Dokter Tifa Klaim Alami Penganiayaan hingga Upaya Pembunuhan, Janji Buka Suara dalam Konferensi Pers

- Senin, 10 Agustus 2026 | 13:00 WIB
Dokter Tifa Klaim Alami Penganiayaan hingga Upaya Pembunuhan, Janji Buka Suara dalam Konferensi Pers

PARADAPOS.COM - Dokter Tifauzia Tyassuma, yang akrab disapa Dokter Tifa, kembali menjadi sorotan publik setelah mengeluarkan pernyataan mengejutkan melalui akun media sosialnya. Dalam unggahan terbarunya, ia mengklaim telah mengalami serangkaian peristiwa tidak menyenangkan sepanjang Juni hingga Agustus 2026, mulai dari dugaan penganiayaan, penzaliman, hingga upaya pembunuhan dan penyitaan aset. Pernyataan ini muncul di tengah proses hukum yang masih berjalan terkait polemik ijazah Presiden ke-7 RI, Joko Widodo. Ia berjanji akan mengungkap seluruh detail persoalan tersebut dalam sebuah konferensi pers dalam waktu dekat.

Suasana di sekitar pemberitaan kali ini terasa berbeda. Jika sebelumnya publik disuguhkan pada perdebatan panjang soal keabsahan dokumen akademik, kini narasi yang diusung Tifa jauh lebih personal dan serius. Melalui akun X miliknya, pada Senin (10/8/2026), ia menuliskan pengalamannya yang disebutnya menimbulkan kerugian moril, materiil, lahir, hingga batin yang tak tertanggungkan. Namun, hingga berita ini diturunkan, Tifa belum memerinci lebih jauh peristiwa-peristiwa yang ia maksud.

“Sebenarnya dalam bulan Juni hingga Agustus 2026, selain penangkapan, penahanan, upaya pembunuhan, pendakwaan, dan upaya perampasan dan penyitaan aset tempat kediaman, juga terjadi penganiayaan dan penzaliman dengan kerugian moril, materiil, lahir, dan bathin, tak tertanggungkan pada saya yang belum saya ceritakan pada anda semua, para Netizen,” tulis Tifa dalam unggahannya.

“Minggu ini, jika diizinkan Allah, saya akan konferensi pers tentang hal tersebut,” sambungnya.

Menegaskan Sikap: Hijrah Bukan Lari dari Masalah

Sebelum klaim mengejutkan tersebut mencuat, Tifa sebenarnya telah membuat pernyataan yang tak kalah menarik perhatian. Ia menegaskan bahwa keputusannya untuk "hijrah" dari polemik ijazah Jokowi di ruang publik bukanlah bentuk menyerah. Pernyataan ini disampaikannya melalui kanal YouTube pribadinya, Dokter Tifa Channel, pada Jumat (7/8/2026). Dalam video tersebut, ia mencoba menjelaskan alasannya secara panjang lebar kepada para pendukungnya.

Menurut penuturannya, keputusan ini diambil setelah ia merasa perannya sebagai intelektual publik dan peneliti dalam kasus tersebut telah selesai. Ia mengaku telah meneliti persoalan ini sejak 2022 dan mengumpulkan berbagai bahan kajian. Hasil penelitiannya itu, kata dia, telah dituangkan dalam berbagai karya, termasuk buku yang ia sebut sebagai Jokowi White Paper serta buku tentang neuropolitik dan neuroscience behavior. Ia juga menyebut telah menerbitkan sejumlah jurnal internasional yang masih menunggu proses publikasi.

“Artinya, sebagai intelektual publik, sebagai ilmuwan, pekerjaan saya sudah selesai,” kata Tifa dalam video tersebut.

Meski menyatakan mundur dari perdebatan di ruang publik, ia menegaskan bahwa dirinya tidak akan meninggalkan proses hukum yang sedang berjalan. Baginya, pengalihan fokus ini justru merupakan cara untuk menjaga energi dan keahliannya agar tetap produktif pada isu-isu lain yang dinilainya penting bagi masyarakat.

Ruang Hukum untuk Terus Bicara

Tifa menegaskan bahwa proses hukum yang sedang dijalaninya bukanlah akhir dari segalanya. Sebaliknya, ia melihat forum persidangan sebagai ruang yang sah untuk menyampaikan hasil penelitian dan kajiannya mengenai polemik ijazah Jokowi. Ia menyebutkan bahwa sidang praperadilan telah dijadwalkan mulai 12 Agustus 2026. Menurutnya, jika proses hukum berlanjut ke tahap persidangan, forum tersebut akan menjadi tempatnya untuk menyampaikan pembelaan diri secara menyeluruh.

“Sidang demi sidang akan terus saya jalani dengan penuh ketelitian, dengan penuh ketekunan bersama 27 advokat saya,” ujarnya.

Ia pun kembali menegaskan bahwa keputusan untuk berhijrah tidak sama dengan melarikan diri dari persoalan. “Jadi itu jadi sahabat Dr. Tifa semuanya, Anda jangan salah paham seakan-akan saya ini mengambil langkah seribu, melarikan diri dari gelanggang menjadi seorang pengecut. Bukan,” katanya dengan tegas.

Langkah Berikutnya: Buku Kontroversi Vaksin

Di sela-sela proses hukum yang dijalaninya, Tifa rupanya telah menyiapkan agenda intelektual baru. Ia mengaku telah menyelesaikan sebuah buku berjudul Kontroversi Vaksin yang rencananya akan diluncurkan pada 17 Agustus 2026. Menurutnya, isu vaksin merupakan persoalan yang terus menjadi perhatian masyarakat dan membutuhkan kajian yang mendalam. Ia juga menyebut bahwa sejumlah pihak lain kini turut mengawal polemik ijazah Jokowi, sehingga ia merasa ada ruang untuk mengalihkan perhatiannya.

“Artinya apa ya, sidang demi sidang akan terus saya jalani ... dan di situlah saya masih ada ruang untuk bicara tentang ijazah,” ujar Tifa.

Di sisi lain, terkait klaim terbaru mengenai dugaan penganiayaan, penzaliman, upaya pembunuhan, serta upaya perampasan dan penyitaan aset, Tifa belum memaparkan rincian peristiwa maupun bukti yang mendasarinya. Ia hanya memastikan persoalan tersebut akan disampaikan kepada publik melalui konferensi pers yang disebutnya akan digelar pekan ini. Dengan demikian, rincian mengenai apa yang dimaksud Tifa, kapan peristiwa tersebut terjadi, siapa pihak yang disebut terlibat, serta langkah hukum yang akan ditempuh masih menunggu penjelasan lebih lanjut darinya.

Editor: Wahyu Pradana

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar