasi tersebut. Beliau menegaskan bahwa tidak ada dasar ilmiah untuk menyebut Komet 3I/Atlas sebagai pesawat alien. "Astronom tidak akan berspekulasi di luar hasil observasi ilmiah. Tidak ada alasan untuk menduganya sebagai pesawat alien," jelasnya.
Fakta Menarik Komet 3I/Atlas
BRIN mengungkap sejumlah fakta ilmiah menarik tentang komet yang menggemparkan ini:
Asal Usul dan Usia Tua
Komet 3I/Atlas adalah objek antarbintang (interstellar object) yang berasal dari luar tata surya kita. Yang lebih menakjubkan, usianya diperkirakan mencapai 7 miliar tahun, jauh lebih tua dari tata surya kita yang berusia 4,5 miliar tahun.
Arti Nama 3I/Atlas
Penamaannya mengikuti standar internasional. Angka "3" menandakan ia adalah objek antarbintang ketiga yang ditemukan, huruf "I" adalah singkatan dari "interstellar", dan "Atlas" adalah nama teleskop yang pertama kali mengamatinya.
Ukuran dan Kecepatan Luar Biasa
Komet ini memiliki kecepatan luar biasa, yakni sekitar 215.000 kilometer per jam. Ukuran intinya diperkirakan berdiameter 25.000 kilometer atau dua kali lipat diameter Bumi. Kepala komet yang terdiri dari gas CO₂ bahkan bisa membentang hingga 700.000 kilometer, setara lima kali diameter planet Jupiter.
Orbit Hiperbola dan Lintasan Sekali Seumur Hidup
Berbeda dengan komet pada umumnya yang orbitnya elips, Komet 3I/Atlas memiliki orbit hiperbola. Ini artinya, ia hanya akan melintasi tata surya kita satu kali saja dan tidak akan pernah kembali.
Kapan Bisa Dilihat dari Indonesia?
Bagi yang penasaran dan ingin menyaksikannya, Komet 3I/Atlas diperkirakan dapat diamati dari Indonesia pada Desember 2025. Pada bulan Oktober dan November, posisinya terlalu dekat dengan matahari sehingga sulit terlihat. "Desember baru bisa diamati lagi, lalu kemudian meredup dan tak terlihat lagi karena menjauh," pungkas Thomas Djamaluddin.
Fenomena ini menyoroti pentingnya literasi sains dan klarifikasi dari lembaga resmi seperti BRIN untuk meluruskan informasi yang menyesatkan di media sosial.
Artikel Terkait