PARADAPOS.COM - Amerika Serikat belum mencabut blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, meskipun Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengklaim sebaliknya. Pernyataan itu disampaikan oleh Mohsen Rezaei, penasihat Pemimpin Tertinggi Iran, pada Sabtu (30/5/2026). Klaim Trump yang menyebut blokade akan dicabut langsung dibantah oleh Teheran, menambah ketegangan dalam hubungan kedua negara yang sudah memanas sejak serangan militer pada akhir Februari lalu.
Klaim Trump dan Bantahan dari Teheran
Pada Jumat (29/5/2026), Trump menulis di media sosial bahwa blokade laut AS terhadap Iran "sekarang akan dicabut." Namun, pernyataan itu langsung mendapat respons keras dari kubu Iran. Rezaei menegaskan bahwa hingga saat ini blokade masih berlangsung dan tidak ada perubahan di lapangan.
Ia menambahkan bahwa dirinya akan membuat "keputusan akhir" dalam pertemuan di Situation Room Gedung Putih. "Seperti yang sudah diperkirakan, presiden AS telah mengkhianati diplomasi untuk ketiga kalinya. Dengan melanjutkan blokade laut dan mengajukan tuntutan berlebihan dalam perundingan, ia sekali lagi membuktikan bahwa dirinya bukan pendukung dialog, tetapi memiliki tujuan lain," ujar Rezaei di platform X.
Kronologi Ketegangan AS-Iran
Ketegangan antara Washington dan Teheran mencapai puncaknya pada 28 Februari lalu, ketika AS bersama Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran. Serangan itu dilaporkan menimbulkan kerusakan infrastruktur dan menewaskan warga sipil.
Pada 7 April, kedua pihak sepakat untuk mengumumkan gencatan senjata selama dua pekan. Namun, harapan untuk meredakan konflik pupus setelah pembicaraan lanjutan yang digelar di Islamabad berakhir tanpa kesepakatan. AS kemudian mengambil langkah lebih tegas dengan memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Implikasi Blokade dan Diplomasi yang Mandek
Blokade laut yang masih berlangsung ini membuat akses perdagangan Iran melalui jalur laut semakin terbatas. Situasi ini memperburuk kondisi ekonomi negara yang sudah tertekan oleh sanksi internasional sebelumnya. Dari sudut pandang pengamat di lapangan, langkah AS yang terus mempertahankan blokade sembari mengklaim akan mencabutnya justru memperlihatkan inkonsistensi dalam kebijakan luar negeri Washington.
Rezaei, yang dikenal sebagai figur garis keras dalam politik Iran, menekankan bahwa tindakan Trump membuktikan bahwa AS tidak benar-benar menginginkan dialog. Pernyataan ini memperkuat kecurigaan di kalangan analis bahwa tujuan sebenarnya Washington bukanlah negosiasi, melainkan tekanan maksimal terhadap Iran.
Hingga berita ini ditulis, belum ada pernyataan resmi lebih lanjut dari Gedung Putih mengenai perkembangan blokade tersebut. Sementara itu, situasi di kawasan Teluk masih dipantau ketat oleh berbagai pihak, mengingat potensi eskalasi yang bisa meluas ke negara-negara tetangga.
Editor: Yuli Astuti
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
108 Perwira Polri Dimutasi, Tiga Perwira Digeser ke Divisi Hukum
Pekan Ini: Daftar 95 Pinjol Resmi OJK, Wamenkeu Bantah Risiko Krisis 1998, hingga Perpanjangan WFH Tekan BBM 9%
Pasutri Pemilik Wedding Officer di Jakarta Timur Ditetapkan sebagai Tersangka Penipuan Puluhan Calon Pengantin
63 Jenazah PMI Asal NTT Dipulangkan Sepanjang 2026, Mayoritas Pekerja Ilegal