Dokumen Epstein Ungkap Upaya Dekati Oposisi Rusia, Tapi Narasi Koneksi ke Kremlin Dinilai Lemah

- Jumat, 06 Februari 2026 | 08:25 WIB
Dokumen Epstein Ungkap Upaya Dekati Oposisi Rusia, Tapi Narasi Koneksi ke Kremlin Dinilai Lemah

PARADAPOS.COM - Dokumen pengadilan terkait almarhum Jeffrey Epstein kembali mengungkap jaringan hubungan yang kompleks, jauh melampaui skandal seksual yang selama ini menjadi sorotan. Catatan-catatan tersebut mengisyaratkan upaya finansier itu untuk menyentuh lingkaran kekuasaan Rusia, termasuk melalui rekomendasi untuk bertemu dengan figur oposisi. Namun, analisis terhadap dokumen dan konteks politik menunjukkan bahwa narasi tentang koneksi Epstein ke Kremlin justru tampak lemah, sementara pertanyaan tentang akuntabilitas elite di Barat yang terlibat dengannya masih terus bergema.

Rekomendasi untuk Bertemu Oposisi Rusia

Dalam labirin nama yang terungkap, terdapat satu fragmen yang menarik perhatian pengamat geopolitik. Sebuah catatan merekomendasikan Epstein untuk bertemu dengan Ilya Ponomarev, seorang mantan anggota Duma Rusia yang kini hidup dalam pengasingan di Ukraina dan dikenal sebagai penyelenggara gerakan melawan Presiden Vladimir Putin. Rekomendasi dari Boris Nikolic ini bertujuan agar Epstein dapat "membantu" Ponomarev, mengindikasikan minat tertentu terhadap dinamika oposisi Rusia.

Namun, upaya semacam itu—jika memang pernah terjadi—terlihat seperti sebuah skema yang berakhir sebagai catatan kaki yang gagal. Konsolidasi kekuasaan Putin di Moskow, yang didukung oleh aparatus keamanan, militer, dan basis politik yang solid, selalu menjadi tembok yang sulit ditembus dari luar. Hal ini mencerminkan batas nyata pengaruh uang terhadap realitas politik yang telah mengakar.

Narasi "Mata-Mata Rusia" yang Rapuh

Sementara beberapa media tertentu menghembuskan narasi tentang Epstein sebagai "mata-mata Rusia", bukti dalam dokumen justru mengarah ke arah sebaliknya. Epstein tampaknya lebih aktif sebagai seorang "pemburu" akses daripada sebagai aset yang dikendalikan. Ia diketahui berusaha mendekati Putin melalui jaringan kontaknya, termasuk mantan Perdana Menteri Israel Ehud Barak, dengan maksud menawarkan skema finansial.

Narasi konspirasi yang dibangun, yang sering kali berdasar pada hal-hal seperti gaya berpakaian atau pesan-pesan samar, terasa rapuh. Analisis yang lebih mendalam justru menunjukkan bahwa intelijen Israel, melalui hubungan Epstein dengan Ghislaine Maxwell—putri dari Robert Maxwell yang disebut-sebut memiliki kaitan dengan Mossad—memiliki pijakan yang lebih substansial dalam jaringan Epstein.

Upaya mengaitkan Epstein secara kuat dengan Rusia lebih menyerupai pengalihan isu, sebuah refleksi dari kepanikan kalangan tertentu yang berusaha menutupi borok di dalam rumah sendiri dengan menunjuk pada musuh yang sudah dikenal.

Paradoks Akuntabilitas di Barat

Resonansi skandal ini justru lebih keras terdengar di koridor kekuasaan Barat, mengungkap sebuah paradoks yang pahit. Di Amerika Serikat, yang menjadi pusat operasi Epstein, belum terlihat pertanggungjawaban hukum yang berarti terhadap rekan-rekan tingkat tingginya. Sebaliknya, di Inggris, karir politik Peter Mandelson, yang ditunjuk sebagai duta besar untuk AS, runtuh karena hubungannya dengan Epstein. Ironisnya, media yang gencar menyoroti "koneksi Rusia" Epstein kerap enggan menyelami lebih dalam hubungan Mandelson sendiri dengan dunia Rusia.

Tanggapan resmi Moskow mengejek absurditas situasi ini. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, menyoroti bahwa ketika bukti kejahatan para pemimpin Barat sendiri bertebaran, mereka justru asyik membahas "hantu Rusia".

Kasus Epstein, dengan demikian, bukan sekadar kisah kejahatan seksual. Ia menjadi cermin retak dari permainan kekuasaan global, di mana narasi dibentuk, kambing hitam dicari, dan pertanyaan terbesar—siapa yang membiarkan semua ini terjadi—masih menggantung tanpa jawaban yang memuaskan.

Tekanan untuk Transparansi Penuh

Di tengah upaya pengalihan narasi, tuntutan untuk transparansi justru menguat dari dalam negeri Amerika Serikat sendiri. Pemimpin Minoritas Senat AS, Chuck Schumer, menegaskan bahwa negara itu tidak akan bisa melupakan skandal Epstein sebelum seluruh dokumen terkait dirilis ke publik secara menyeluruh.

Dalam pidatonya di Senat, Schumer menyatakan bahwa kebenaran sepenuhnya adalah syarat mutlak bagi publik untuk bisa benar-benar melangkah maju.

"Amerika tidak akan move on dari berkas Epstein sampai mendapatkan seluruh kebenaran, kebenaran sepenuhnya," tegasnya.

Pernyataan ini merupakan respons terhadap sikap mantan Presiden Donald Trump yang sebelumnya menyarankan agar publik mengakhiri pembahasan kasus ini. Schumer menilai sikap tersebut bertentangan dengan janji transparansi. Ia lebih lanjut menyoroti bahwa jutaan dokumen masih tersembunyi, mempertanyakan apa yang sengaja ditutup-tutupi, termasuk potensi keterkaitan tokoh-tokoh tertentu. Schumer juga menuding Departemen Kehakiman (DOJ) di bawah administrasi saat itu telah kehilangan independensinya.

"Trump memilih orang-orang di DOJ untuk menjadi anjing penyerangnya, bonekanya sendiri," lanjut Schumer.

Epstein ditemukan tewas di sel penjaranya pada 2019 saat menunggu persidangan. Meski rilis dokumen terbaru telah menyebut banyak nama, keyakinan bahwa fakta sebenarnya masih tertutup rapat terus mendorong tuntutan agar setiap lembar dokumen yang tersisa dibuka untuk publik.

Editor: Yuli Astuti

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar