PARADAPOS.COM - Publik dihebohkan oleh unggahan viral seorang pasien BPJS bernama Yurizal Tri Chaerawan yang mengeluhkan antrean panjang di rumah sakit, hingga akhirnya berpulang pada 31 Juli 2026. Perhatian publik pun bergeser pada komentar pedas dari akun yang diduga milik dokter bernama Benny Christian Sihombing, yang dinilai kurang empati. Setelah kabar duka tersebut menyebar, seorang dokter lain, Elda Putri Rahardini, justru muncul ke permukaan dan menyampaikan permintaan maaf publik atas komentar sinisnya yang sempat ia tuliskan di media sosial.
Peristiwa ini bermula dari curahan hati Yurizal di akun Threads pribadinya pada 22 Juli 2026. Dalam unggahan yang kemudian menjadi viral itu, ia mengaku harus menunggu hingga delapan jam lamanya hanya untuk mendapatkan ruang perawatan. "8 jam blm dpt ruangan. Gamau spill RS nya, soalnya gue pake BPJS," tulis Yurizal kala itu.
Unggahan tersebut sontak menuai beragam respons. Salah satunya datang dari akun @bennychrstn pada 23 Juli 2026, yang kemudian dikaitkan dengan sosok Dokter Benny Christian Sihombing. Dalam komentarnya, akun tersebut menanggapi keluhan Yurizal dengan nada yang dianggap sebagian orang kurang pantas, terutama karena ia menyebut kondisi penuh di rumah sakit tidak ada hubungannya dengan status pasien BPJS atau non-BPJS.
"Kalo full, mau dipindahkan kemana? mau di lantai? Gk ada hubungannya sama BPJS atau nggak. BPJS yg make banyak, otomatis yg dirawat juga banyak, ga cuma u sendiri," tulis akun tersebut.
Komentar itulah yang kemudian menjadi bola api di media sosial. Setelah kabar meninggalnya Yurizal mencuat, warganet mulai mencari tahu siapa pemilik akun @bennychrstn. Identitasnya pun akhirnya terkuak, dan publik terkejut mengetahui bahwa akun tersebut diduga milik seorang dokter yang merupakan alumni Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK UI).
Sorotan Publik dan Kritik Terhadap Tenaga Kesehatan
Kritik tajam pun bermunculan. Banyak warganet yang menilai bahwa seorang tenaga kesehatan, apa pun profesinya, seharusnya memiliki empati yang tinggi, terutama terhadap pasien yang sedang berada dalam kondisi sulit. Sebuah komentar bahkan menyebutkan bahwa ketikan yang tidak mencerminkan pendidikan tinggi justru datang dari seseorang yang berkecimpung di dunia kesehatan.
"Kaget pas cek utas-utas anda sebelumnya dan anda adalah nakes (dokter), tapi ketikan anda 'kalau mau pindah cepat, noh ruang jenazah selalu kosong' tidak mencerminkan orang yang berpendidikan tinggi dan berkecimpung di dunia kesehatan," tulis salah satu warganet dalam sebuah unggahan yang beredar.
Di tengah riuhnya perbincangan tentang Dokter Benny, nama lain justru muncul dan menarik perhatian. Elda Putri Rahardini, pemilik akun @erudarahaadini, secara terang-terangan menyampaikan permintaan maaf. Sebelumnya, ia juga sempat melontarkan komentar pedas di unggahan Yurizal. "Foto profilnya kayak orang punya tapi aslinya nggak punya, ya? Nggak punya sel otak," tulis Elda kala itu.
Permintaan Maaf di Tengah Duka
Setelah kabar duka Yurizal tersebar luas, Elda pun langsung mengakui kesalahannya. Dengan nada penyesalan yang mendalam, ia menyampaikan permintaan maaf secara terbuka. "Saya Elda Putri Rahardini, dengan penuh kesadaran, kerendahan hati, dan penyesalan yang mendalam, ingin menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada keluarga besar Almarhum Yurizal, teman-teman, kerabat, serta seluruh masyarakat luas," tulisnya dalam sebuah pernyataan.
Elda mengakui bahwa komentarnya tidak pantas, tidak etis, dan menunjukkan kurangnya empati terhadap kondisi yang sedang dialami Yurizal. "Saya menyadari bahwa tulisan saya telah melukai hati banyak pihak, terutama di tengah situasi sulit yang saat itu sedang dihadapi oleh Almarhum saat mencari penanganan medis," ujarnya.
Dalam pernyataannya, ia juga menegaskan bahwa sebagai seorang dokter dan tenaga kesehatan, dirinya seharusnya mengedepankan nilai kemanusiaan, kasih sayang, dan empati kepada siapa pun. "Saya sangat menyesali bahwa tindakan saya sama sekali tidak mencerminkan sumpah profesi kedokteran maupun etika dan moral yang seharusnya saya junjung tinggi, baik sebagai seorang individu, alumni institusi pendidikan, maupun penerima beasiswa LPDP," tulisnya.
Elda turut menyampaikan belasungkawa atas wafatnya Yurizal serta mendoakan agar almarhum mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan. Ia pun mengakui bahwa permintaan maaf yang disampaikannya tidak akan mampu menghapus luka dan kekecewaan yang telah ditimbulkan. Namun, ia berjanji akan menjadikan peristiwa tersebut sebagai pelajaran seumur hidup untuk menjadi pribadi dan tenaga medis yang lebih bijaksana, lebih berempati, serta menjaga tutur kata, baik di dunia nyata maupun di media sosial.
"Saya juga siap menerima segala bentuk kritik, teguran, serta konsekuensi atas kelalaian dan kesalahan saya ini. Sekali lagi, saya memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada keluarga, instansi tempat saya mengabdi, dan masyarakat luas atas kegaduhan dan luka yang telah saya perbuat," tutupnya.
Artikel Terkait
Polisi Tewas di Asrama Brimob Slipi, Kasus Dugaan Penganiayaan oleh Anggota TNI Dilimpahkan ke Polres Jakbar
Jenazah Mahasiswa Asal Lembata Sempat Tertinggal di Bandara Kupang Saat Transit, Lion Group Sebut Terjadi Miskomunikasi
Pelajar SMA di Banyuwangi Jadi Tersangka Kasus Video Syur Viral, Terancam 15 Tahun Penjara
Transjakarta Minta Maaf Usai Petugas Menurunkan Lansia Tunawisma dari Bus di Halte Kampung Melayu