PARADAPOS.COM - Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Perguruan Tinggi Muhammadiyah Aisyiah (PTMA) Zona III menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung Bundar Jampidsus Kejaksaan Agung, Jakarta Selatan, pada Senin, 20 Juli 2026. Aksi yang awalnya berlangsung tertib ini sempat memanas ketika demonstran berusaha menerobos barikade, memicu saling dorong dengan aparat kepolisian. Dalam orasinya, massa mendesak pengadilan terhadap mantan Jampidsus Febrie Adriansyah dan menuntut pemberantasan korupsi yang lebih transparan.
Ketegangan di Depan Gerbang Kejagung
Suasana di sekitar kompleks Kejaksaan Agung pagi itu terasa berbeda. Para mahasiswa mulai berdatangan sejak pukul 09.00 WIB, membawa spanduk dan poster yang berisi kritik tajam terhadap penegakan hukum di Indonesia. Mereka berkumpul di depan Gedung Bundar, markas Jampidsus, dengan mobil komando sebagai pusat orasi.
Kericuhan tak terhindarkan ketika sekelompok massa mencoba mendekati pintu gerbang utama. Aparat kepolisian yang berjaga langsung membentuk barikade dan meminta demonstran untuk mundur. Imbauan itu tidak diindahkan. Terjadilah aksi saling dorong yang berlangsung beberapa menit. Sejumlah prajurit TNI yang turut berjaga dengan perlengkapan pengamanan lengkap, termasuk tameng, tampak waspada mengamati situasi.
Orasi dan Tuntutan yang Menggema
Setelah ketegangan mereda, situasi perlahan kembali kondusif. Para demonstran kembali berkumpul di titik awal dan melanjutkan orasi. Suara lantang dari pengeras suara menggema di area depan gedung. Mereka menyuarakan keprihatinan terhadap berbagai kontroversi penegakan hukum yang dinilai mandul.
Salah satu momen yang paling menyita perhatian adalah ketika orator menyebut nama mantan Jampidsus Febrie Adriansyah. Dari atas mobil komando, seorang mahasiswa berteriak lantang:
"Ada banyak kasus korupsi di negeri ini namun penguasa tutup mata. Adili Febrie sang koruptor."
Seruan itu disambut gemuruh tepuk tangan dan yel-yel dari massa yang hadir. Mereka menilai bahwa korupsi bukan sekadar kejahatan biasa, melainkan ancaman serius bagi masa depan bangsa. Dampaknya, menurut mereka, langsung terasa pada buruknya pelayanan publik dan lunturnya kepercayaan masyarakat terhadap negara.
Peran Mahasiswa dalam Mengawal Hukum
Dalam aksi yang berlangsung hingga siang hari itu, para mahasiswa juga menyoroti sulitnya upaya pemberantasan korupsi di Indonesia. Mereka menilai masih banyak kasus besar yang tidak tersentuh hukum secara tuntas. Kontroversi demi kontroversi dalam proses penegakan hukum dinilai semakin mengikis kredibilitas aparat.
Mereka menekankan pentingnya peran mahasiswa dan masyarakat sipil sebagai pengawas. Tanpa tekanan publik, kata mereka, proses hukum bisa berjalan lambat atau bahkan mandek. Aksi ini, bagi para demonstran, adalah bentuk tanggung jawab moral untuk mengawal supremasi hukum.
Seorang koordinator lapangan yang enggan disebutkan namanya menambahkan, demonstrasi ini bukan sekadar ajang meluapkan emosi. Lebih dari itu, ini adalah upaya untuk mengingatkan para penegak hukum agar bertindak tegas terhadap siapa pun yang diduga terlibat tindak pidana korupsi, tanpa pandang bulu.
Editor: Andri Setiawan
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Tenaga Ahli Utama KSP Ulta Nababan Jadi Sorotan Usai Samakan Almamater UI dengan Daster
Ledakan Pipa Gas di Medan Robohkan Bangunan, Satu Tewas dan Dua Masih Tertimbun
Ledakan Gas Bawah Tanah Hancurkan Rumah Mewah di Medan, Empat Orang Terjebak Reruntuhan
Komisi I DPR Minta DJP Perjelas Batasan Tugas Babinsa dan Bhabinkamtibmas dalam Pengawasan Pajak