Uya Kuya Ditelepon dan Dimarahi Jenderal Gara-Gara Video Hoaks Gaji DPR
Presenter dan pelawak ternama, Uya Kuya, baru-baru ini membongkar pengalaman pahitnya menjadi korban disinformasi. Ia mengungkapkan bahwa seorang jenderal pun sampai termakan berita hoaks yang menyeret namanya.
Kisah ini bermula dari video hoaks yang menyebar luas, yang diklaim menampilkan Uya Kuya sedang merayakan kenaikan gaji anggota DPR RI. Video palsu ini memicu gelombang hujatan besar-besaran terhadap dirinya.
Telepon Mengejutkan dari Seorang Jenderal
Di puncak kontroversi, Uya menerima telepon mengejutkan dari seorang rekan yang berpangkat jenderal. Dalam channel YouTube Curhat Bang Denny Sumargo, Senin, 3 November 2025, Uya bercerita, sang jenderal langsung memarahinya karena dianggap membuat pernyataan yang merendahkan masyarakat.
"Dia nelpon gue, tapi bagus dia nelpon. 'Uya, gimana itu? Kamu kok ngomong begitu, ngomong 3 juta itu kecil. Kamu tuh jangan ngeledek gitu dong. Itu bahaya tuh, jadi rame begini'," kata Uya, menirukan ucapan sang jenderal.
Klarifikasi Uya Kuya yang Akhirnya Meluruskan Fakta
Menghadapi kemarahan sang jenderal, Uya Kuya tidak langsung membalas. Dengan tenang, ia memberikan klarifikasi dan penjelasan bahwa video yang beredar adalah hasil edit yang tidak bertanggung jawab.
Uya pun menunjukkan bukti-bukti video asli yang sebenarnya. Setelah menyaksikan fakta yang sebenarnya, sang jenderal langsung menyadari kesalahpahamannya.
Momen Permintaan Maaf Sang Jenderal
Menyadari telah terjebak hoaks, rekan Uya yang berpangkat jenderal itu spontan meminta maaf. Uya kembali menirukan ucapan sang jenderal, "Astagfirullahaladzim. Maaf, maaf, maaf, saya salah paham."
Kejadian ini menjadi bukti nyata betapa bahayanya penyebaran hoaks dan disinformasi. Bahkan seorang jenderal yang notabene memiliki akses informasi yang luas pun bisa menjadi korban, yang berujung pada kesalahpahaman dan konflik yang tidak perlu.
Cerita Uya Kuya ini menjadi pengingat penting bagi kita semua untuk selalu bersikap kritis dan mengecek kebenaran informasi sebelum mempercayai dan menyebarkannya lebih lanjut.
Artikel Terkait
Dokumen Bocor Ungkap Alokasi Dana Soros Rp28 Triliun untuk Program Demokrasi di Indonesia
Pengamat Pertanyakan Implikasi Restorative Justice Rismon Sianipar terhadap Kasus Ijazah Palsu
BGN Bekukan Dua Dapur Makan Bergizi Gratis di Ponorogo Diduga Manipulasi Anggaran
MK Beri Tenggat Dua Tahun untuk Revisi UU Tunjangan Pensiun Pejabat Negara