Indonesia Stop Impor Solar 2026: Dampak, Target, dan Akhir Antrean Panjang di SPBU

- Rabu, 14 Januari 2026 | 02:25 WIB
Indonesia Stop Impor Solar 2026: Dampak, Target, dan Akhir Antrean Panjang di SPBU
Indonesia Stop Impor Solar 2026: Akhir Antrean Truk di SPBU? | Analisis Lengkap

Indonesia Stop Impor Solar 2026: Akhir Antrean Truk di SPBU?

Oleh: Rosadi Jamani

Pernah merasa risau melihat antrean truk kontainer dan tronton yang memanjang di SPBU? Pemandangan yang mengganggu lalu lintas di tengah kota ini diprediksi segera berakhir. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menegaskan komitmen pemerintah: Indonesia akan stop impor solar pada tahun 2026.

Era Baru Kedaulatan Energi: Stop Ketergantungan Impor

Pemerintahan Prabowo Subianto menunjukkan sinyal kuat untuk mengurangi ketergantungan impor. Setelah komitmen di sektor beras, kini giliran sektor energi yang digarap. Pernyataan Menteri Bahlil untuk menghentikan impor solar bukan sekadar wacana, melainkan sinyal keras yang akan mengubah landscape energi nasional dan mengakhiri era kelangkaan serta praktik calo solar.

Kunci Utama: RDMP Kilang Balikpapan Senilai Rp126 Triliun

Janji stop impor solar ini berdasar pada proyek strategis nasional, yaitu Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan. Kilang yang diresmikan pada 12 Januari 2026 ini merupakan game changer dengan investasi mencapai Rp123-126 triliun.

Kapasitas pengolahan kilang melonjak dari 260 ribu menjadi 360 ribu barel per hari, mencukupi sekitar seperempat kebutuhan BBM nasional. Yang terpenting, kilang ini akan memproduksi solar dan BBM lainnya dengan standar kualitas Euro V.

Dampak Positif: Surplus Solar dan Penghematan Devasa

Keberadaan RDMP Balikpapan diproyeksikan menciptakan surplus solar hingga 4 juta kiloliter pada 2026. Dari sisi keuangan, negara berpotensi menghemat devisa yang selama ini bocor untuk impor solar sebesar 3-4 miliar dolar AS per tahun. Penghematan dan penguatan neraca perdagangan ini bisa mencapai Rp95 hingga Rp115 triliun per tahun.

Trend Impor Solar Menuju Nol

Data impor solar menunjukkan penurunan signifikan menuju target nol impor:

  • Tahun 2024: 8,3 juta ton
  • Tahun 2025: Turun menjadi sekitar 5 juta ton (dibantu program biodiesel)
  • Januari–Oktober 2025: 4,01 juta ton
  • Tahun 2026: Target NOL impor solar

Apa Artinya Bagi Masyarakat dan Pengendara?

Dampak paling terasa langsung adalah:

  • Antrean panjang truk di SPBU akan berkurang drastis karena ketersediaan solar tercukupi.
  • Stabilitas pasokan untuk sektor vital seperti transportasi logistik, pertanian, dan perikanan.
  • Mengurangi tekanan pada APBN karena beban subsidi bisa lebih terkontrol.
Tentu, efektivitas kebijakan ini perlu didukung oleh sistem distribusi yang merata dan pengawasan ketat terhadap penyaluran subsidi.

Langkah Selanjutnya: Stop Impor Bensin pada 2029

Stop impor solar adalah babak pertama. Pemerintah menargetkan langkah lebih besar, yaitu menghentikan impor bensin pada tahun 2029. Jika tercapai, potensi penghematan devisa bisa mencapai Rp250 triliun per tahun.

Dukungan Biodiesel Sawit (B40)

Program Biodiesel B40 yang telah berjalan sejak 2025 turut mempercepat penurunan impor solar. Program ini tidak hanya menghemat devisa tetapi juga meningkatkan serapan minyak sawit domestik, mendukung kesejahteraan petani dan ekonomi hijau.

Kesimpulan: Menuju Kemandirian Energi

Kebijakan stop impor solar 2026 adalah pernyataan politik yang tegas tentang kedaulatan energi. Dengan beroperasinya RDMP Balikpapan dan dukungan program biodiesel, ketergantungan pada pasokan luar negeri akan terputus. Masyarakat dapat berharap SPBU kembali berfungsi sebagai tempat pengisian bahan bakar yang lancar, bukan lokasi uji kesabaran.

Ini adalah fondasi menuju kemandirian energi Indonesia yang lebih kuat dan berkelanjutan.

(Ketua Satupena Kalbar)

Editor: Wahyu Pradana

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar