Saif al-Islam Gaddafi Tewas Ditembak di Zintan, Libya
PARADAPOS.COM – Saif al-Islam Gaddafi, putra mendiang pemimpin Libya Muammar Gaddafi, dilaporkan tewas dalam sebuah serangan. Menurut laporan media Al Arabiya, pria berusia 53 tahun itu menjadi target penembakan oleh empat orang penyerang.
Kronologi Penembakan Saif al-Islam Gaddafi
Insiden yang merenggut nyawa Saif al-Islam terjadi di kota Zintan, sekitar 136 kilometer barat daya Tripoli, pada Selasa malam. Sebuah sumber dekat keluarga Gaddafi menyebutkan, para penyerang menembaknya di taman kediamannya.
“Para penembak dinonaktifkan kamera keamanan terlebih dahulu sebelum melakukan penyerangan dan melarikan diri,” ujar sumber tersebut. Saif al-Islam Gaddafi dikabarkan tewas sekitar pukul 02.30 waktu setempat setelah terjadi konfrontasi.
Salah satu rekan dekatnya, Abdullah Othman, mengonfirmasi kematian ini melalui unggahan di Facebook dan menyebut kejadian ini sebagai sebuah “pembunuhan”.
Profil dan Peran Politik Saif al-Islam Gaddafi
Saif al-Islam tetap menjadi tokoh politik terkemuka di Libya pasca-runtuhnya rezim ayahnya pada 2011. Sebelumnya, ia dianggap sebagai sosok paling berpengaruh di negara kaya minyak itu.
Berpendidikan London School of Economics dan fasih berbahasa Inggris, Saif al-Islam awalnya dipandang sebagai wajah reformis Libya yang dapat diterima Barat. Ia terlibat dalam misi diplomatik sensitif, termasuk pembicaraan senjata pemusnah massal dan kompensasi untuk korban pengeboman Lockerbie.
Dari Tahanan ke Calon Presiden
Setelah revolusi 2011, Saif al-Islam ditangkap dan ditahan selama enam tahun di Zintan. Pada 2015, ia bahkan dijatuhi hukuman mati in absentia oleh pengadilan di Tripoli atas tuduhan kejahatan perang.
Ia dibebaskan pada 2017 dan sempat muncul kembali di panggung politik dengan mendaftar sebagai calon presiden pada 2021. Pencalonannya memicu kontroversi dan menjadi salah satu pemicu kebuntuan politik Libya, sebelum akhirnya didiskualifikasi.
Warisan dan Akhir Hidup yang Tragis
Kematian Saif al-Islam Gaddafi menutup babak lain dari dinasti Gaddafi yang pernah berkuasa selama empat dekade. Ia tewas di kota yang sama tempatnya pernah ditahan, mengakhiri hidupnya yang penuh liku dari kehidupan mewah, menjadi tahanan, hingga target pembunuhan.
Hingga berita ini diturunkan, detail dan motif di balik penembakan ini masih dalam investigasi. Kematiannya diperkirakan akan berdampak signifikan pada lanskap politik Libya yang sudah terfragmentasi.
Artikel Terkait
Dokumen Epstein Ungkap Klaim Palsu Soal Kematian Biden, Ahli Kategorikan Disinformasi
Lavrov Sebut Kasus Epstein Cermin Kemerosotan Moral Elite Barat
Dokumen Kejaksaan AS Sebut Kematian Epstein Sehari Sebelum Ditemukan Tewas
Iran Tegas Tolak Permintaan AS Hentikan Pengayaan Uranium