Menkominfo: Generasi Muda Wajib Kuasai Teknologi dengan Etika dan Empati di Era AI

- Selasa, 04 November 2025 | 13:20 WIB
Menkominfo: Generasi Muda Wajib Kuasai Teknologi dengan Etika dan Empati di Era AI
Menkominfo Ingatkan Generasi Muda Jaga Etika dan Nilai Kemanusiaan dalam Penggunaan Teknologi

Menkominfo: Generasi Muda Harus Manfaatkan Teknologi dengan Etika dan Empati

Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Meutya Hafid mengajak generasi muda Indonesia untuk melek teknologi sekaligus menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, empati, dan etika. Seruan ini disampaikan menyusul perkembangan kecerdasan buatan (AI) yang begitu pesat dan berdampak luas pada masyarakat.

Meutya Hafid menjelaskan bahwa kecepatan inovasi AI berpotensi membawa transformasi besar dalam berbagai sektor kehidupan. Namun, menurutnya, kemajuan teknologi ini wajib diiringi dengan komitmen untuk menjaga moralitas dalam proses digitalisasi.

"Saya ingin mengingatkan tentang nilai-nilai, dan saya rasa Bali menjadi tempat yang paling tepat untuk menyampaikan ini. Ketika teknologi secanggih dan secepat kecerdasan artifisial hadir, kita harus menjaga agar tidak kehilangan arah moral," ujar Meutya dalam sebuah keterangan resmi.

Menkominfo menegaskan posisi manusia harus tetap sebagai pemimpin, bukan yang dikendalikan oleh sistem teknologi. Ia menambahkan, "Teknologi harus kita jalankan dengan berempati dan beretika. Teknologi diciptakan untuk membantu manusia, bukan menjadi penguasa atas manusia. Karena teknologinya pintar, maka kita juga harus lebih pintar. Kita harus terus meningkatkan kapasitas diri. Tidak berhenti belajar, beradaptasi, dan berinovasi."

Peluang dan Tantangan di Era Transformasi Digital

Di sisi lain, Menkominfo Meutya Hafid melihat gelombang transformasi digital membawa peluang besar bagi Indonesia. Peluang ini, kata dia, dapat diraih oleh generasi muda jika mereka mampu memaksimalkan kompetensi di industri digital.

"Potensi sebesar itu hanya bisa terwujud kalau anak muda terlibat aktif. Kalau kalian ikut membangun, maka masa depan kalian juga ikut naik," tuturnya.

Menyongsong tahun 2030, Meutya menyampaikan proyeksi tentang lapangan kerja. Diperkirakan akan lahir 170 juta pekerjaan baru, sementara 92 juta pekerjaan lama akan tergantikan oleh otomatisasi. Oleh karena itu, ia mendorong para lulusan universitas untuk tidak takut menghadapi perkembangan teknologi di masa depan.

"Akan ada pekerjaan yang hilang, iya. Tapi ada lebih banyak pekerjaan baru yang tercipta. Jangan takut pada AI. Kita harus adaptif dan mampu membaca peluang," pungkas Meutya Hafid.

Editor: Laras Wulandari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar