PARADAPOS.COM - Kabar yang menyebut Jawa Timur akan dilanda kerusuhan massal tengah menjadi perbincangan hangat di media sosial. Kapolda Jawa Timur, Irjen Pol. Nanang Avianto, angkat bicara dan memastikan bahwa informasi tersebut adalah hoaks. Penegasan ini disampaikan di tengah meningkatnya keresahan publik yang dipicu oleh narasi yang mengaitkan aktivitas pengamanan rutin aparat dengan situasi politik di luar negeri. Hingga saat ini, situasi keamanan di seluruh wilayah Jawa Timur dilaporkan tetap aman dan kondusif.
Pernyataan tegas tersebut disampaikan Nanang saat membuka Dialog Kebangsaan di Surabaya, Selasa (4/8/2026). Ia menggarisbawahi bahwa tidak ada satu pun indikasi di lapangan yang membenarkan isu yang beredar. Narasi yang berkembang disebutnya sebagai hasil pelintiran informasi oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.
Klaim Hoaks dan Fakta di Lapangan
Menurut Nanang, isu ini bermula dari kesalahpahaman dalam menafsirkan aktivitas rutin kepolisian. Kegiatan seperti pemeliharaan gedung pemerintahan hingga peningkatan pengamanan di sejumlah fasilitas umum, kemudian dikait-kaitkan dengan konflik yang terjadi di negara lain. Akibatnya, persepsi yang keliru pun terbentuk di tengah masyarakat.
"Saya sampaikan secara terbuka, berdasarkan fakta di lapangan tidak ada satu pun indikasi yang membenarkan narasi itu. Tidak ada ancaman kerusuhan di Jawa Timur," kata Nanang.
Ia menegaskan bahwa seluruh rangkaian kegiatan aparat merupakan prosedur standar untuk menjaga keamanan, bukan sebagai respons atas ancaman tertentu. Pihaknya juga telah melakukan pengecekan menyeluruh ke berbagai wilayah dan memastikan situasi tetap normal.
Ancaman Disinformasi di Ruang Digital
Dalam kesempatan yang sama, Nanang menyoroti bahaya derasnya arus informasi di era digital. Dialog Kebangsaan yang mengangkat tema "Merawat Bhinneka Tunggal Ika di Tengah Polarisasi Ruang Digital" ini menjadi momen untuk mengingatkan publik tentang ancaman disinformasi.
Menurutnya, algoritma platform digital kerap kali mempercepat penyebaran hoaks dan ujaran kebencian. Hal ini, lanjutnya, berpotensi memicu perpecahan jika tidak disikapi dengan bijak oleh para pengguna media sosial.
Polda Jatim sendiri menyatakan kesiapannya untuk mengawal seluruh aktivitas masyarakat. Pihaknya berkomitmen memastikan setiap perbedaan pandangan yang muncul tidak berkembang menjadi konflik di lapangan.
"Polri siap memastikan perbedaan pilihan diselesaikan di meja musyawarah dan tidak merugikan masyarakat luas," ujarnya.
Imbauan untuk Masyarakat
Nanang mengimbau masyarakat untuk tidak mudah percaya pada informasi yang beredar di media sosial tanpa melakukan verifikasi terlebih dahulu. Ia meminta warga lebih cermat dalam menyaring setiap informasi agar tidak turut serta menjadi bagian dari penyebaran provokasi.
Di sisi lain, penguatan nilai-nilai Pancasila dan semangat "Jogo Jatim" dinilai perlu terus digelorakan. Hal ini terutama ditujukan kepada generasi muda yang merupakan kelompok paling aktif dalam mengakses informasi digital. Langkah ini diharapkan mampu menjaga ruang digital tetap sehat sekaligus memperkuat persatuan masyarakat Jawa Timur.
Artikel Terkait
Tiga Situs Penyedia Nada Dering dengan Koleksi Lokal hingga Internasional, Mana yang Paling Cocok?
Diskusi Bandung Belum Beres Soroti Lemahnya Implementasi Kebijakan dan Tata Kelola Kota
Penembakan KKB di Tolikara Tewaskan 5 Pekerja Proyek Jalan, 5 Lainnya Luka
Pemerintah Buka 8.100 Kursi untuk Publik di Upacara 17 Agustus di Istana Merdeka